Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Berpuasalah seperti Umat Lainnya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/al-makin-5'>AL MAKIN</a>
OLEH: AL MAKIN
  • Selasa, 05 April 2022, 12:54 WIB
Berpuasalah seperti Umat Lainnya
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Al Makin/RMOL
PERINTAH dalam berpuasa dalam Alquran termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Terjemahan bebas ayat itu kira-kira begini: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang (ummat-ummat) sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.”

Jelas sekali disitu bahwa orang-orang atau ummat-ummat sebelum kita itu juga berpuasa. Tentu puasa ummat lain tidak sama dengan ummat Islam. Disebutkan dalam banyak riwayat bahwa kaum Quraysh, sukunya Nabi Muhammad di Makkah (tempat kelahiran Beliau), itu sudah terbiasa berpuasa pada hari-hari tertentu.

Jika kita lihat Kitab Sirah dan Tarikh, banyak penjelasan bahwa Makkah juga dipenuhi orang-orang beragama asli (dalam banyak istilah disebut jahiliyah, yang dalam hal ini masih penuh misteri dan perbedaan pendapat tentang artinya). Disebutkan dalam banyak kitab seperti Kitab Asnam (tentang arca), bahwa orang-orang Arab banyak merawat patung-patung.

Tentu ini menurut banyak sejarahwan saat ini berdasarkan data-data arkeologis banyak tafsir. Bisa jadi yang dimaksud patung adalah ikon-ikon, seperti ikon gereja, atau ikon-ikon agama lokal Arab.

Di Madinah, kota kedua Nabi Muhammad berhijrah, suasana lebih pada tradisi Yahudi, agama rumpun Semitik tertua. Kondisi Yahudi di Madinah tidak sama dengan Yahudi kebanyakan saat ini, bisa jadi. Masa sudah berlalu. Konteks berlainan. Ada banyak sekte dan aliran Yahudi.

Banyak sejarahwan mempunyai asumsi banyak aliran bernama Judeo-Kristiani, yaitu Yahudi dan Kristen ala Arab yang banyak terdapat di provinsi Hijaz, dimana Makkah dan Madinah terletak. Saat ini di Yahudi dikenal ibadah Yom Kippur, puasa 24 jam pada hari penebusan. Sama puasanya, tetapi tidak sama dengan Ramadhan ummat Islam.

Dalam Katolik pun dikenal puasa Rabu Abu dan Jumat Agung. Paus Fransiskus juga mengajak puasa demi perdamaian. Tentu tidak sama puasanya dengan ummat Islam selama 30 hari penuh.

Puasa juga dilakukan oleh Protestan, yaitu termaktub dalam Matius 4: 2, ada kisah puasa selama 40 hari. Puasa juga berarti merendahkan diri pada Tuhan dan menunjukkan kasih sayang pada sesama mahkluk.

Puasa itu sendiri dalam bahasa Indonesia yang kita ucapkan adalah kata pinjaman dari bahasa Sanskerta upavasa, yang kira-kira berarti mendekati hidup. Namun kata itu dalam bahasa Indonesia didekatkan dengan kata shiyam dalam bahasa Arab. Kata shiyam kira-kira berarti menahan diri. Jadi ummat Islam di Indonesia telah meminjam kata upavasa untuk menafsirkan kata shiyam dalam bahasa Arab. Berarti kata puasa adalah upaya akomodatif bahasa yang berimplikasi pada penghargaan budaya dan bahasa non-Arab di Nusantara.

Penggunaan kata puasa sudah menghargai bahasa Sansekerta dalam perbendaharaan dan praktek ummat Islam Nusantara. Kita lebih sering mengucapkan puasa daripada shiyam. Kata itu lebih terbiasa, nyaman, sesuai dengan lidah kita.

Sebetulnya dalam praktik keagamaan Islam kita tidak hanya puasa yang ada unsur Sansksertanya. Kata surga sendiri juga pinjaman dan olahan kata swarga. Dalam bahasa Arab itu disebut jannah, yang artinya kebun. Dalam bahasa Persia disebut firdis. Dalam bahasa Arab disebut Firdaus.

Dalam banyak istilah kuno sudah biasa menyebut kemulyaan diluar kehidupan ini dengan sebutan swargaloka. Tempat mulya dan mukti diluar kehidupan ini, diluar nikmat jasmani, diluar kehidupan kasat mata, dan diluar jasadiyah.

Swargaloka adalah tempat kematangan ruhani. Tentu di Nusantara sudah penuh dengan penggunaan itu dalam konteks Hindu dan Buddha. Jelas Islam Indonesia sudah terbiasa menggunakan istilah itu, berarti juga mengakomodasi kata Sanskerta dalam praktek keislaman. Islam di Nusantara lentur faktanya.

Demikian juga kata sembahyang, yang kira-kira adalah gabungan dari kata sembah, yang artinya berdoa, dan Yang, yaitu zat yangi tinggi. Kata yang bisa dijumpai penggunaannya dengan istilah Sang Yang Widi Wasa, Tuhan yang Maha Perkasa.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183, yang jelas menyebut berpuasa seperti orang-orang sebelum kalian melaksanakannya, alladhina min qablikum. Kira-kira kalimat itu sepadan dengan, ummat sebelum kamu.

Dalam hal ini ummat sebelum Islam bisa diartikan Yahudi dan Kristiani dalam konteks jazirah Arab. Dalam konteks Nusantara ternyata kita telah mengakomodasi bahasa Sansekerta yang rata-rata digunakan Hindu dan Buddha di Nusantara. Ummat sebelum Islam dalam konteks Nusantara termasuk Hinddu dan Buddha.

Puasa berarti juga menghormati ummat sebelum Islam. Ummat sebelum Islam tentu banyak. Yahudi dan Kristiani adalah ummat serumpun. Bahasa Arab itu serumpun dengan bahasa yang lebih tua: Ibrani, Siriak, Aramaik, dan lain-lain. Dan Bahasa itu bersinggunan dengan bahasa kuno lainnya seperti Yunani dan Latin.

Dua bahasa itu termasuk dalam bahasa ibadah Katolik. Bahasa Latin hingga kini hadir dalam praktek ummat Katolik. Sementara bahasa Yunani banyak digunakan oleh gereja Timur yang mendekati Arab.

Ketika Islam menjadi agama global ditandai dengan perluasan khalifah Umayyah dan Abbasiyah, persinggungan dengan budaya Yunani, Latin, dan Persia bertambah memperkaya Islam. Muslim terbuka dalam bergaul dan mengakomodasi praktek-praktek mereka. Pemikiran dan pengembangan logika ummat selain Arab masuk dalam pemikiran para filosof Muslim.

Tukar menukar bahasa dan keilmuan terjadi. Maka khazanah Islam yang kaya dari Hadits, Fiqh (hukum Islam), Ushul Fiqh (Dasar Hukum Islam), Mantiq (logika), Filsafat, Adab (Sastra), Tarikh (Sejarah), kaya dengan warna non-Arab dan di luar Islam.

Ketika Islam masuk kepulauan Nusantara juga begitu. Praktek-praktek yang telah ada sebelum Islam juga diramu dan diakomodasi. Kata puasa sendiri merupakan bahasa Sansekerta. Kata sembahyang juga sama. Kata surga juga tidak beda.

Betul ayat Al-Quran dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Praktek berpuasa ummat sebelum Islam yang jelas disebutkan disitu menunjukkan kelenturan dan akomodasi budaya, tradisi, dan praktek beragama di masa lalu dan masa kini. Praktek berpuasa menunjukkan akomadasi orang Islam di Arab dan orang Islam di Nusantara.rmol news logo article

Penulis adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA