Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Muslim, Ramadhan dan Bulan Takwa

OLEH: M.NOOR HARISUDIN

Rabu, 06 April 2022, 14:44 WIB
Muslim, Ramadhan dan Bulan Takwa
Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, M. Noor Harisudin/RMOL
SAYA lebih senang menyebut bulan Ramadhan dengan Bulan Takwa. Umumnya, Ramadhan disebut sebagai bulan maghfirah atau bulan pengampunan. Ramadhan juga disebut bulan penuh berkah karena Tuhan memberikan limpahan berkah pada kita. Juga disebut bulan kedermawanan karena pada bulan ini orang berlomba-lomba menjadi dermawan. Dan nama-nama lain yang banyak jumlahnya.

Namun, yang jarang (dan masih belum) disebut adalah Ramadhan sebagai Bulan Takwa. Padahal, tentang tujuan takwa dalam puasa Ramadhan, Allah Swt. telah jelas berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Kata terakhir dalam ayat ini adalah La’allakum tattaqun. Artinya agar kamu sekalian menjadi orang bertakwa. Dalam sebuah kaidah yang disebut dalam kitab Ghayat al-Wushul karya Zakaria al-Anshari (tt): man lam yaqum bihi wasfun, lam yustaq minhu ismun. Orang yang tidak punya sifat tertentu, maka ia tidak boleh dinamai dengan sifat tersebut. Misalnya, seorang laki-laki yang pandai. Kata pandai hanya boleh disematkan pada laki-laki tersebut ketika ia memiliki sifat pandai.

Demikian juga, kata-kata takwa yang disebut dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 183. Ayat ini juga secara khusus menyebut kata la’allakum tattaqun (menjadi bertakwa) sebagai tujuan dalam berpuasa. Selayaknya bulan suci ini juga perlu mendapat penyebutan ‘gelar takwa’, tepatnya Ramadhan sebagai Bulan Takwa. Alasan utamanya bahwa penyebutan ayat Ramadhan dengan terma ketakwaan ini lebih eksplisit daripada penamaan bulan Ramadlan dengan nama yang lain.  

Bulan Takwa berarti bulan dimana muslim digembleng terus untuk bertakwa pada Allah Swt. Latihan selama satu bulan penuh di bulan Ramadlan sesungguhnya adalah latihan ketakwaan. Semua muslim dilatih mengendalikan diri sejak fajar hingga matahari terbit.

Semua muslim dilatih memiliki kepekaan sosial pada masyarakat dengan zakat dan bersedekah. Pun, semua muslim dilatih melakukan ibadah yang semakin mendekatkan diri pada Allah Swt. dalam shalat tarawih, tadarus al-Qur’an, shalat tahajud, shalat dhuha dan sebagainya.

Dalam Islam, takwa adalah segalanya. Takwa jauh lebih berharga daripada isi dunia. Dalam QS. Ali Imron: 14,  Allah Swt. berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt, menciptakan  semua yang dicipta-Nya di dunia sebagai perhiasan dunia. Termasuk dalam kategori perhiasan dunia adalah kemewahan dalam materi, pangkat, jabatan, dan popularitas. Hanya saja, semua materi dunia ini kalah dibanding dengan ketakwaan. Orang yang melakukan ketakwaan disebut sebagai orang-orang yang bertakwa.

Dalam ayat lain, Allah Swt juga berfirman:

“Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.(QS. Ali Imron: 15).

Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan adalah jauh lebih baik dari dunia dengan segala gemerlap duniawinya. Tak heran jika ukuran kemuliaan di sisi Allah Swt. adalah ketaqwaan, bukan ukuran kekayaan, pangkat, jabatan, ataupun kedudukan. Allah Swt berfirman “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi kamu adalah yang paling bertakwa diantara kalian”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Kemuliaan berbalut ketakwaan, adalah kemuliaan yang abadi dan bersifat selama-lamanya. Kemuliaan di dunia dan di akhirat juga. Ibnu Athailah al-Iskandari dalam kitab Hikam (tt) mengatakan: “Idza aradta an yakuuna laka’ izzun la yafna, fala tasta’izanna bi’izzin yafna”. Jika kau ingin kemuliaan yang tidak fana, maka sungguh jangan kau membanggakan kemuliaan yang fana. Kemuliaan yang tidak fana adalah kemuliaan yang abadi dan selama-lamanya berbalut ketakwaan. Sementara, kemuliaan yang fana, adalah kemuliaan di dunia dengan berbagai bentuk orientasi keduniawian.

Dengan bahasa lain, Ibnu Athailah seperti mengatakan: “Jika kau ingin kemuliaan yang selamanya, maka jangan kau banggakan kemuliaan berbalut kekayaan, pangkat, jabatan dan kedudukan yang duniawi tersebut”. Kata ‘tidak perlu membanggakan’ bukan berarti menolaknya sama sekali, tapi memandangnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Yang penting adalah ia adil dan amanah mengemban kekayaan maupun pangkat dan jabatan tersebut.

Oleh karena itu, dalam Islam, tak penting apa profesinya. Yang penting adalah bahwa mereka bertakwa. Presiden yang bertakwa, Ketua MPR yang bertakwa, Ketua DPR yang bertakwa, menteri yang bertakwa, gubernur yang bertakwa dan bupati yang bertakwa. Demikian juga, pengusaha yang bertakwa, dosen yang bertakwa, hakim yang bertakwa, advokat yang bertakwa, guru yang bertakwa, petani yang bertakwa, buruh yang bertakwa. Dan seterusnya. Atribut ketakwaan ini yang menjadi orientasi utama muslim dalam kehidupan.        

Pada ayat yang lain, Allah Swt. menyebut takwa adalah bekal terbaik. Watazawwadu fainna khairad zadi taqwa. Artinya, berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al Baqarah: 197). Bekal terbaik kita dalam hidup ini bukan kekayaan yang melimpah ruah, mobil yang banyak, ladang sawah yang ribuan hektar atau rumah mewah milyaran rupiah, namun sekali lagi; ketakwaan. Ketakwaan ini yang mengantarkan manusia mendapatkan kesuksesan di dunia maupun akhirat.

Apakah otomatis orang yang bertemu dengan Bulan Takwa Ramadhan akan menjadi orang yang bertakwa? Jawabannya: belum tentu. Meskipun peluang untuk bertakwa di bulan takwa lebih besar, namun tidak secara otomatis yang masuk di dalamnya menjadi orang bertakwa. Hanya mereka yang berpuasa menjalankan ketakwaan secara ikhlas dan mengharap ridlo-Nya, yang akan diberi gelar kehormatan orang-orang yang bertakwa.

Kembali pada Bulan Takwa, satu bulan Ramadhan ini adalah latihan ketakwaan kita. Kita memasuki bulan takwa yang ditunggu-tunggu. Apakah pasca Ramadhan, ketakwaan ini melekat pada kepribadian kita ataukah justru kita masih jauh dari predikat bertakwa.

Ibnu Athailah al-Iskandari (tt) mengatakan: man wajada tsamrata amalihi ajilan fahuwa dalilun ala qabulihin ajilan. Barang siapa menemukan buah amalnya di dunia, maka itu bukti diterima amal kita di akhirat.

Semoga ada atsar (bekas) puasa pada Ramadlan (1443 H) tahun ini yang menujukkan puasa kita diterima oleh Sang Maha Kuasa. Amin.

*Penulis adalah Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA