Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Longmarch Buruh dan Gerakan Massa

OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN
  • Rabu, 10 Agustus 2022, 13:57 WIB
Longmarch Buruh dan Gerakan Massa
Aksi longmarch Aliansi Aksi Sejuta Buruh (AASB) Jawa Barat (Jabar) menuju wilayah DKI Jakarta/Ist
JUMHUR Hidayat, Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), dengan massa aliansi aksi sejuta buruh (AASB), aliansi dari 40 serikat buruh, telah memasuki Jakarta pada hari ini, Rabu (10/8).

Massa bergerak ditandai awalnya longmarch dari Gedung Sate, Bandung, selama 5 hari dipimpin Sunarti, tokoh buruh perempuan dan Jumhur Hidayat ikut bergabung long march dari Karawang.

Tuntutan kaum buruh adalah hapuskan UU Omnibus Law selamanya. UU ini adalah alat penindasan kaum oligarki kepada buruh. Pula, UU Omnibus Law ini melawan konstitusi UUD 45. Hal ini telah saya bahas sebelumnya dalam tulisan "Pemberontakan Kaum Buruh".

Gerakan massa buruh yang berpusat di Jakarta dan menyebar di berbagai daerah Indonesia, dengan longmarch yang dipimpin Sunarti, Ketua Serikat Buruh SBSI 92, dan Jumhur, mengandung makna penting dalam dua hal.

Pertama, longmarch itu adalah simbol dari sebuah penderitaan. Sebuah perjuangan tidak mungkin mencapai makna yang dalam jika sang pemimpin tidak mengalami penderitaan. Hal ini dilakukan Nabi Muhammad ketika longmarch dari Madinah Ke Mekkah ketika melakukan aksi pembebasan/perebutan Kabah, di masa lalu.

Hal ini dilakukan Mao Ze Dong juga ketika melakukan longmarch sejauh 9000 km di China untuk pembebasan China dari kaum nasionalis kuomintang dan juga longmarch pejuang Siliwangi, dari Bandung Ke Jogyakarta di masa kemerdekaan Indonesia, serta juga longmarch santri Ciamis ke Jakarta dalam Aksi 212 tempo hari.

Perjuang dengan penderitaan dilakukan untuk menunjukkan spirit atau ruh perjuangan itu sendiri, agar massa rakyat meyakini bahwa perjuangan ini tidak ada jalan kembali.

Makna kedua, perjuangan dengan massa rakyat yang besar menunjukkan adanya tuntutan pengembalian makna "mass society", sebuah konsep di mana masyarakat dikembalikan dari alienasi (keterasingan), di mana kumpulan massa rakyat berbasis/bersifat individualistik/atomistik menjadi masyarakat yang berbasis komunalitas.

Merujuk pada Erick Fromm, cendikiawan Frankfurt, keterasingan manusia dalam masyarakat terjadi karena industrialisasi dan modernisasi yang begitu pesat. Keterasingan juga dibahas oleh Karl Marx, yang mengatakan bahwa manusia hanya menjadi robot-robot atau instrumental dalam industri. Manusia telah kehilangan kemanusiaannya.

Menatap ke Depan

Krisis kemanusiaan dalam konteks Indonesia saat ini sudah demikian parah. Negara berkembang ke arah yang salah, di mana negara berfungsi untuk melayani kepentingan penguasa. Penguasa, khususnya aparat yang berkuasa, telah berkomplot untuk mengakumulasi kekuasaan, kekuatan dan kekayaan untuk kepentingan segelintir elite saja.

Contoh terakhir terkait pembunuhan Brigadir Joshua, yang melibatkan banyak jenderal, semakin meyakini kita bahwa hukum dan keadilan semakin kehilangan makna.

Pada sisi lain massa rakyat terjebak dalam pertarungan hidup hari demi hari. Kaum buruh selama pandemi telah kehilangan penghasilan dan pekerjaan yang layak. Gaji tergerus inflasi, harga harga kebutuhan pokok dan BBM meroket tinggi. Mereka harus mengeluarkan keringat lebih banyak lagi untuk bisa bertahan hidup.

Gerakan Jumhur dkk dengan aksi sejuta buruh dan longmarch tentunya akan mendorong adanya spirit kemanusiaan buruh untuk membangun solidaritas kemanusiaan. Di samping itu, kaum buruh akan mampu membangun front besar rakyat vis a vis melawan arogansi segelintir elite.

HOS Tjokroaminoto, Sukarno dan Tan Malaka sudah menggariskan perjuangan massa rakyat, di masa lalu, adalah sebuah keniscayaan. Maksudnya agar negara dibangun untuk kepentingan rakyat semesta, bukan segelintir penguasa dan cukong.

Saat ini Jumhur dkk kembali menghadirkan massa rakyat buruh untuk membangun "mass society", sebuah masyarakat Indonesia yang sosialistik, yang saling mencintai dan berkeadilan sosial.

Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA