Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Wanita Rela Mati demi Bokong Gede

OLEH: DJONO W OESMAN
  • Rabu, 22 Juni 2022, 12:19 WIB
Wanita Rela Mati demi Bokong Gede
Ilustrasi/Net
MAHASISWI inisial I (22) yang tewas di Apartemen Cipulir, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Juni 2022, diungkap polisi. Gegara perbesar bokong, dengan suntik filler.

Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto kepada pers, Senin (20/6) mengatakan:

"Berdasarkan hasil autopsi, ada gangguan jaringan. Nah, detail soal ini tentunya dokter yang akan menjelaskannya. Yang jelas kesimpulan yang disampaikan pada kami selaku penyidik, diduga penyebab matinya ada gangguan jaringan yang disebabkan oleh masuknya benda ke dalam di bokong korban."

Itu suntikan filler. Atau operasi plastik pembesar bokong. Tepatnya disebut Brazilian Butt Lift (BBL). Dinamakan Brazilian, sebab BBL dimulai di Brasil pada 1950. Oleh dokter ahli bedah bernama Ivo Pitanguy.

Di kasus kematian I, sudah ditetapkan seorang tersangka inisial LL, yang transpuan. LL sudah ditangkap dan ditahan di Polres Jakarta Selatan sejak Kamis, 9 Juni 2022.

Kombes Budhi menjelaskan, I adalah mahasiswi universitas di Jakarta, asal Cirebon. I indekos di Jakarta.

Pada Rabu, 8 Juni 2022 pukul 11.00 ia ditemukan tewas di satu kamar apartemen kawasan Cipulir. Penemunya tetangga kamar, yang curiga bau busuk. Si tetangga melapor ke pengelola apartemen.

Saat pintu kamar apartemen dibuka, bau busuk kian menyengat. Di tempat tidur ada sesosok tubuh tertutup selimut. Setelah dibuka, itulah I dalam kondisi telanjang. Tubuhnya membusuk. Segera dilaporkan ke polisi.

Polisi membawa jenazah ke RS Fatmawati. Tim medis memperkirakan, I sudah meninggal sekitar empat hari dari saat ditmukan. Lalu diotopsi. Hasilnya seperti di atas.

Polisi memeriksa saksi-saksi, juga rekaman CCTV di TKP. Diketahui, orang terakhir yang bersama I adalah LL. Dari CCTV tampak, mereka akrab. Siapakah LL?

Kombes Budhi: "Tersangka LL punya salon kecantikan. Di salon ini sering melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu (suntik filler). LL akrab dengan korban, terbukti dari CCTV, LL menjemput korban di lobby apartemen." Itulah saat terakhir hidup I.

Dikutip dari situs US Food and Drug Administration (FDA), suntik silikon tidak disetujui FDA untuk prosedur estetika. Terutama penambahan tubuh: Payudara dan bokong.

Silikon yang diizinkan, bukan pengisi dermal (tambah daging, berbahan lemak). Yang diizinkan pengisi kulit. Misalnya, bentuk bibir, garis pipi, membentuk garis rahang. Itu pun harus dilakukan dokter ahli bedah plastik.

FDA: "Jangan pernah suntik silikon pengisi dermal. Karena bisa cacat permanen, bahkan kematian."

Suntikan silikon adalah memindahkan lemak dari bagian tubuh tertentu (kebanyakan dari perut) ke bagian tubuh yang dikehendaki (biasanya bokong atau payudara). Biar kelihatan sintal.

FDA: Itu menyebabkan nyeri jangka panjang, infeksi, dan cedera serius. Yakni, jaringan parut dan cacat permanen. Paling parah, emboli (penyumbatan pembuluh darah), stroke, dan kematian.

Profesor James D. Frame, profesor bwdah plastik kenamaan dunia dari Anglia Ruskin University, London, Inggris, mengatakan, BBL banyak membunuh wanita yang ingin tampil cantik. Padahal, cantik itu relatif.

Prof Frame sehari-hari berpraktik, memimpih tim bedah plastik di Rumah Sakit Springfield, Chelmsford. Inggris. Ia dalam wawancara dengan CNN, 29 Agustus 2018, bertajuk "Why Butt Lifts Can be so Dangerous?", menjelaskan proses BBL. Begini:

Intinya, pengambilan lemak dari area tubuh yang tidak diinginkan pasien. Lalu memindahkannya ke area tubuh tertentu sesuai keinginan pasien.

Itu disebut cangkok lemak. Praktiknya membutuhkan nutrisi. Lalu disuntikkan ke jaringan yang memiliki suplai darah. Lemak dapat bertahan jika disuntikkan ke lemak lain, tetapi hingga 90% darinya dapat diserap jika disuntikkan.

Lemak berpeluang besar bertahan, jika dimasukkan ke dalam otot. Tapi, di sinilah risikonya.

Menyuntikkan lemak ke otot di bokong, dapat dengan mudah menyebabkan masalah serius jika dilakukan secara tidak benar. Ketika lemak memasuki aliran darah, bisa menyumbat pembuluh darah. Itu disebut emboli lemak.

Di paru-paru, menghalangi oksigen memasuki aliran darah. Sedangkan, di otak bisa menyebabkan stroke. Keduanya bisa berakibat kematian.

Volume lemak yang diambil, lalu disuntikkan, faktor penting. Kebanyakan ahli bedah menganggap 300 mili liter, sebagai jumlah yang aman. Namun, beberapa ahli bedah yang lebih berpengalaman, berani menggunakan volume lemak yang jauh lebih besar yang dapat diukur dalam liter.

Itu tergantung keinginan pasien. Sekitar 300 ml, jika diratakan di bokong, maka perubahannya kurang kelihatan. Ahli bedah berpengalaman berani menambah volume aman itu, dan bersifat gambling.

Dokternya paham, bahwa itu gambling. Tapi yang gambling adalah pasien. Bukan dokter.

New York Post edisi 7 Juni 2022, bertajuk "Beauty is Considered a Human Right in This Country", mengisahkan pengalaman wanita nyaris mati akibat BBL.

Naskah New York Post itu dikutip dari Kennedy News and Media, yang mewawancarai wanita Inggris berambut pirang, Courteney Smith (25), ibu dari dua anak. Dia merasa, setelah beranak dua, bokongnya tidak seksi lagi. Maka, dia mencari tahu operasi BBL.

Dia dapat info dari internet, sebuah klinik di Turki. Sebab, di Inggris tidak ada rumah sakit atau klinik yang berani melakukan operasi BBL.

Smith dari Hertfordshire, Inggris, berangkat ke Turki, awal Agustus 2020. tiba di tempat tujuan, dia membayar biaya operasi.

Smith kepada Kennedy News and Media: “Segera setelah mereka mengambil uang dari saya, semuanya berubah,” kata Smith. “Mereka sangat tidak profesional. Saya pikir, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Antara lain, tanpa pertemuan pra-operasi. Biasanya, di pertemuan itu dokter menyampaikan berbagai hal kepada pasien. Termasuk semua risiko. JIka pasien merasa mantap, barulah operasi dilakukan.

Pengalaman Smith tidak begitu. Dokter laungsung tancap gas, operasi.

Smith bangun, setelah lima jam proses operasi. "Ketika saya bangun, saya berbaring di pantat saya," katanya. Maksudnya, telentang.

"Jelas, Anda tidak dimaksudkan untuk berbaring di pantat, ketika Anda baru saja menjalani operasi BBL. Anda seharusnya tidur di depan Anda." Maksudnya, telungkup.

“Rasa sakitnya 1.000 kali lebih buruk daripada melahirkan, yang tanpa pereda nyeri. Itu tak tertahankan,” kenangnya. "Saya benar-benar berpikir saya sedang sekarat."

Smith lalu minta cermin, untuk melihat bokongnya. Dia terkejut, bokongnya merah membara. Dia menahan sekuat tenaga agar tidak histeris. Menahan sakit begitu rupa.

Namun, tak tertahankan juga. “Ketika mereka melepaskan pakaian saya, saya berteriak dan menangis karena saya sangat kesakitan,” kata Smith. "Punggung saya tampak seperti saya menjalani cangkok kulit. Itu merah mentah."

Smith buru-buru dipindahkan ke vila pemulihan pasca-operasi di dekat klinik. Sampai di sana dia terkejut. Di sana tak ada dokter. Hanya ada seorang admin pria yang tidak mengerti medis.

Esoknya, dengan tertaih dia naik taksi, kembali ke klinik. “Saya menanyai mereka tentang mengapa ada memar di bawah dada. Mereka menjawab, pada dasarnya itulah sedot lemak,” kata Smith.

Oya... Smith minta memindahkan lemak dari perut (di sekitar pusar) ke bokong. Tapi, bukan hanya perut yang memar, melainkan juga dadanya ikut memar dan berkerut.

Dalam kondisi kesakitan dan frustrasi, Smith pulang ke Inggris. Mendatngi dokter langganan.

Smith: "Dokter mengatakan, memar itu karena resusitasi. Dijelaskan detil. Sangat mengerikan. Saya tidak pernah punya masalah liver. Tapi, dikatakan, liver saya bermasalah akibat suntikan BBL."

Setelah menjalani serangkaian tes, Smith dinyatakan menderita sindrom Brugada. Suatu kondisi yang mempengaruhi cara sinyal listrik melewati jantung, dan dapat menyebabkan jantung berdetak sangat cepat, tanpa

Smith menjalani pengobatan rutin. Dan, sampai diwawancarai wartawan Kennedy News and Media, dia masih sakit. "Saya sangat menyesal melakukan BBL. Saya berharap jangan ada wanita lain jadi korban mereka," tutupnya.

So... mahasiswi I di apartemen Cipulir, diduga mengalami seperti yang dialami Smith. Dari segi usia, antara I dengan Smith, beda-beda tipis. Yang mereka alami, kira-kira sama.

Bedanya, nasib Smith lebih baik daripada I. Karena, masih diberi kesempatan hidup.

Penulis adalah Wartawan Senior
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA