Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Indonesia dan Sumpah Pemuda

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/chappy-hakim-5'>CHAPPY HAKIM</a>
OLEH: CHAPPY HAKIM
  • Rabu, 26 Oktober 2022, 09:54 WIB
Indonesia dan Sumpah Pemuda
Ilustrasi/Net
TANGGAL 28 Oktober nanti kita akan memperingati hari bersejarah sumpah pemuda.

Menilik kepada keputusan Kongres Pemuda kedua pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia, terpampang dengan jelas perihal sebagai berikut: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Penekanan yang sangat gamblang terhadap Tanah air, Bangsa dan Bahasa jelas sekali memberikan wawasan kebangsaan yang sangat kental dalam memaknai impian dari tekad perjuangan sebagai warga negara Indonesia yang ingin merdeka. Landasan inilah yang seyogiyanya tetap dan kekal mewarnai Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan sekaligus menjadi basis bagi pagar penjaga ketahanan nasional.

Tidak terasa sumpah itu telah berlalu selama 94 tahun jauh dari usia Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri yang baru diproklamirkan pada tahun 1945. Di sinilah istimewanya sumpah pemuda yang sudah merupakan tonggak dari sebuah kebulatan tekad para pemuda yang memimpikan kemerdekaan bagi bangsanya.

Dalam perjalanannya kemudian, tantangan kedepan yang akan dihadapi Indonesia semakin hari akan semakin berat. Laju kemajuan teknologi berjalan sangat cepat yang ditandai dengan berkembang luasnya arus informasi dan jaringan komunikasi antar bangsa.

Batas negara secara fisik telah dengan mudah ditembus yang berakibat membawa pengaruh yang besar dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.   Perkembangan sosial politik budaya menembus batas adat dan kebiasaan tata perilaku tradisional setiap negara.

Pemahaman tentang nasionalisme berhadapan langsung dengan internasionalisme. Dunia memang terus berkembang dalam relung rongga yang seolah harus menyatu, kemudian dikenal dengan arus globalisasi.

Sejak selesainya perang dunia kedua, tidak dapat dihindari berkembangnya arus keras secara internasional dari setiap bangsa untuk bersatu padu menuju dunia yang aman dan sejahtera.

Sebuah fenomena yang sangat logis muncul sebagai akibat panjang penderitaan umat manusia karena perang dunia. Muncul aneka organisasi Internasional yang dimulai dengan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Sayangnya tidak lama berlangsung muncul kemudian era perang dingin yang seakan membelah dunia menjadi 2 bagian besar antara NATO dan Pakta Warsawa. Perkembangan yang terjadi kemudian adalah semakin dekatnya hubungan bangsa-bangsa terutama di Eropa dengan format Uni Eropa atau European Union.

Sementara itu Indonesia sendiri berusaha memposisikan diri untuk tetap netral, mulai dari mempelopori organisasi Asia Afrika yang pada intinya berjuang untuk melawan kolonialisme dan imperialisme, sampai dengan terbentuknya kelompok negara nonblok dan New Emerging Forces pada era perang dingin. Sementar itu Asia Tenggara berkembang dengan organisasi kawasan regional yang dikenal dengan ASEAN.

Tahun 2020 Uni Eropa mulai ditinggalkan oleh Kerajaan Inggris dengan Brexit-nya, sementara sebelum itu Amerika Serikat di era pemerintahan Donald Trump mempromosikan politik “American First”. Hal ini memperlihatkan mulai bergesernya Internasionalisme yang kembali ke pemahaman nasionalisme.

Gejolak selanjutnya yang timbul akhir akhir ini adalah terjadinya perang di Eropa antara Rusia dan Ukraina. Friksi yang masih merupakan sisa sisa dari era perang dingin antara NATO dan Pakta Warsawa. Itulah semua pergolakan global yang kita saksikan bersama belakangan ini.

Bila kita melihat lingkungan strategis di kawasan Pasifik, maka jelas terlihat gejolak lain dari persaingan keras antara Amerika Serikat dengan China yang baru bangkit sebagai kekuatan ekonomi dunia baru. Persaingan yang kemudian mengantar kepada kancah US China Trade War.

Suhu panas mulai membara di kawasan laut China Selatan, sementara pertumbuhan ekonomi global sudah dalam taraf berpindah dari kawasan Atlantik ke Indian and Pacific Ocean. Persaingan pengaruh barat di kawasan Indo Pasifik telah membuat Amerika segera membentuk AUKUS, sebuah pakta militer yang menegaskan kembali bahwa tulang punggung kekuatan barat di Pasifik adalah Austalia.

Sebuah tindakan yang membuat China bereaksi keras dengan menuduh Amerika memicu dan memancing munculnya kembali persaingan persenjataan militer yang merefleksikan model perang dingin NATO versus blok Timur di masa lalu.

Perkembangan ini menjadi sebuah garis yang mulai timbul memisahkan blok Timur versus blok Barat. Pada titik ini maka Indonesia sebagai sebuah negara dalam posisi yang sangat strategis berhadapan dengan tantangan berat kemana hendak berpihak ditengah pendirian yang telah lama kokoh untuk tetap bersikap netral.

Tantangan Global yang diwarnai perkembangan teknologi, persaingan pengaruh Barat di kawasan Pasifik dan kemajuan ekonomi China membuat Indonesia tidak mudah untuk menentukan sikap.

Di sinilah paling tidak, spirit dari Sumpah Pemuda akan banyak berperan sebagai modal dasar dalam menentukan jati diri bangsa yang ingin tetap konsisten berjuang bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Tanggal 28 Oktober 2022 nanti, paling tidak sudah ada beberapa kegiatan yang akan digelar. Perhimpuan Mahasiswa Penerbangan Indonesia akan menyelenggarakan ritual tahunannya Aero Leadership Camp ke 5 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Siang harinya Program Studi Ketahanan Nasional Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menggelar webinar bertajuk "Sumpah Pemuda sebagai Basis Geopolitik Indonesia bagi Pemahaman Kedaulatan dan Ketahanan Nasional".

Sementara itu menjelang petang Forum Dialog Nusantara menyelenggarakan acara peringatan Sumpah Pemuda dengan meluncurkan buku “Kebangkitan Industri Dirgantara Mewujudkan Indonesia Emas 2045”. Hidup dan Jayalah Pemuda Indonesia Raya. rmol news logo article

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA