Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Politikus Balita

OLEH: MOCHAMMAD BAAGIL

Jumat, 20 Mei 2022, 09:23 WIB
Politikus Balita
Ilustrasi/Net
PERNAHKAH anda melihat anak kecil yang meminta sesuatu dengan cara merengek? Semakin ekspresif rengekannya semakin tinggi daya tawarnya. Semakin ia mempermalukan orangtuanya di hadapan umum semakin tak berdaya orangtuanya, meski kita melihat ada orangtua yang tetap tegar.

Bukan karena tidak punya malu, ia pasti sangat malu, tapi ia sembunyikan karena untuk mendidik anaknya. Sekali ia turuti esok ia akan menggunakan cara yang sama. Tapi jika ia bertahan menahan rasa malu, maka esok anak balitanya akan tahu usahanya merengek di depan umum akan sia-sia dan lama kelamaan sikapnya akan dewasa.

Menurut psikolog Susan Heitler, ada dua jenis umur manusia: umur jasmani atau umur kognitif dan umur emosional atau psikologi. Keduanya bisa sama bisa salah satunya lebih tua dari yang lainnya.

Anak balita selalu ingin merebut benda apapun yang dia inginkan dari siapapun, terjadi baik ia dari keluarga mampu atau tidak mampu. Kepuasannya hanya tercapai ketika ia berhasil merebutnya, selanjutnya ia letakkan lalu merebut sesuatu lagi dari tangan orang lain.

Politikus dan politik kekanakan pun demikian. Ia selalu berusaha mengklaim, merebut dengan cara apapun kekuasaan terendah sampai tertinggi. Mereka tidak mau menunggu giliran. Sama seperti anak kecil yang tidak pernah mau menunggu giliran ketika melihat sesuatu yang dipegang anak lainnya.

Ia cenderung membuat heboh, membuat rusuh suasana agar memiliki daya tawar tinggi, agar ia diberi power sharing lebih oleh lawan politiknya yang menang, dari hanya apa yang seharusnya ia dapat.

Masih menurut Susan Heitler, ada 10 tanda ciri sifat kekananakan yang dapat diidentifikasi.

1. Eskalasi emosi
Politik kekanakan lebih cenderung mudah ngambek, marah-marah. Kesalahan kecil apapun akan dibesar-besarkan menjadi masuk ke ranah yang lain. Ia cenderung membesarkan persoalan kesalahan pribadi menjadi penghinaan terhadap agama, bangsa, etnis atau golongan tertentu.

Budaya, agama, etnis, apa saja ia masukkan untuk menyulut emosi. Tidak cenderung memahami. Seperti anak kecil, ia akan merengek, menangis keras, berguling-guling atau memecahkan apapun. Memecahkan persatuan jika perlu.

2. Cenderung menyalahkan.
Anak-anak lebih cenderung menyalahkan. Apapun disalahkan walau itu kesalahan dia. Ketika ia jatuh sang ibu dengan sigap menyalahkan lantai sambil memukul lantai. Memukul meja jika ia terantuk meja. Politikus kekanakan pun begitu, jika kalah bertarung dia cenderung menyalahkan siapa pun walau kubunya sendiri, dan apalagi yang berseberangan dengannya.

3. Berbohong
Anak-anak lebih cenderung berbohong ketika terjadi kesalahan. Politikus yang tidak matang lebih mudah berbohong ketimbang mengakui kesalahan walaupun secara jelas dia melakukannya. Ia berkelit dengan cara apa pun untuk tidak menyatakan kesalahannya, walau semua orang tahu itu kesalahannya.

Yang berbahaya pada jenis ini adalah agamawan yang berpolitik, lalu berbohong. Mereka justru tidak me-respect orang yang jujur mengakui kesalahan, bahkan menjadikannya bukti bahwa dia yang paling benar.

4. Mengumpat atau memaki.
Anak-anak lebih cenderung mengumpat dan memaki siapa pun yang dianggap lawannya ketimbang menyelesaikan masalah dengan dialog misalnya. Orang dewasa tidak melancarkan serangan ad hominem, atau mengumbar kelemahan pribadi lawannya di hadapan umum agar mental orang lain jatuh. "Sholat saja tidak becus, tidak kelihatan sholat jumat" misalnya, atau "baca Al Fatihah aja 'Al patekah' kok mau mimpin ratusan juta muslim, misalnya.

5. Impulsif
Impulsif itu artinya tidak ada jeda. Anak-anak cenderung langsung membalas jika disakiti tanpa perlu merasa perlu memahami dulu ada apa sebenarnya. Begitu juga para politisi kekanakan, ketika ia atau kelompoknya merasa disakiti. Ia langsung menyerang balik, menggebrak, tanpa mau "tabayyun" atau klarifikasi dulu. Ia cenderung menyergah, mengambil jalan pintas untuk merespon bagaimana seharusnya bersikap.

Dalam komunikasi di media sosial ia mudah memblock, meremove atau unfriend siapapun yang mengkritiknya meski kritik yang dapat dijawab dengan data dan fakta. Soal benar salah apa yang terjadi adalah nomor dua.

6. Caper, cari perhatian.
Perhatikan anak-anak jika di tengah kumpulan orang dewasa, cenderung bertingkah atau berbicara kepada orang tuanya sambil matanya memperhatikan orang-orang. Ia ingin mendapat perhatian dari mereka.

Politisi balita cenderung ingin selalu diundang di acara-acara TV yang tersohor, menyodorkan kawannya atau dirinya untuk berbicara di acara paling bergengsi. Tujuannya adalah supaya orang-orang mengenalnya, bertanya-tanya: 'siapa dia?', meski orang-orang memang bertanya tapi justru dengan nada berbeda: MEMANG SIAPA DIA?!!! Biasanya ini terjadi pada politikus baru, atau ustaz baru, atau baru mau di-ustaz-kan.

7. Merisak
Anak-anak cenderung merisak, merebut mainan anak yang lain, menangis sekeras-kerasnya, ngambek jika tidak mendapatkannya. Cenderung mengklaim kemenangan, ngambek, dan berusaha merebut dengan cara apapun sebuah posisi tanpa prosedur apapun. Dan yang lain cenderung diam dan membiarkan dan tidak menanggapi karena khawatir ia akan semakin menjadi-jadi.

8. Narsis.
Anak-anak balita cenderung narsis. "Siapa yang cantik?" Ia langsung mengacungkan jarinya. "Siapa yang pinter?" Ia langsung mengacungkan jarinya. "Siapa yang goblok, tidak tahu diri, tidak islami, tidak tau agama tidak cinta ulama?" Ia akan mengarahkan telunjuknya ke semua lawan politiknya.

9. Mekanisme pertahanan diri yang primitif
Anak kecil, walau semua mata menyaksikan ia yang menjatuhkan piring, akan berkata orang lain yang memecahkannya. Ia akan menangis sekeras-kerasnya agar ia tidak disalahkan. Orang yang dewasa cenderung mengumpulkan data, menganalisa, membahas penyebabnya dan mencari solusinya. Anak-anak cenderung menyalahkan dari sudut pandang yang berbeda.

Politikus yang kekanakan cenderung menyerang dan sembunyi di belakang tameng. Serangan yang paling effektif untuk mengundang emosi sesama mereka agar juga untuk ikut serta adalah serangan dengan dalil Agama lalu bersembunyi dibalik teks-teks suci Agama. Apa pun kesalahan orang akan ia hubung-hubungkan dengan kesalahan terhadap agama.

Pelecehan terhadap Agama kriminalisasi terhadap ulama, walau tokoh yang mereka anggap ulama karena berbicara dengan teks kitab suci itu adalah benar-benar kriminal. Menyesatkan dan mengkafirkan adalah senjata yang sedang tren saat ini bagi mereka. Yang tidak bersama mereka berarti bersama orang sesat, bersama orang kafir.

10. Hilangnya kesadaran
Orang dewasa akan cenderung menilai sikap lepas kendalinya dan mengambil jarak, lalu memohon maaf. Orang yang kekanakan cenderung menganggap lumrah sikap marah-marahnya dengan berbagai dalih. "Karena dicurangi, karena dikriminalisasi", jawaban mereka. Mereka cenderung mencari pembenaran kemarahannya dan membelanya (istilah para therapist adalah ego syntonic). "Itu bukan marah tapi tegas", atau "menggebrak meja bukan marah-marah, tapi memang sikapnya begitu". Orang dewasa mudah mengambil jarak dengan sikapnya yang lepas kendali dan menganggap itu memang kesalahan dan tak selaras dengan nilai-nilai kepribadiannya (ego dystonic).

Setelah menuliskan hipotesa Susan Heitler di atas tampaknya bukan hanya politikus, namun kita semua bisa jadi memiliki dia usia yang jauh berbeda. Jika anda mulai tersinggung dengan tulisan di atas, boleh jadi usia psikologis anda tertinggal jauh di belakang dari usia biologis anda.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA