Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Pembuktian Ilmiah Geopolitik Bung Karno

OLEH: ANTON DH NUGRAHANTO*

Senin, 13 Juni 2022, 11:36 WIB
Pembuktian Ilmiah Geopolitik Bung Karno
Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno bersama Presiden Amerika, John Kennedy sesaat sebelum berangkat di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Washington, 24 April 1961/Net
BANYAK yang mengira bahwa peranan Bung Karno dalam sejarah hanya sebatas memerdekakan Indonesia, padahal arti penting Bung Karno jauh lebih dari itu.

Bung Karno memiliki pandangan visioner tentang bagaimana seharusnya tatanan dunia tersusun yang lebih mengedepankan Co-Existence atau Ko-eksistensi ketimbang tatanan dunia yang saling mengeksploitasi.

"Lu ada, Gue ada” istilah Bung Karno dalam bahasa Betawi yang diungkapkannya dalam pidato pada tahun 1960, tatanan dunia yang saling mengakui, damai atau pasifis, humanisme, ekonomi kolektif, berkebudayaan, dan mencintai alam.

Ada dua periode besar jalan pemikiran Bung Karno, periode pertama langkah memerdekakan bangsanya dan periode kedua adalah ikut mengembangkan “tatanan dunia baru” yang didasarkan pada daya hidup kelola Ko-Eksistensi menggantikan tatanan dunia lama yang dianggap Bung Karno “mengeksploitasi” antara negara kuat dengan negara lemah, antara kekuatan kapital kuat kepada pihak yang menyerahkan tenaga dan sumber dayanya pada kapital yang kuat atau l'exploitation de l'homme par l'homme.

Pada periode pertama puncaknya adalah pidato “Indonesia menggugat”di Landraad (Pengadilan Kolonial), Bandung tahun 1930 dengan pisau sejarah, Bung Karno mengungkap asal-muasal kolonialisme dan imperialisme yang menjadi penyebab kesengsaraan jutaan manusia Indonesia.

Dan pada periode kedua adalah pidato Bung Karno di Konferensi Asia Afrika, di Bandung tahun 1955 yang kemudian digenapi pada pidato Bung Karno di PBB “To Build World A New” di New York, tahun 1960. Di sini Bung Karno mengajak seluruh dunia bergabung ke poros baru yang dibentuknya, “Poros Negara-Negara Kekuatan Baru, New Forces” dan mengembangkan manifesto dunia didasarkan Ko-Eksistensi.

Selama tahun 1956 sampai 1965 Bung Karno aktif melakukan diplomasi tingkat dunia dan berkeliling dunia untuk mengembangkan gagasannya. Bila gagasan Bung Karno, tentunya dunia yang kita kenal sekarang akan berbeda, dunia yang disusun Bung Karno adalah dunia tanpa eksploitasi antara negara kuat mengisap negara lemah, pasifis, dunia yang humanis dan berkebudayaan.

Namun ironisnya, Bung Karno hanya dikenal sebatas tokoh yang memerdekakan bangsanya, Bung Karno tidak dikenal sebagai “Tokoh Dunia” yang menciptakan peradaban baru oleh banyak orang Indonesia. Bahkan intelektual Indonesia generasi baru sekali pun tidak mengenal Bung Karno sebagai tokoh dunia penting.

Ketokohan Bung Karno dalam memori kolektif bangsa Indonesia hanya terbatas dalam lingkup nasional, dan ini mendapatkan pengakuan negara secara formal bersama Bungh Hatta, Bung Karno diberikan gelar Pahlawan Proklamator, namun peran Bung Karno dalam diplomasi dunia internasional yang sebenarnya amat berpengaruh dalam tatanan dunia baru hilang dalam memori kolektif bangsa Indonesia.

Padahal Bung Karno menawarkan tatanan dunia baru, geopolitik Sukarno dijadikan alat tawar untuk menggantikan “Geopolitik Perang Dingin” sebuah tatanan dunia yang didasarkan pada pembelahan dunia pasca kalahnya Jerman Nazi oleh kubu Amerika Serikat-Inggris-Soviet Uni tahun 1945.

Pada masa Truman-Stalin, maka terciptalah belahan dunia barat yang didasarkan pada sistem kapitalis dan belahan dunia timur yang didasarkan pada sistem komunisme. Dan bagi negara-negara adidaya itu tak boleh ada warna abu-abu.

Bung Karno melihat bahwa perang dingin hanya menghidupkan sistem yang lebih jauh dari kolonialisme, yaitu neo kolonialisme dan imperialisme yang lebih menitik beratkan arus kapital. Kedua-duanya menurut Sukarno, baik Amerika Serikat dan Soviet Uni adalah negara imperialis. Untuk itu Sukarno menawarkan pemahaman baru New Order: Poros negara nonblok.

Di masanya pada dekade 1960-an pemikiran geopolitik Sukarno kerap diejek oleh intelektual Indonesia pro barat sebagai “Menara Gading Sukarno”, “Proyek Mercusuar Sukarno” bahkan diejek sebagai “Halusinasi Sukarno” yang justru membawa Indonesia pada keterpurukan.

Bahkan setelah jatuhnya Bung Karno, pada masa Orde Baru yang panjang selama 32 tahun, Pemikiran Sukarno direndam dalam dalam dan ingatan kolektif rakyat pada Bung Karno dibunuh.

Pemikiran-pemikirannya dimusuhi oleh Pemerintahan Suharto yang saat itu lebih memilih barat sebagai patron politiknya. Padahal pemikiran Bung Karno masih sangat aktual dilihat dari perkembangan dunia sekarang apabila segala sentimen negatif yang dipropagandakan Orde Baru dikesampingkan dulu.

Beruntung gagasan geopolitik Sukarno tak sepenuhnya mati, ada disertasi baru yang ditulis tokoh penting politik Indonesia, Hasto Kristiyanto dalam studi doktoralnya. Arti penting dari desertasi ini justru bukan sekedar membangunkan memori kolektif rakyat atas pemikiran Sukarno, bukan sekedar gagasan tapi sudah berada dalam “Ruang Tindakan”.

Hasto dikenal sebagai tokoh penting dibalik naiknya Pemerintahan Jokowi, ia juga Sekjen PDI Perjuangan, sebuah partai besar yang memiliki jutaan kader. PDI Perjuangan di bawah ketua umumnya Megawati secara konsisten mengusung ajaran Bung Karno sebagai garis politiknya. Dan studi Doktoral Hasto ini juga diuji oleh Megawati secara ilmiah.

Ada situasi batin dalam perumusan pembuktian ilmiah geopolitik Sukarno. Megawati mewakili generasi yang menyaksikan penindasan atas segala bentuk yang “berbau” Sukarno dan menjadi generasi yang menjadi penjaga ikatan Kaum Sukarnois dibawah penindasan Orde Baru dan Hasto mewakili generasi baru yang membawa gagasan Sukarno kembali dalam arus besar sejarah Indonesia.

Jelas Desertasi “Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno Dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Negara” menjadi ‘alam tindakan’ karena representasi Hasto Kristiyanto sendiri sebagai penggerak politik utama di Indonesia.

Disertasi itu dibacakan pada momen kelahiran Bung Karno, 6 Juni 2022 dan diuji beberapa guru besar salah satunya Megawati. Ini sangat unik dalam sejarah Sukarnois di Indonesia.

Gagasan Hasto sendiri menuliskan disertasi ini didasarkan pada perbincangan kecilnya dengan Megawati di Slovenia beberapa tahun lalu.

“Saya ingat di masa Bung Karno dulu Indonesia begitu dielu-elukan sebagai kekuatan baru. Tapi kenapa sekarang peranan Indonesia lemah sekali? bahkan kita diejek oleh negara kecil seperti Vanuatu”.

Alasan lain adanya pertemuan antara Kim Jong Un dengan Donald Trump ditetapkan di Singapura, bukan di Jakarta menunjukkan betapa lemahnya peranan diplomatik Indonesia di mata dunia Internasional.

Perbincangan kecil inilah yang mengatalisator Hasto untuk menguji secara ilmiah teori geopolitik Sukarno serta membuka lagi peranan Indonesia yang aktif di dunia Internasional seperti masa Bung Karno.

Alasan Indonesia lemah secara ekonomi bukan jadi alasan, karena di masa Bung Karno ekonomi Indonesia masih dalam tahap perkembangan yang terpenting adalah “Kesadaran akan adanya susunan dunia baru” yang oleh Bung Karno disebut Ko-Eksistensi.  

Sudah banyak buku yang membahas Sukarno, seperti biografi politik Sukarno ditulis Bernhard Dahm atau Sejarah Sukarno Bob Hering dan puluhan buku lain tentang Bung Karno baik yang bernada positif maupun negatif, arti penting disertasi Hasto (bila dijadikan buku) ini dibandingkan puluhan buku lainnya akan jadi acuan dalam “ruang tindakan”.

Bagaimana tidak, sidang Doktoral Hasto Kristiyanto diuji Megawati sebagai tokoh politik paling penting Indonesia dan pemimpin partai terkuat saat ini. Dengan berbagai Guru Besar lainnya yang berkaliber nasional salah satunya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan dihadiri banyak menteri ini artinya mulai ada pengakuan negara terhadap pemikiran geopolitik Sukarno.

Apa yang diajukan Hasto dalam “Teori Progressive Geopolitical Coexistence” memberikan spirit baru tentang kepemimpinan Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara untuk dunia.

Disertasi ini adalah ‘Rediscovery of Sukarno Thought’. Di dalamnya ada analisis ilmiah tentang the ideological power of Sukarno’s geopolitic dan the power of Sukarno diplomacy.

Ada kekuatan ideologi dalam Geopolitik Sukarno dan kekuatan diplomasi Bung Karno dalam tujuannya menyusun tatanan dunia baru di mana solidaritas bangsa-bangsa dikedepankan dan struktur PBB harus diubah agar sistem internasional tidak lagi anarkis.

Dihadapan promotor dan penguji yang total sebanyak 10 Profesor dan 3 Doktor tersebut, Hasto di bawah bimbingan Prof. Purnomo Yusgiantoro, Laksdya (TNI) Prof Octavian, dan Letjen (TNI) DR. I Wayan Midhio, mampu secara ilmiah mengonstruksikan teori geopolitik Sukarno sekaligus konfirmatori secara kuantitatif. Disertasinya membuka lagi peranan Indonesia yang aktif di dunia Internasional seperti masa Sukarno.

Disertasinya itu akan dijadikan buku acuan oleh diplomat-diplomat muda Indonesia dalam mewujudkan geopolitik Sukarno. Belum lagi jutaan kader PDI Perjuangan yang digembleng dalam sekolah-sekolah Partai pasti diajari kurikulum pemahaman geopolitik Sukarno yang telah diuji keilmiahannya. Dan menjadikan mereka “Bung Karno-Bung Karno Muda” yang berperanan bagi masa depan dunia.

Disertasi Hasto Kristiyanto dalam geopolitik Sukarno adalah jalan terang mewujudkan kembali pemahaman Bung Karno terhadap ‘susunan dunia baru Ko Eksistensi’ oleh generasi muda Indonesia dan diwujudkan dalam ruang tindakan.

*Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA