Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Eidul Fitr, Perjalanan Kembali Kepada Dzaat

OLEH: MOCHAMMAD BAAGIL

Selasa, 03 Mei 2022, 10:23 WIB
Eidul Fitr, Perjalanan Kembali Kepada Dzaat
Masyarakat akan melangsungkan Shalat Ied di Masjid Istiqlal Jakarta/RMOL
BUKAN “Minal aizin wal faizin”, tetapi “Minal ‘aaidiin wal faiziin” kata kawanku kepada yang lain. Padahal ia tidak berbahasa arab, tidak pula nyantri di pesantren. Ia hanya mendengar dan meniru kritik dari ustadnya yang menyalahkan orang-orang di hari yang harusnya penuh maaf.

Di kampung nenek saya, orang-orang kampung malah menyebutnya “minal aijin wal paijin”, tak bermakna apa-apa dalam bahasa arabnya, tapi ketulusannya dalam menguicapkan bermakna tinggi bagi saya.

Saya heran dengan mereka yang sibuk dengan orang yang membenahi susunan kata itu. Banyak orang yang menyebut Surah Al Fatihah dengan "al patekah" dan orang-orang agamis itu mengkritiknya, bahkan memolitisir aksen itu untuk tujuan kelompoknya.

Dengarkan kisah ini yang saya kutip dari sebuah buku karya seorang intelektual Islam di tanah air “Halaman Akhir”, kisah yang dituliskan oleh Sa’di dalam Gulistan:

Saya dengar kisah seorang raja yang memberi isyarat untuk membunuh tawanannya. Orang malang itu dalam keadaan putus asa, dan ia mulai mencaci-maki raja dan mengeluarkan kata-kata kotor. Bak pepatah, “Siapa saja yang membersihkan tangan kehidupan, semua yang ada dalam hatinya ia ungkapkan

Dalam bahaya ketika kau tak mungkin meloloskan diri, tanganmu akan nekad memegang ujung pedang yang tajam. Jika orang putus-asa, lidahnya akan panjang, seperti kucing, yang menyerang anjing yang mengalahkannya.

Raja bertanya, ‘apa katanya?’ Salah seorang mentri raja yang baik budi berkata: “Baginda, Tuhan berfirman: .. orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia”. Raja jatuh iba kepada orang itu dan tidak jadi membunuhnya. Mentri yang lain, saingan mentri yang tadi, berkata: ‘orang seperti kita hanya boleh berkata yang benar dihadapan raja. Orang ini sudah melecehkan raja dan mencaci raja’. Mendengar ucapan ini, raja pun gusar dan berkata: ‘Kebohongan yang dia ucapkan lebih bisa diterima ketimbang kebenaran yang engkau ucapkan, karena dia mengucapkannya dengan niat baik dan engkau mengucapkannya dengan niat buruk. Orang bijak berkata:

Kebohongan yang mendatangkan kebaikan lebih baik dari kebenaran yang membawa kekacauan.


Kata Ja’alanallahu min al ‘aaidiin wa al faaiziin berarti semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang beroleh kemenangan.

Jadi di setiap tahun kita kembali, kita lakukan dua mudik, mudik jasmani dan mudik ruhani. Mudik jasmani kita untuk menghancurkan ego kita dengan menghampiri sanak saudara dan kawan untuk meminta maaf, untuk menghancurkan bukit-bukit ananiyah atau ke-aku-an kita, bukit-bukit ke-ego-an kita yang telah kita tumpuk selama setahun dan memberatkan pungguung kita.

Mudik ruhani kita adalah kepada Allah SWT, mudik kepada pemilik segala milik kita, pemilik jasad dan ruh kita. Kata Ali Syariati, filsuf Persia itu, Al ‘Awda ila dzaat, atau kembali kepada Dzaat.

Pengibaratan manusia yang jauh dari Tuhannya dalam agama Nasrani adalah ibarat domba-domba yang tersesat, dan mereka yang kembali adalah domba-domba yang kembali ke kandangnya.

Dalam ajaran Islam, ketika kembali memenuhi perintah Allah SWT dan meninggalkan apa yang tidak diperbolehkan-Nya serta kembali kepada-Nya dengan rela bagai unta yang kembali kepada tuannya setelah sekian lama meninggalkannya dan akan disambut dengan gembira oleh tuannya, tak peduli seberapa lama kita telah meninggalkannya dan seberapa keras-kepala kita kemarin.

Tapi sayang, baru saja kita nyatakan kemenangan melawan hawa nafsu, melawan kesombongan intelektual kita, baru saja selesai kita beranjak dari tanah lapang untuk sholat eid, kita telah mulai kembali menumpuk beban di pundak kita.

Banyak di antara kita mungkin termasuk saya dulu yang menganggap bahwa makna min al ‘aaidiin wa al faaiziin adalah mohon maaf lahir batin. Biarkanlah orang menganggap itulah makannya tanpa perlu harus mengoreksinya, karena niat baiknya jauh lebih bernilai ketimbang makna lahir.

Mungkin seperti raja dalam kisah itu, Allah SWT akan menilai, kesalahan yang mereka lakukan dalam memaknai lafaz ucapan itu jauh lebih baik ketimbang kita yang mengoreksinya karena tujuan pamer intelektual.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA