Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

SKETSA RAMADHAN

Holland Park

OLEH: AKMAL NASERY BASRAL

Minggu, 10 April 2022, 11:25 WIB
Holland Park
BRISBANE, Juli 2016. Sekumpulan siswi SMA turun dari bis di depan gerbang sebuah  masjid. Imam Uzair Johnson, 45 tahun, menyambut gembira para tamu.

“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk berkunjung, Imam. Apakah mereka harus pakai kerudung untuk masuk masjid?” tanya guru perempuan yang menemani para siswi.

“Tidak usah. Mereka bisa kepanasan,” Imam Uzair tersenyum. “Ayo kita masuk ke ruang salat utama di lantai dua.”

Di ruang sejuk dengan karpet empuk, para ABG Australia duduk bersimpuh menutupi lutut mereka yang terbuka karena memakai rok pendek sekolah. Busana atas adalah seragam sekolah dengan dasi. Rambut pirang para siswi terurai bebas.  Seorang dari mereka mengacungkan tangan, bertanya. “Bagaimana cara seorang muslim mempraktikkan syariat di Australia?”

Imam Uzair Johnson--kelahiran Inggris dan belajar Islam di Pakistan--menjelaskan. “Umat Islam menjalankan syariat seperti orang Yahudi menjalankan agamanya atau pemeluk agama lainnya dengan ajaran mereka. Syariah itu artinya bagaimana berbuat baik kepada orang tua, kepada teman, cara beribadah yang benar, dan seterusnya. Sebuah panduan. Misalkan ada muslim yang datang ke satu tempat bukan tanah muslim, maka mereka tetap beribadah sesuai dengan ajaran Islam tanpa melanggar hukum setempat. Tak ada syariat Islam yang bertentangan dengan hukum Australia,” papar Imam Uzair.  Murid yang bertanya mengangguk puas.

Dialog berlanjut dengan aneka pertanyaan lain. Dari kaligrafi Al Fatihah yang ada di bagian depan ruang salat, sampai mengapa di dalam masjid tak ada patung orang suci layaknya di tempat ibadah agama lain.

Adegan di atas tersaji dalam film dokumenter The Mosque Next Door (2017), produksi SBS Australia yang tersedia di Netflix. Serial tiga episode yang ciamik ini berfokus pada aktivitas Masjid Holland Park--sekitar 10 km dari pusat kota Brisbane--salah satu Islamic Center di Queensland.

Masjid Holland Park dibangun tahun 1908 oleh perantau Afghanistan. Salah seorang generasi keempat keturunan pendiri masih bermukim di sekitar masjid. Namanya Janeth Deen, seorang neli (nenek lincah) yang gesit. Dia penggagas tiga tiang bendera di halaman masjid: satu untuk bendera Australia, satu bendera Federal, satu lagi bendera Aborigin. “Saya muslim Australia tulen,” ujar Janeth yang tak pernah menutup rambut pendeknya kecuali sedang salat.

Tahun 2016 adalah fase genting hubungan umat Islam Australia dengan kalangan Islamophobist  yang dipimpin Pauline Hanson, pemimpin partai One Nation. Hanson menyeru tak boleh ada lagi imigran muslim masuk ke Negeri Kanguru. Bagi yang sudah berada di Australia dan tak bisa beradaptasi dengan tradisi mereka, “Silakan kalian pulang ke negeri masing-masing. Saya dengan senang hati mengantar ke bandara dan melambaikan tangan ucapan selamat tinggal. Bye, bye,” ujarnya dalam satu pidato televisi yang viral.

Survei saat itu menunjukkan 49% masyarakat Australia mendukung ide Hanson. Seorang politisi sayap kanan lain berkampanye, “Senjata para teroris itu berasal dari masjid. Mereka juga dibina di dalam masjid,” ujarnya berapi-api.

Eskalasi kebencian terhadap Islam yang memuncak membuat pengelola Masjid Holland Park putar otak. “Tak ada gunanya mendebat haters di media sosial,” ujar Ali Kadri, 35 tahun, juru bicara masjid dan Presiden Asosiasi Muslim Queensland yang berdarah India. “Yang diperlukan adalah bertemu muka dengan cara mengundang mereka untuk melihat langsung kegiatan masjid.”

Salah seorang aktivis media sosial dan Islamophobist vokal yang diundang adalah Jason. Dia datang dan menghabiskan waktu berjam-jam di Masjid Holland Park pada satu hari Jum'at yang penuh kegiatan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Australia, televisi diberi akses 24/7 untuk merekam seluruh kegiatan Masjid Holland Park. Tanpa sensor. Dari ruang utama salat sampai gudang penyimpanan. Dari shalat Jum’at yang dihadiri 500-an jamaah dari 20-an kebangsaan, sampai madrasah anak-anak yang berlangsung setiap petang di gedung seberang masjid. Reporter televisi diizinkan mewawancarai siapa pun jamaah yang ingin mereka ketahui. Semua direkam kamera dan disajikan dalam tayangan yang jauh dari membosankan. Sebuah dokumenter yang menarik sebagai tontonan binge-watching.

Selain Imam Uzair Johnson dan Ali Kadri yang berfungsi bak sepasang tangan (“Saya mengurusi ibadah, Brother Ali Kadri mengurusi semua urusan non-ibadah,” ungkap Imam Uzair yang punya selera humor berkualitas dengan komentar-komentar lucu cerkas), sosok lain yang menonjol adalah Galila Abdelsalam, Presiden Asosiasi Perempuan Islam Queensland,  yang kritis namun juga persuasif.

Berasal dari Mesir, perempuan paruh baya itu menggagas pemberian makanan gratis di sebuah taman publik yang dipenuhi pengunjung pada Hari Australia. Target utama adalah keluarga Australia yang sedang berleha-leha. “Kami harus aktif mendekati mereka. Kalau menunggu  mereka yang memulai komunikasi bisa-bisa tak terjadi. Mereka tak tahu bagaimana cara mendekati muslimah karena belum terbiasa,” katanya.

Ide Galila berjalan lancar. Sekitar 90% warga di taman mau menerima makanan, sementara 10% sisanya tetap menjaga jarak dan memandang curiga. Seorang perempuan warga Australia yang mencicipi makanan gratis berkomentar. “Selama ini saya tak pernah mau membeli makanan dari muslim. Saya dengar cara mereka menyembelih hewan itu biadab. Tapi setelah mencicipi makanan ini dan mendapat penjelasan langsung, saya akan membeli makanan dari mereka setelah ini. Makanannya enak.”

Galila yang menutup rapat seluruh tubuhnya dengan hijab—berbeda dengan Janeth Deen—akhirnya bertemu Pauline Hanson pada satu acara. Keduanya bicara akrab dan selfie bersama. Terenyum lebar. Maryam, putri Galila, sampai geleng-geleng kepala melihat foto itu. “Mama saya memang Ratu Selfie. Tidak heran. Tapi kalau dia bisa selfie dengan Pauline Hanson, itu luar biasa.”

Sosok lain yang muncul adalah Robbie Maestracci dan Lamisse Hamouda, dua relawan Masjid Holland Park yang menangani program anak muda. Robbie warga asli Brisbane kelahiran 1981 (di film dokumenter baru berusia 35 tahun). Mantan pentolan gang motor dan pengedar narkoba yang sudah berulang kali keluar masuk penjara.

Badan superkekar dengan otot-otot bertumpuk seperti Hulk. Tubuhnya bak kanvas tato. Dari kedua lengan sampai wilayah kening dan belakang kepala yang plontos: tato, tato, dan tato.

“Saya masuk Islam lima tahun silam. Sejak itu punya misi pribadi untuk mengajak para kriminal mengenal Tuhan,” katanya.

Robbie menangani 20 remaja bermasalah. Menjadi teman bicara dan telinga bagi curhat mereka. Sebagai kakak dan mentor. “Tak ada hal yang mereka lakukan yang belum pernah saya kerjakan dulu,” katanya. “Saya bisa berubah seperti sekarang karena pendekatan Imam Uzair dan Brother Ali yang bisa menerima saya ketika masyarakat menjauhi saya.” Kini Robbie memperluas jangkauan programnya dengan mengunjungi para tahanan di penjara.

Kisah Lamisse Hamouda lain lagi. Janda cantik berdarah Mesir di usia 28 ini mendaku dirinya “ex, ex-Muslim”. Apa maksudnya? “Di awal umur 20-an saya keluar dari Islam. Tetapi hidup saya justru berantakan. Pekerjaan, pernikahan, hancur. Dengan orang tua putus komunikasi. Sekarang saya kembali pada Islam. Hubungan pribadi dengan ibu saya bagus lagi, begitu juga dengan jamaah Holland Park meski saya muslimah yang tak pakai hijab dan bertato,” katanya menunjuk lengan kiri belakang yang dirajah. “Saya tahu bahwa tato itu haram, tetapi bagaimana lagi? Inilah saya apa adanya.”

Jika Robbie berdakwah di penjara, Lamisse menyampaikan pengalaman hidupnya dengan sharing di bar milik kawannya atas permintaan sang pemilik.  Awalnya Lamisse ragu karena harus membuka aib sendiri. Tetapi atas dukungan adik lelaki dan adik perempuannya (yang berhijab), dia terima juga kesempatan itu.

Di depan pengunjung bar, Lamisse bercerita bahwa satu waktu saat alkohol merupakan sahabat dekatnya, dia berkunjung ke Masjid Kubah Emas ( Dome of the Rock) di Yerusalem. “Dalam keadaan teler dari malam sebelumnya, saya berdoa di sana. Waktu itu kedua adik saya ini masih kecil,” ungkapnya membuat hadirin, juga kedua adiknya yang hadir, terpingkal-pingkal. “Parah memang kelakuan saya saat itu. Tahun berikutnya, saya datang lagi bersama ayah dan kami berdoa di masjid itu lagi. Kali ini saya sudah clean, tidak teler. Saya sudah kembali yakin bahwa identitas saya memang seorang muslim meski belum sempurna."

The Mosque Next Door juga menampilkan kesulitan yang dialami Jamshed Jamil, pengungsi Afghanistan yang bekerja sebagai sopir Uber. Namanya ada pada daftar teroris Polisi Federal Australia (AFP) sehingga istri dan kedua anaknya yang masih di Afghanistan—mereka sudah terpisah delapan tahun—tak diizinkan masuk ke Australia.

Jamil meminta pengurus Masjid Holland Park membantunya karena dia pergi dari Afghanistan juga karena anti Taliban.

Jubir Ali Kadri bekerja cepat dengan menghubungi aparat hukum dan kepolisian Queensland. Salah satu tempat pertemuan adalah di ruangan masjid di mana Jamil diinterogasi intensif (saat interogasi berlangsung kamera tak boleh merekam).  Apartemennya digeledah seksama.

Setelah beberapa bulan pengusutan, pangkal masalah ditemukan. Rupanya Jamil pernah bercerita kepada salah seorang penumpang mobilnya tentang keadaan di Afghanistan. Meski dia anti-Taliban, namun Jamil menyebutkan beberapa hal yang baik dari kelompok itu.

“Cerita tersebut membuat sang penumpang menyimpulkan Anda seorang simpatisan Taliban sehingga dia laporkan Anda ke AFP sampai lima kali agar ditindak keras,” ujar seorang polisi yang menangani kasus itu. “Tetapi setelah kami selidiki, Anda tidak terafiliasi dengan Taliban atau kelompok teroris mana pun.”

Jamil lega. Tapi bagaimana dengan larangan terhadap istri dan kedua anaknya memasuki Australia? Ini bagian yang menarik diikuti layaknya sebuah subplot dalam sebuah kisah.

Subplot lain yang sangat mengharubiru ketika Galila berusaha menjodohkan Ali Kadri, masih lajang di usia 35, agar segera beristri. “Kamu jangan terus sibuk mengurusi umat Islam Queensland, urusi juga diri dan masa depanmu,” ujar Galila bak seorang ibu kepada anak kandungnya. Galila tak asal omong melainkan mencomblangkan Ali dengan seorang gadis cantik Mesir bernama Sarah, seorang psikolog berpembawaan riang. Akankah Ali-Sarah berjodoh dengan tipe kepribadian keduanya yang begitu berbeda?

Aktivitas jamaah Masjid Holland Park juga di bidang olahraga dengan menjadikan sebagian halaman mereka sebagai lahan berlatih kriket dan sebagai markas MCG ( Mosque Cricket Ground) yang ramai diikuti anak muda, termasuk Imam Zubair yang rajin berlatih.

Satu ketika berlangsung pertandingan persahabat tim nasional kriket Pakistan melawan Australia di stadion Brisbane. Rombongan Masjid Holland Park ikut berangkat menonton langsung. “Karena tampang kami, penonton lain menyangka bahwa kami mendukung tim Pakistan. Padahal mana ada ceritanya orang India mendukung Pakistan?” celoteh Ali Kadri terkekeh. “Saya mendukung tim Australia karena saya orang Australia. Betul nggak, Imam Zubair?”

Sang imam mengangguk seraya melepaskan bendera Australia yang melilit lehernya seperti selendang, seperti juga dilakukan penonton lain. Lalu dia berdiri dan melambai-lambaikan bendera Australia dengan kedua tangannya dari atas tribun penonton di tengah pertandingan yang berlangsung seru.

The Mosque Next Door adalah rekaman dokumenter otentik,  slice of lice yang apik, di mana narasi kebencian terhadap Islam yang sedang berkobar di seluruh dunia akibat kelakuan segelintir muslim radikal yang memercikkan noda kepada wajah umat Islam keseluruhan, ternyata bisa ditangani dengan cara bersahabat yang hangat bermartabat.

Para pengelola masjid di mana pun bisa menduplikasi strategi Masjid Holland Park membuka diri secara aktif kepada lingkungan, termasuk dengan mengundang masyarakat non-muslim datang ke masjid untuk melihat langsung semua kegiatan.

Ada alasan strategis dengan membuka diri seperti disampaikan Imam Uzair Johnson ketika menerima kunjungan para siswi SMA non-muslim. “Satu saat nanti mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Australia di berbagai pos pemerintahan. Jika mereka mendapat informasi tentang Islam dari tangan pertama dan bukan dari liputan media, itu akan membuat mereka punya pemahaman lebih dalam tentang Islam yang penuh damai. Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta,” katanya.

"Memang tidak mudah membangun jembatan seperti yang kami lakukan dengan umat lain karena ada saja kelompok seperti ISIS yang membakar jembatan dan menyulut kebencian publik terhadap Islam. Kami harus lebih sabar dan mengembalikan semuanya pada ajaran Al Qur'an."
Dari Holland Park satu bab kehidupan penuh dinamika tersibak. Menunggu dipelajari oleh mereka yang berhati dan berotak.

Akmal Nasery Basral telah menulis 24 buku, menerima penghargaan National Writer’s Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA