Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Adakah Capres Bebas Oligarki?

OLEH: SOEYANTO SOE*

Kamis, 24 November 2022, 22:00 WIB
Adakah Capres Bebas Oligarki?
Soeyanto Soe/Ist
MENJELANG pemilihan presiden, mulai lagi semarak para pendukung figur A, B, atau C memuji-muji jagoannya sebagai sosok yang pro-rakyat. Penentang penindasan, anti asing, pemberdayaan kaum miskin, anti KKN, dan bla bla bla. Rakyat mulai mabuk karena aroma yang dihembuskan ini senyatanya memang wangi. Pun apalagi bila figur itu dianggap mewakili "kaum suci".

Sesungguhnya adakah kandidat wangi pro-rakyat di era kapitalisme sekarang ini? Adakah kandidat yang mencerminkan karakter-karakter kenabian di zaman-zaman kegelapan? Adakah?

Ketika plutokrasi (kekuasaan korporasi/kapital) berkelindan dengan petinggi militer, berkolusi dengan kaum ningrat, membius para politisi, hampir tidak ada nafas di kehidupan politik kita yang bebas dari kendali mereka. Sekawanan kecil orang yang mengendalikan remote politik inilah yang disebut oligarki. Terlebih tatkala bicara tentang kekuasaan kepresidenan. Kekuasaan puncak sebuah negara. Oligarki menjelma sebagai tentakel untuk mengoptasi kekuasaan. Oligarki adalah sebuah keniscayaan di semua sistem kekuasaan. Bahkan dalam sistem perwakilan sekalipun. Kekuasaan kapital dan status yang mereka miliki memerlukan kenyamanan politik. Kestabilan politik diantara mereka.

Kalau sudah begini, adakah sosok calon presiden yang dapat bebas dari belenggu oligarki? Ketika dia bernegosiasi dukungan dengan partai politik pun, dia sudah berhadapan dengan elemen oligarki. Apalagi kalau dia sudah mematut-matut dirinya di hadapan donatur. Sehingga sungguh menggelikan jika ada orang yang memuliakan figur capres sebagai sosok yang bebas oligarki dan bermimpi dia akan amanah konsisten membela rakyat. Tidak.

Lupakah kita bagaimana pilpres 2014 begitu gempita akan janji-janji Jokowi? Lupakah kita bahwa dengan ekspresi kerakyatannya kita pernah bermimpi basah atas sosok Jokowi? Ya. Kita pernah begitu mabuk dengan sosok populis ini. Mabuk bahwa kedaulatan rakyat seolah bisa kita genggam seratus persen. Mabuk kalau dengan kekuasaannya Jokowi otomatis dapat mengelola kekayaan alam untuk mempersembahkan kesejahteraan instan bagi rakyat. Jokowi kita puji setinggi langit sebagai figur bebas ongkir oligarki. Jokowi adalah kita.

Tatkala Jokowi berkuasa, terwujudkah mimpi kita? Kemabukan yang nyaris memicu konflik horizontal di mana-mana itu akhirnya hanya menuai liur basi. Pendukung-pendukung Jokowi hanya memproduksi ulang aroma-aroma busuk dari mulut mereka. Sudah kepalang basah, mandi sekalian dalam kubangan. Yang penting masih bisa bergembira. Meracau untuk mengejek yang "bukan kita". Namun apakah ekonomi meroket itu tercapai? Apakah bebas intervensi asing itu terwujud? Apakah kemandirian nasional bisa tumbuh dan impor dapat ditekan? Tidak. Rakyat hanya sibuk bersambit lumpur adu cemong. Elite tetap aduhai, semerbak, licin, dan glowing. Siklus ini sebenarnya terus berulang pada tiap-tiap kali pilpres diadakan. Rakyat selalu lupa daratan dan elite-lah yang selalu meraih kemenangan.

Untuk pilpres 2024, sekarang ini lagi-lagi kita disuguhkan oleh sinetron yang sama. Para pemimpi terus mencari figur pemimpin yang pro-rakyat. Kata-katanya manis sedikit, kita sudah bersorak. Prestasinya ada sedikit-sedikit, kita sudah tepuk-tepuk tangan terbelalak. Secuil prestasi, sejumput prestasi, kita sudah mabuk. Kita tidak punya ukuran pemimpin yang baik itu seperti apa. Kita tidak punya kesadaran bahwa tugas pemimpin itu bekerja. Mereka dibayar untuk bekerja. Mereka semestinya dipaksa untuk bekerja keras untuk lebih baik, lebih baik, dan lebih baik. Tidak perlu apresiasi karena itu sudah tanggung jawab mereka. Memuji pemimpin hanya akan menjauhkan mereka pada rakyat, mendekatkan mereka pada oligarki.

Satu-satunya cara untuk bebas dari oligarki adalah jika ada capres yang diperbolehkan maju lewat jalur independen. Itupun kalau berhasil menang bersih. Menang tanpa neko-neko genit dengan oligarki. Dus ketika berkuasa menjaga jarak dengan oligarki. Siapa yang bisa? Apalagi untuk Indonesia, sampai hari ini jalur independen pencapresan masih tertutup akibat ketentuan Presidential Threshold. Oligarki tidak akan membiarkan ini terjadi. Mereka kunci lewat parpol-parpol. Mereka pun akan terus rajin meracuni kekuasaan dengan iming-iming harta atau dengan ancaman-ancaman ketidakstabilan politik. Pun bila capres jagoan mereka kalah, oligarki kelak akan menggalang kekuatan baru dengan membius elite-elite politik untuk bersepakat jahat melawan kekuasaan yang pro-rakyat.

Jadi sebenarnya oligarki itu adalah pintalan elite dalam struktur kekuasaan. Mereka ada di puncak piramida kekuasaan. Oligarki jelas bukan rakyat jelata. Jelas pula bukan mewakili rakyat. Oligarki mewakili dirinya sendiri. Oligarki merawat kenyaman politik bagi segelintir orang. Termasuk merawat para calon-calon presiden untuk kelak mereka ekspoitasi.

Apa yang bisa dilakukan rakyat untuk melawan oligarki? Rajinlah memaki para elite. Rajin memaki calon-calon presiden itu. Sesantun apapun dia. Bahkan makin santun, kita mesti makin curiga. Bukan malah mengasosiasikannya dengan sikap-sikap mulia keagamaan. Ini wilayah politik. Wilayah keimanan saja kadang dimanipulasi. Jadi kita harus selalu hati-hati. Jika rakyat sudah banyak yang memuji-muji si A, si B, si C sebagai calon presiden, pertanda oligarki akan tetap lestari. Para aktivis, akademisi, jurnalis, dan sebagainya, saat mereka memuji salah satu calon presiden secara tidak sadar sebenarnya mereka sudah menjadi antek oligarki!

Memuji-muji calon presiden adalah wujud nyata kebodohan. Apalagi kalau sampai memviralkan. Mengapa? Karena SEMUA calon presiden itu bagian dari oligarki atau temannya oligarki. Para calon presiden itu bukan temannya rakyat. Dia bukan bukan rakyat. Dia elite. Dia merangkak atas restu elite. Bila tidak baik-baik pada elite, dia sudah ditendang jauh-jauh hari oleh gurita oligarki. Pencapresan memerlukan banyak biaya. Jumlahnya fantastis. Dana kampanye dapat mencapai trilyunan rupiah. Adakah capres yang punya uang sebanyak itu? Kalaupun ada uang pribadi, tak akan mau dia hambur-hamburkan dalam perjudian pilpres. Tidak akan mau. Jadi dari mana uang itu kalau bukan dari oligarki? Dana umat? Dari jemaah mana dana umat ini? Seberapa kuat? Seberapa tahan? Siapa yang mengelola? Jelas elang-elang oligarki itu lagi yang akan menyambarnya.

Andaipun ada umat berjemaah merasa perlu berinfak dalam berjihad melawan kebatilan, umat wajib berhati-hati. Jangan sampai perjuangan ini malah memunculkan oligarki baru. Yang paling sial adalah malah justru memperkuat oligarki yang ada karena senyatanya politik itu dikelola oleh orang-orang itu saja. Ini sangat mungkin karena garis pemisah antar elite di dunia polilik pada abad 21 sudah hampir tidak ada lagi. Abad yang sudah begitu canggih. Abad yang membaurkan kebenaran dan kebatilan. Abad yang dapat meramu perselisihan politik menjadi sebuah keuntungan elite. Tak ada agama dalam politik. Pun ideologi sudah lebur, berubah menjadi selaksa menu di restoran cepat saji. Yang ada adalah kepentingan oligarki. Merekalah pemilik restoran itu. Mereka piawai menjinakkan orang-orang lapar. Apapun agamanya.

Maka rakyat tidak perlu membaca, mencari-cari, ataupun memeriksa kebaikan-kebaikan capres. Kebaikan-kebaikan itu ditulis oleh tim sukses dan kawan-kawannya capres. Entah dia oligarki atau bukan. Bisa juga kebaikan-kebaikan itu disebarkan oleh capres itu sendiri. Sangking narsisnya dia. Sangking ambisinya dia. Sehingga kebaikan-kebaikan itu sesungguhnya sama sekali tidak penting bagi rakyat. Bukan jaminan dia akan amanah. Rakyat fokus saja pada keburukan-keburukan calon-calon Presiden itu. Semburkan umpatan pada mereka.  Kejar agar dia mau berjanji senyatanyatanya berjanji. Kejar bahwa rakyat tidak perlu basa-basi. Kejar agar suatu hari saat berkuasa dia ingat bahwa dia pernah mengemis pada rakyat. Sehingga bila dia berperilaku buruk, kita akan ringan mengatakan padanya bahwa dia seorang pengkhianat.
*Penulis adalah Consultant Director Citra Indonesia
EDITOR: IDHAM ANHARI

ARTIKEL LAINNYA