Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Azyumardi Azra Tokoh Islam Moderat

OLEH: NAZAR NASUTION*

Minggu, 25 September 2022, 21:11 WIB
Azyumardi Azra Tokoh Islam Moderat
Almarhum Prof Azyumardi Azra/Net
INNALILLAHI wa inna ilaihi roji'un. Kalangan akademisi, umat dan bangsa Indonesia kehilangan seorang guru bangsa. Profesor Doktor Azyumardi Azra, seorang tokoh Islam moderat, yang saat-saat ini sangat dibutuhkan baik di pentas nasional maupun internasional, telah menghadap Sang Pencipta.

Semua yang pernah mengenalnya pasti merasa dekat, akrab dan bersahabat dengan beliau. Kepada istri beliau, Ibu Ipah serta putra beliau firman dan adik-adik, saya, istri saya Ida Ismail turut berdukacita sedalam-dalamnya.

Semoga Allah Swt menerima beliau di JannahNya dan keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan, keikhlasan dan kesabaran. Aamiin .

New York

Sekalipun kami baru kenal dekat dengan Azyumardi di New York, tapi kami sudah  saling kenal, karena Edi  (panggilan Azyumardi) turut membantu majalah Panji Masyarakat. Orangtua kami, Mohammad Yunan Nasution, yang bersama Buya Hamka mendirikan majalah Pedoman Masyarakat di Medan pada tahun 1930an   juga dikenal baik oleh Azyumardi.

Di New York, Azyumardi tinggal di sebuah kamar di dorm kampus Columbia University. Menurut Edi, pondokannya itu sangat  sederhana. Sehingga tidak heran, Edi  betah sekali pada  akhir-akhir minggu ngobrol di rumah kami di Rego Park, Queens. Tentu saja waktu terlewat tdk terasa, karena  banyak sekali hal-hal  yang bisa diobrolkan.

Terlebih-lebih masa itu  Internet dan mbah Google belum dikenal. Sehingga informasi dari berita-berita yang saya peroleh dari   PTRI sangat menarik untuk didiskusikan. Kami banyak bertukar fikiran karena seperti Azyumardi, saya dan istri saya juga saat itu sedang jadi mahasiswa S2. Saya kuliah di St John University dan Ida di New York Institute of Technology.

Selama di New York,  Azyumardi tetap  rajin menulis untuk berbagai penerbitan di Jakarta,  termasuk Panji Masyarakat. Yang menarik adalah:  dia tetap  bersahabat dengan Olympia, mesin ketik jadulnya. Masih jauh dari komputer, apalagi laptop. Itu sebabnya, Edi rajin berlatih dengan desk top di rumah kami.

Kami bersyukur bahwa keterampilan Edi menggunakan komputer, hasilnya sangat bermanfaat buat beliau sampai puluhan tahun kemudian. Beliau adalah termasuk penulis yang sangat produktif menulis di berbagai media. Sehingga layaklah, apabila pada akhir hayatnya Edi didaulat sebagai Ketua Dewan Pers.

Keakraban, lebih kami rasakan ketika dlm kegiatan pembinaan masyarakat, saya libatkan Azyumardi bersama Faisal Ismail (Sekjen Kementerian Agama), yang sama-sama mengambil program S-2 di Columbia University.

Mereka ikut memberikan ceramah di pengajian masyarakat di New York, di bawah koordinasi Bapak  Ahmad Padang, seorang pejabat tinggi PBB. Berbagai tokoh yang kebetulan lewat di New York juga menjadi mengisi acara pengajian,  seperti Cak Nur, Munawir Sazali, Gus Dur,   Imaduddin, Mukti Ali, Dien Syamsudin, Atho Muzhar, Usep Fathuddin  dll..

Satu pengalaman yang tidak mungkin kami lupakan adalah ketika mobil yang kami tumpangi berempat, saya,  isteri saya, Azyumardi  dan Faisal hampir tergelincir ke jurang di sebuah Country Road yang sepi,  tapi penuh timbunan  salju. Mobil yang saya kemudikan berputar putar di atas salju. Sangat mendebarkan, terasa di saat-saat yang kritis tersebut betapa dekatnya kita kepada Elmaut.

Malam itu saya harus membuka sebuah training camp pemuda/pelajar New York. Pelatihan seperti  itu baru pertama kali dilaksanakan untuk remaja Indonedia di NY. Tetapi alhamdulillah sangat berhasil karena tiga orang instrukturnya, Azumardi, Faisal,  didampingi oleh Ida yang sudah berpengalaman   dalam berbagai  training.

Belakangan Ipah, istri Azyumardi dan putra mereka Irfan menyusul ke New York. Mereka pindah dari dorm dan tinggal di Astoria, salah satu kawasan di Queens, New York.  Tapi Azyumardi, Ipah dan Irfan tetap rajin datang ke rumah, krn kangen masakan Padang masakan Asisten RT kami. Tentu saja setiap kali,  mereka bisa membawa pulang oleh-oleh rendang dan gulai,  karena di New York saat itu belum ada restoran Padang.
 
UIN Jakarta

Setelah cukup lama tidak berjumpa, kami berkomunikasi Intens sekali sesudah saya menyelesaikan tugas sebagai duta besar di Kamboja (2000-2003).
Atas dorongan dari sahabat Yahya Muhaimin dan Makarim Wibisono, saya mengisi masa pensiun dengan memasuki dunia akademisi. Sejak 2004 saya diminta Prof. Yahya mengajar di UAI, hingga saat ini. Tahun 2006, saya diminta oleh Prof. Azyumardi,  sbg Rektor UIN Syarif Hidayatullah  untuk membuka jurusan Hubungan Internasional di UIN.

Ceritanya begini. Sewaktu saya aktif di ICWA (Indonesian Council on World Affairs), kami diminta oleh  tim UIN yg dipimpin Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Faisal Badrun untuk mempersiapkan pembentukan Jurusan Hubungan Internasional di UIN, gagasan Prof. Azyumardi.  Terbentuklah Prodi HI UIN (2006). Saya di "fait accompli"  oleh Prof. Azyumardi sbg Kaprodi pertama HI UIN (2006-2010).

Berikutnya,  teman-teman terdekat  mendorong saya untuk meneruskan pendidikan ke S-3.  Awalnya, atas saran Prof. Yahya Muhaimin,  saya diarahkan untuk  memilih Universitas Gajah Mada.  Namun, ketika melihat kampus UGM  dan bertemu dengan beberapa guru besar di sana,  saya menyadari tantangannya cukup besar  untuk bolak-balik Jakarta-Yogya, terutama dari faktor usia yang sudah lansia.

Kemudian saya terfikir untuk meminta advis Prof. Azyumardi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pasacasarjana UIN.  Saya ditemani isteri saya Ida menemui Azyumardi di rumahnya.  

Azyumardi spontan menyarankan kenapa tidak diambil  di UIN saja sambil tetap aktif sebagai dosen FISIP UIN, yang kebetulan letaknya satu kompleks.   

“Daripada Abang melayani berkali-kali pertanyaan mengenai banyak hal dari pengalaman praktisi Abang sebagai diplomat, kenapa tidak dituliskan saja dalam sebuah disertasi”, kata Azyumardi. Kiat beliau, apabila disiplin menulis setiap hari 2 halaman, maka dalam 100 hari dihasilkan tulisan sebanyak 200  halaman. Ucapan beliau tsb inspirasi kepada saya untuk pada akhirnya memutuskan memilih Pasca UIN.

Saya memilih tema ttg Pelanggaran HAM di Asia Tenggara, Prof Azyumardi dan Prof Atho Muzhar menyatakan kesediaannya sebagai promotor. Finally, saya berhasil lulus tahun 2017 pada usia 76 tahun. Beliau juga sempat memberikan Testimoni dalam 2 buku yang saya terbitkan Dari Aktivis Menjadi Diplomat (memperingati usia 70 thn) dan Dari Diplomat Menjadi Akademisi  (memperingati usia 80 thn).

Tokoh Islam Moderat

Peristiwa 11 September 2001 di AS telah membawa kegoncangan di dunia internasional. Kebijakan AS di bawah George W. Bush tentang 9-11 tersebut sangat dikecam dunia internasional, karena bernada mendiskreditkan Islam.  Sesungguhnya Presiden Megawati yang bertemu langsung dengan George Bush beberapa saat setelah kejadian tersebut telah menyatakan kecaman Indonesia yang keras terhadap aksi teroris.

Namun, tuduhan Goerge Bush yg memberikan stigma negative terhadap Islam telah merusak hubungan antar bangsa. Kebijakan tersebut perlu diluruskan. Maka muncullah gagasan Interfaith Dialogue yang diprakarsai oleh Indonesia diawali pada masa Presiden Megawati dan dilanjutkan pada masa Presiden SBY. Pandangan AS mengalami perubahan pada masa Presiden Obama.

Menlu Wirayuda menggalakkan upaya untuk meluruskan persepsi yang keliru tersebut dengan menggerakkan  Interfaith Dialogue. Untuk itu, Kemlu membentuk unit khusus yang disebut sebagai Diplomasi Publik yang mengirimkan sejumlah Utusan ke sejumlah negara Barat di Eropa, termasuk  menemui Paus di Vatikan.

Tujuannya adalah untuk meluruskan persepsi yang keliru tersebut,  didukung oleh sejumlah intelektual Muslim. Mereka antara lain, Prof Azyumardi Azra, Prof. Dien Syamsudin, Prof. Komarudin Hidayat, Prof Bahtiar Effendy Interfaith Dialogue ini memunculkan citra positif terhadap Islam di Indonesia yang dinilai merupakan perwujudan dari Islam Moderat.

Buku Peninggalan Azyuardi Azra

Dari sederet buku-buku yang ditulis oleh Prof. Azyumardi, buku Transformasi Politik Islam (2016), merupakan buku yang menarik untuk dibincangkan. Salah satu judulnya adalah  "Dunia Tanpa Islam: Mungkinkah ?" Judul yg menggelitik itu didasarkan pada karya Graham Fuller "A World without Islam" (2010).

Tulisan yang menyoroti Islam setelah peristiwa 11 September 2001 itu dilengkapi dengan 8 Rekomendasi Fuller untuk mengatasi ketegangan antara Dunia Islam dengan AS. Menurut Fuller, hanyalah kaum Muslim sendiri yang dapat menemukan pemecahan masalah radikalisme, dan karena itu AS harus tidak campur tangan.

Pada bagian lain dari buku ini dengan judul "Islam dan Demokrasi" Prof. Azyumardi menulis bahwa kaum Muslimin Indonesia umumnya menerima demokrasi. Mereka memandang bahwa demokrasi kompatibel dengan Islam, pada dasarnya tidak ada masalah di antara Islam dan demokrasi.

Beliau meninggalkan "legacy" bagi pemikiran Islam, wawasan kebangsaan dan kenegaraan. Kedudukan beliau sebagai Ketua Dewan Pers (2022 -2025) belum sempat beliau tunaikan.

Kiprah beliau yang diharapkan akan menjawab tantangan bagi Indonesia sebagai negara Hukum dan Demokrasi, yang akhir-akhir ini semakin dirasakan pentingnya, ternyata belum sempat beliau tunaikan.

Semoga Allah Swt memberikan tempat terbaik kepada Prof. Azyumardi Azra di sisi-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

ARTIKEL LAINNYA