Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Kurikulum Merdeka dan Tantangan Pendidikan ke Depan

Oleh: Neni Nur Hayati*

Rabu, 17 Agustus 2022, 14:59 WIB
Kurikulum Merdeka dan Tantangan Pendidikan ke Depan
Ilustrasi Merdeka Belajar/Net
KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah meluncurkan kebijakan kurikulum merdeka sebagai acuan untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikannya. Gonjang ganjing perubahan kurikulum nasional selalu menarik dan menjadi perhatian publik.

Kebijakan kurikulum merdeka ini mendapatkan respons yang sangat positif dari para orangtua ataupun para pelajar yang menganggap beban kurikulum sebelumnya terlalu berat.

Meskipun disisi lain, ada juga pihak yang melihat kebijakan ini skeptis, sebab tidak bisa dimungkiri bahwa perubahan kurikulum di tingkat nasional mendorong dan menuntut banyak adaptasi di lapangan.

Kurikulum memiliki peran yang sangat penting, signifikan dan esensial. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pritchett dan Beatty (2015) dalam International Journal of Educational Development mengungkapkan bahwa kurikulum yang padat dapat menghambat proses pembelajaran. Kurikulum merdeka menjadi solusi untuk melakukan penyederhanaan materi.

Memang, jika materi terlalu banyak, strategi paling banyak digunakan adalah komunikasi satu arah. Hal ini yang menimbulkan agak sulit untuk membuat dialog dengan komunikasi dua arah dengan para muridnya.

Kurikulum merdeka dianggap sebagai hal yang paling tepat dengan lintas mata pelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata secara kolaboratif.   Sejauh ini, implementasi kurikulum merdeka dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sesuai dengan amanat Surat Keputusan (SK) Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Nomor 044/H/KR/2022. Kurikulum merdeka tersebut dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing satuan Pendidikan (Aditomo, 2022).

Implementasi Kurikulum Merdeka

Dalam implementasinya pembelajaran melalui kurikulum merdeka, dapat menumbuhkan rasa toleransi, kepedulian sosial, melatih Kerjasama dan komunikasi antar satu murid dengan murid lainnya. Pembelajaran seperti ini dapat mendorong murid untuk mencari penyelesaian masalah yang terjadi dan real terjadi pada isu nyata.

Sebagai contoh nyata dari pengalaman penulis melihat di lapangan, siswa melakukan inovasi untuk membuat sebuah produk dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan iklim dengan membuat produk yang ramah lingkungan. Hal ini berarti kurikulum merdeka dirancang untuk memberikan kemudahan guru untuk berfokus dalam pembelajaran.

Dengan demikian, murid mendapatkan relevansi dari apa yang dipelajarinya dengan korelasi keseharian yang dialaminya sehingga murid mendapatkan pembelajaran secara komperhensif, dengan begitu kecintaan murid terhadap ilmu pengentahuan diharapkan dapat tumbuh denga sendirinya sampai menemukan nikmatnya proses belajar itu sendiri. Hal ini tentu sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan dalam keunggulan kurikulum merdeka.

Terdapat tiga keunggulan yang dijanjikan dalam Kurikulum Merdeka. Pertama, fokus pada materi esensial agar ada pendalaman dan pengembangan kompetensi yang lebih bermakna dan menyenangkan.

Kedua, kemerdekaan guru mengajar sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan pelajar dan wewenang sekolah mengembangkan dan mengelola kurikulum. Ketiga, pembelajaran melalui kegiatan proyek untuk pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila melalui eksplorasi isu-isu aktual. Kurikulum merdeka juga menjadi jawaban terhadap krisis pembelajaran yang terjadi di Indonesia.

Berkualitas dan Berkeadilan

Setidaknya terdapat dua kata kunci dalam kurikulum merdeka yakni berkualitas dan berkeadilan. Peserta didik harus dipastikan tidak hanya sekolah tetapi juga dapat berkembang dan bertumbuh agar dapat menstimulasi karakter dan kompetensi dasar untuk masa depan (Aditomo, 2022). Tingginya antusiasme dari para guru dan kepala sekolah yang mendaftar untuk menerapkan kurikulum merdeka menunjukkan bahwa para pendidik menunjukkan kesadaran untuk menyediakan pembelajaran yang bermutu untuk anak-anak. Kurikulum merdeka memang bukan tujuan, tetapi sebagai salah satu cara dalam menggapai cita-cita.

Impementasi kurikulum merdeka yang dilakukan oleh satuan pendidikan nyatanya tidak bisa terlepas dari pentingnya menjalin kerjasama dan kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat yang menjadi bagian dari penyelenggaraan pendidikan. Penerapan kurikulum merdeka di Indonesia dianggap berhasil dalam mengatasi learning loss (hilangnya pembelajaran) dan dapat meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa dengan inovasi dan kreatifitas satuan pendidikan.

Kurikulum merdeka juga fleksibel lebih mampu mengakomodir karakter siswa yang beragam sehingga peserta didik dapat memberikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Manfaat dari penerapan kurikulum merdeka ini dapat dilihat ekspektasi yang jelas, terukur dan terarah. Kita bisa lihat apa yang kita harapkan dari peserta didik, apa yang ingin anak-anak pelajari, Tujuan ini dapat jelas di setiap fase pembelajaran sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

Kurikulum merdeka ini dapat membantu siswa dalam memperdalam pembelajaran, bagaimana relevansi antara teori dengan realitas yang terjadi di lapangan. Hal tersebut lebih juga dapat memberikan lebih banyak fleksibilitas dan meningkatkan pendekatan tim/kolaborasi dari guru dengan latar belakang yang beragam. Orang yang berkumpul dalam kelompok, mereka bisa saling belajar satu sama lain.

Tantangan Pendidikan ke Depan

Dalam penerapan implementasi kurikulum merdeka ini terdapat perbedaan. Bagi sekolah dengan label sekolah penggerak yang kepala sekolahnya mengikuti seleksi, maka ada dukungan dari Kemendikbudristek dan dinas pendidikan daerah.

Selama tiga tahun, ada pelatih ahli, in house training, dan progam pendampingan. Bahkan, ada dukungan pendanaan untuk bisa mempersiapkan transformasi. Namun, ada juga daerah yang mendesak sekolah-sekolah bergabung sebagai pelaksana IKM secara mandiri.

Satuan pendidikan tersebut tidak mendapatkan pengarahan, pendampingan, dan pembimbingan yang memadai dari dinas pendidikan daerah maupun Kemendikbudristek.

Padahal, baik yang sekolah penggerak ataupun yang sama-sama mandiri, keduanya mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Ini jadi tantangan untuk tidak membeda-bedakan sehingga tidak keluar jauh dari susbtansi kurikulum merdeka.

*Penulis adalah Pengamat pendidikan dan Direktur DEEP Indonesia

ARTIKEL LAINNYA