Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Tiada Lagi Mas Tjahjo Kumolo

OLEH: ILHAM BINTANG
  • Jumat, 01 Juli 2022, 18:28 WIB
"SETELAH 5 tahun menjadi Mendagri, saya sebenarnya kepengin istirahat. Kalau toh pun ditawari mengabdi lagi, saya kepengin jadi Duta Besar RI di Jepang. Tapi Presiden Jokowi tidak setuju. Beliau meminta saya tetap masuk dalam kabinetnya pada pemerintahan periode kedua sekarang,” kata Tjahjo Kumolo, tiga tahun lalu.

Siapa menyangka, tidak sampai tiga tahun kemudian, Tjahjo Kumolo, Jumat (1/7) petang, diantar keluarga dan kerabat ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Upacara pemakamannya berlangsung secara militer.

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia sejak 23 Oktober 2019 pada Kabinet Indonesia Maju itu meninggal dunia pada Jumat (1/7) pukul 11.10 WIB di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat. Ia sempat dirawat dua minggu lamanya di RS itu akibat infeksi paru-paru.

Tjahjo meninggalkan seorang istri dr Hj Erni Guntarti, tiga anak: Dr Rahajeng Widyaswari, Karunia Putripati Cendana, Arjuna Cakra Candasa, dan cucu- cucu.

Pertama kali naik pesawat

Keinginan beristirahat itu dia sampaikan Mas Tjahjo--begitu sapaan akrab kami--ketika tampil berbicara di depan peserta  Musyawarah Nasional Kappija 21 yang berlangsung 14 Desember 2019.

Tjahjo adalah alumni Angkatan I/1984 Kappija 21 (Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21).

Waktu itu, saya yang menelepon meminta khusus Mas Tjahjo untuk menghadiri acara. Yang membuka acara Munas, Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI.

“Saya mahasiswa FH Undip waktu ikut program ke Jepang itu,” ujar Tjahjo, yang didaulat naik panggung untuk menceritakan pengalamannya satu bulan tinggal di Jepang mengikuti program itu.

“Program ini yang membuat saya mengenal banyak teman dari berbagai daerah,” kata dia.

Tanpa sungkan, mantan Sekjen PDI Perjuangan itu mengungkapkan juga bahwa undangan ke Jepang itulah sekaligus yang memberinya pengalaman pertama kali naik pesawat terbang.

Hari itu Mas Tjahjo mendapat surprise dari Kappija 21 berupa bingkisan pass foto masa muda dirinya ketika mendaftar ikut program di tahun 1984.

Karier politik Tjahjo sudah berlangsung  40 tahun.

"30 tahun di antaranya menjadi anggota parlemen. Terus menerus. Memecahkan rekor MURI,” ujarnya berseloroh di depan Alumni Kappija waktu itu.

Tjahjo Kumolo, lahir 1 Desember 1957, adalah politikus senior Indonesia yang saat wafat memangku jabatan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia sejak 23 Oktober 2019.

Tjahjo sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Indonesia dari 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019 pada Kabinet Kerja. Di masa Orde Baru, Tjahjo Kumolo tercatat sebagai Ketua Umum KNPI dan anggota Partai Golongan Karya.

Sahabat yang care

Sekitar dua minggu Tjahjo dirawat di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, karena infeksi paru-paru.  Kemarin, Kamis (30/6), ketika bertemu Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Prof Dr. Zudan Arif Fakrulloh di kantornya, saya menanyakan kabar Thahjo.  

Dari Zudan saya tahu kondisi kesehatannya cukup kritis. Zudan, yang baru saja membesuknya sudah seminggu ini, mengatakan Tjahjo "ditidurkan" oleh dokter untuk mengatasi masalah di paru-parunya.

"Silakan saja Mas kalau mau besuk. Hubungi saja keluarganya. Yang pasti harus test swab PCR sebelum ke sana," saran Zudan.

Belum 24 jam informasi itu berlalu, muncul berita duka Mas Tjahjo meninggal dunia Jumat siang (1/7).

Tjahjo Kumolo adalah sahabat sejati. Persahabatan kami sudah berjalan puluhan tahun. Saya ikut meliput ketika dia terpilih sebagai Ketua Umum KNPI.

Saya terakhir bertemu fisik dengan almarhum di Munas Kappija 21, tanggal 14 Desember 2019. Sebab setelahnya,  pandemi Covid-19 melanda tanah air dan komunikasi kami pun hanya berlangsung lewat WhatsApp.

Terakhir, 6 Juni, saya mengirim pesan lewat WA. Tapi tidak dibalas. Mungkin masa itulah almarhum sedang mengalami gangguan kesehatan atau tengah dalam perawatan medis. Terakhir media meeting yang dia rencanakan pada 22 Juni lalu pun dibatalkan.

Bukan karakter Tjahjo tak membalas pesan sahabatnya. Begitu eratnya hubungan kami, hampir tidak pernah ada acara keluarga maupun perusahaan Cek&Ricek Group yang tidak dihadiri oleh Tjahjo.

Lebih sepuluh tahun lalu ketika program infotainment mendapat sorotan ormas keagamaan, Tjahjo tampil menengahi. Saya ingat dia menelepon elite NU (Nahdlatul Ulama), KH Said Agil Siradj, agar menerima penjelasan saya. Setelah bertemu dengan KH Said Agil Siradj di kantor PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat, persoalan pun kelar. Tjahjo Kumolo senang sekali menyambut penyelesaian itu.

Kami punya grup "Dragon", komunitas sahabat seperjuangan. Anggotanya lintas profesi, berbagai latar belakang politik tapi dipersatukan oleh persahabatan. Dipimpin Karni Ilyas dengan anggota, Timbo Siahaan, politikus Suparlan, Sugeng Suprawoto, Adang Ruchiatna, Yohannes Hardian, Wahyu Muryadi, Yopie Hidayat, Danie Soeoed, dan beberapa lagi.

Di WAG (WhatsApp Group) Dragon tadi siang, Karni Ilyas menyatakan perasaan berkabung secara mendalam.

"Geng Naga rontok satu persatu," tulisnya.

Memang ada beberapa sahabat yang telah pergi mendahului, antara lain: Yusirwan Uyun, Mohammad Yamin, dan Albert Cahyadi.

Sebelum Tjahjo menjadi menteri, kami bertemu secara teratur minimal sekali sebulan sambil bersantap malam. Di WAG "Dragon" dan di WAG "Komengsong", Tjahjo cukup aktif menyapa.

Tiada lagi Mas Tjahjo. Semoga Husnul Khotimah. Al Fatihah.

Penulis adalah wartawan senior
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA