Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Perempuan Dalam Dilema Geliat Ekonomi Regional

OLEH: YANA MAULIDIA JUSRA

Senin, 04 Juli 2022, 23:53 WIB
Perempuan Dalam Dilema Geliat Ekonomi Regional
Yana Maulidia Jusra/Ist
DI akhir abad ke-20, ialah era yang ditandai dengan munculnya globalisme, atau sering dikenal dengan “globalisasi” di mana pola kehidupan manusia dalam berbagai aspek tereduksi menjadi satu tanpa tereduksi oleh batas-batas negara bangsa.

Peran dan efektivitas negara-negara mulai dipertanyakan. Sebab teritorium, kontrol atas kekerasan, struktur kekuasaan impersonal dan legitimasi yang merupakan ciri negara bangsa perlahan mulai kehilangan fungsinya.

Implikasi nyata dari globalisasi adalah hilangnya sekat regional maupun teritorial. Apa yang terjadi di satu negara selalu memiliki pengaruh pada negara lain, kebangkrutan ekonomi, chaos serta budaya suatu negara bisa menular bahkan mungkin memperparah negara lain. Sebab globalisasi menghantarkan kita pada kenyataan akan dunia tanpa batas.

Perempuan dalam geliat ekonomi global

Hasil statistik McKinsey menyatakan apabila perempuan dapat berkontribusi dalam perekonomian, maka perekonomian global akan mendapatkan manfaat sebesar 12 triliun dolar AS pada tahun 2025. Sedangkan khusus kawasan Asia Pasifik, dapat memberikan nilai tambah hingga 4,5 triliun dolar AS.

Peranan perempuan sungguh nyata dan memberikan nilai tambah yang sangat besar dari berbagai studi yang muncul, di bidang ekonomi diperkuat juga dengan State of The Global Islamic Economy Report. Peran perempuan yang menjadi wirausahawan disebut meningkatkan potensi kontribusi terhadap GDP global hingga 5 triliun dolar AS.

Pernyataan senada oleh Chair of Business 20 atau B20 Indonesia Shinta Kamdani, mengatakan bahwa perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi global.

Keterlibatan perempuan yang setara pada ekonomi global membawa peluang pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) 28 triliundolar AS pada tahun 2025 mendatang, dan apabila perempuan dan laki-laki berpartisipasi secara setara sebagai pengusaha, PDB global dapat bertumbuh sebesar 3-6 persen dan menambah 2,5-5 triliun dolar AS pada perekonomian global. Hal ini dia sampaikan dalam forum Women in Business Action Council (B20 WiBAC) bertema Accelerating Inclusion of Women MSMEs in The Global Economy di Hotel Fairmont, Jakarta, Jumat (17/6).

Peran dan kontribusi perempuan menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pemulihan dan transformasi ekonomi. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan dalam perekonomian terutama dalam mendapatkan akses pendanaan dan program pemerintah.

Peran perempuan dalam peningkatan ekonomi nasional

Di Indonesia, peranan perempuan dalam perekonomian semakin signifikan. Pada sektor UMKM, 53,76 persennya dimiliki oleh perempuan, dengan 97 persen karyawannya adalah perempuan, dan kontribusi dalam perekonomian 61 persen.

Di bidang investasi kontribusinya bahkan 60 persen dan mereka sudah memiliki daya kompetisi ekspor dengan memberikan pangsa hingga 14,4 persen.

Perempuan masa kini lebih cerdas dalam mengelola uang dan berinvestasi. Dalam instrumen ritel yang diterbitkan pemerintah misalnya, investor didominasi oleh kaum perempuan. Penerbitan ORI017 disambut oleh 55,8 persen investor wanita dari Rp 18,34 triliun yang diterbitkan.

Kemudian dalam penerbitan ORI018, peranan investor perempuan kembali meningkat menjadi 57,82 persen. Data terbaru juga menunjukkan, penerbitan sukuk ritel SR014 disambut kembali oleh investor perempuan dengan dominasi mencapai 58,25 persen.

Hal ini menggambarkan bahwa literasi dan kapasitas perempuan untuk berpikir cerdas, mengamankan dana untuk keluarga, dan menginvestasikan di bidang produktif sangat potensial dan nyata. Jadi tidak dipertanyakan lagi bahwa perempuan tidak hanya memiliki potensi tapi secara aktual mampu berkontribusi.

Dilema geliat ekonomi regional

Arus deras informasi yang selama ini dirangkul, diakomodasi dan bahkan dieksploitasi oleh institusi-institusi tertentu setidaknya memahami bahwa, mereka tidak selamanya kebal terhadap perubahan yang demikian fundamental dalam kehidupan. Sebab, logika global telah dilepaskan oleh kekuatan-kekuatan tertentu yang menjawab tema keruntuhan Uni Soviet. Dan menuntun kita untuk menemukan prinsip-prinsip baru dalam dunia tanpa batas.

Salah satu yang harus dilakukan oleh para pemimpin Irlandia Utara adalah untuk menuntut kemerdekaan sebagai negara untuk memastikan hubungan yang agak kacau dengan ekonomi global. Namun, cukup berbeda jika motif utama mereka adalah menggunakan kemerdekaan yang lebih besar itu untuk mengendalikan agenda-agenda sektarian diri mereka sendiri.

Ekonomi regional adalah pegangan yang besar dan esensial untuk bisa mengambil keuntungan dari ekonomi global yang bisa menguntungkan seluruh warga negara dan penduduk. Namun ia juga bisa digunakan sebagai penalaran publik yang mungkin menjadi selubung dimana kelompok-kelompok keagamaan, rasial, etnis atau kesukuan secara pribadi berusaha mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri dan kepentingan mereka sendiri.

Tidak ada jaminan yang pasti bahwa wilayah-wilayah tertentu akan menjadi inklusif dan akan selalu ada mereka dipusat yang menunjukan ketidakpastian itu sebagai pembenaran untuk menajaga control yang ketat atas kebijakan ekonomi dan sosial pada tingkat nasional.

Di Amerika Serikat, mereka akan menunjuk bahwa ia merupakan legislasi yang berasal dari Washington dan tidak ada negara bagian yang setelah seratus tahun berakhirnya perang sipil, pada akhirnya memberikan ukuran keadilan tertentu dan kesempatan ekonomi pada penduduk hitam di selatan. Ini benar sejauh ia berjalan, tetapi ia tidak akan berjalan lama sebab aksi yang berdasarkan Washington sesungguhnya telah meletakan hukum-hukum di atas buku. Dan perekonomian di selatan dapat tumbuh dari sumber kekuatan mereka sendiri.

Jalan baru perempuan di wajah dunia tanpa batas

Tanggung jawab perempuan dan laki-laki dalam  atas persoalan-persoalan yang menyangkut negara bangsa modern dan gabungan negara-negara ini. Misalnya Amerika, Uni Eropa, dan negara-negara yang menjadi anggota North American Free Trade Act (NAFTA) yang memiliki reaksi sangat berbeda jika bukan karena bencana alam yang tak terduga, hollocaust nuklir atau perang konvensional yang menyakitkan, mereka mungkin akan tetap meyakini bahwa entitas-entitas yang diimpikan akan tetap indah selama tidak terpengaruh.

Kini telah ada suatu jalan baru bagi perempuan dunia, di mana arus informasi dan tekhnologi telah menuntun kita akan suatu nilai yang berbeda. Menuju suatu jalan ekonomi tanpa teritori negara bangsa ataupun sekat regional.

Melampaui konsep-konsep blok pembangunan yang diterapkan di abad 19. Di mana model Negara yang tertutup sudak tidak lagi diyakini. Inilah jalan tanpa komponen kekuatan masa lalu menuju “Dunia Tanpa Batas”.

*Penulis adalah Ketua Bidang Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif KOHATI PB HMI
EDITOR: