Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Rizal Ramli di Tengah 2 Cucu Negarawan Besar Soekarno dan Margono

OLEH: HENRYKUS SIHALOHO
  • Rabu, 06 Juli 2022, 18:38 WIB
Rizal Ramli di Tengah 2 Cucu Negarawan Besar Soekarno dan Margono
Kolase Puan Maharani, Rizal Ramli, dan Rahayu Saraswati/Repro
TIDAK banyak yang tahu bahwa ada tokoh ekonomi koperasi (ekonomi rakyat) yang kelasnya setara dengan Mohammad Hatta, yakni Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo.

Bila Soekarno-Hatta disebut dwitunggal yang menggambarkan kepemimpinan yang manunggal dari 2 negarawan besar ini di awal kemedekaan, Margono dan Hatta bisa disebut dwitunggal koperasi Indonesia.

Sekadar informasi, 6 tahun sebelum kongres koperasi yang pertama berlangsung di Tasikmalaya (12 Juli 1947), yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia, pada 1941, Margono sudah menulis “Sepoeloeh tahoen penerangan tentang koperasi oleh pemerintah: 1930-1940.”

Beliau juga menulis “Perbedaan antara cooperatie dan perkoempoelan lain-lain” dan “Alasan dan Maksoed Atoeran tentang Perkoempoelan Koperasi Boemipoetera”.

Meski 7 tahun lebih tua dari Bung Karno dan sewindu lebih tua dari Hatta, nama besar Margono tenggelam oleh nama Bung Karno dan Hatta. Bahkan manakala orang berbicara tentang koperasi, namanya tenggelam oleh Hatta.

Bila putranya tidak menjadi begawan ekonomi Indonesia (Soemitro Djojohadikoesoemo) dan cucunya Prabowo tidak berkiprah dalam dunia politik pascalengsernya Soeharto, Margono mungkin tinggal sebuah nama sebagai pendiri BNI.

Padahal 2 putra Margono sendiri gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong, yakni Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan taruna Soejono Djojohadikoesoemo.

Nama Soebianto Djojohadikoesoemo diabadikan dalam nama Prabowo Subianto dan Soejono Djojohadikoesoemo dalam nama Hashim Sujono Djojohadikoesoemo.

Meski pengusaha papan atas, nama Hashim Sujono Djojohadikoesoemo tenggelam oleh nama besar kakaknya Prabowo. Sara (Rahayu Saraswati) sempat membangkitkan nama kakek buyutnya Margono, kakeknya Soemitro, pamannya Prabowo, dan ayahnya Hashim saat ikut meramaikan Pilkada Tangsel berpasangan dengan Muhamad.

Sayangnya nama besar mereka tidak mampu membuat pasangan ini meraih kemenangan pada pilkada Desember 2020 yang lalu.

Penulis sendiri pertama kali menyaksikan kiprah Sara pada penayangan perdana film “Merah Putih” sebagai pemeran perempuan bernama Senja. Penulis menyaksikan film ini bersama Hashim dan teman-teman yang terlibat dalam Tim Kampanye Megawati-Prabowo (Mega-Pro) pada 2009.

Sesudah itu beberapa kali penulis menyaksikan Sara dalam acara Talk Indonesia di Metro TV sebagai co-host bersama host Dalton Tanonaka dan co-host lain almarhum Wimar Witoelar (2010-2013) dan co-host Hot Indonesia di The Indonesia Channel.

Ada 2 hal yang menarik perhatian Penulis baru-baru ini. Pertama, saat menyaksikan acara Let's Talk With Sara: Rizal Ramli, Matematika, Kebijakan Pro Rakyat. Rupanya acara ini berlangsung 2 tahun yang lalu (18 Jun 2020).

Di acara itu Sara menyatakan kerisauannya tentang krisis kepemimpinan di Tanah Air kita sekaligus berharap lahirnya pemimpin yang benar yang kemudian berkenan mencetak pemimpin baik yang berikutnya.

Kedua, saat Penulis membaca tulisan Arief Gunawan di RMOL.ID, 9 Juni 2022 yang lalu, “Taufiq Kiemas dalam Kenangan Rizal Ramli: Sikapnya Merangkul Semua Orang”.

Dwi hal yang menarik ini melahirkan pertanyaan tunggal pada Penulis: siapa yang dikehendaki negarawan-negarawan besar ini, mulai dari Bung Karno hingga Taufiq Kiemas dan Margono Djohadikoesoemo sampai Soemitro Djojohadikoesoemo menjadi pemimpin (kepala) negara kita pada waktu mendatang?

Penulis memastikan, jawaban mereka tunggal dan hebatnya bukan dari trah mereka. Bagi mereka, karena kenegarawanan mereka, yang paling penting orang itu seideologi dengan mereka, berintegritas, dan bisa mengharumkan nama bangsa.

Karena itu, nama yang keluar dari mereka hanya satu nama: Rizal Ramli. Insyaallah, lantaran tidak egois, nama dari sanubari Puan dan Sara yang paling dalam pun sama: Rizal Ramli.

Penulis adalah dosen pada Universitas Katolik Santo Thomas, Medan
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA