Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Kampus Merdeka

OLEH: NENI NUR HAYATI*

Selasa, 01 Maret 2022, 14:35 WIB
Kampus Merdeka
Ilustrasi program Kampus Merdeka/Net
RANCANGAN kebijakan kampus merdeka disusun oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Makarim. Tujuannya, untuk mengatasi krisis pembelajaran sehingga dapat mendorong kualitas dan kuantitas ekosistem kampus.

Fakta yang terjadi memang pendidikan di Indonesia tengah mengalami krisis pembelajaran yang tidak kunjung membaik. Hal ini diungkap berdasarkan riset dan studi yang dilakukan baik itu nasional ataupun internasional.

Tentu, ini bukan kabar yang menggembirakan. Tetapi, bukan suatu hal mustahil, Indonesia juga dapat keluar dari permasalahan yang tak pernah kunjung usai.

Belum lagi dengan hadirnya pandemi Covid-19, krisis pembelajaran semakin mengalami keterpurukan yang menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran (Kemendikbudristek, 2022).

Implementasi program kampus belajar ini setidaknya mampu membangun dan meningkatkan sistem pembelajaran untuk bisa lebih progresif, fleksibel, berbasis kebutuhan peserta didik, menciptakan inovasi serta kreativitas sehingga menjadi terobosan yang efektif untuk dilakukan di tengah keterbatasan yang ada saat ini.

Penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kondisi khusus juga menjadi solusi konkret atas problematika yang terjadi serta dapat memitigasi ketertinggalan pembelajaran di masa pandemi covid-19.

Harapannya, di lapangan efektivitas kurikulum ini juga dapat menguatkan implementasi kurikulum secara lebih komperhensif (Makarim, 2022). Penulis tentu sependapat dengan apa yang disampaikan Kemendikbudristek. Saat ini, memang pendidikan kita tidak mengadapi situasi yang biasa-biasa saja.

Jika tidak segera dilakukan kebijakan yang tepat, maka kesenjangan pembelajaran akan terus meningkat dan dikhawatirkan akan semakin sulit penanganannya.

Sistem pengajaran yang tidak berbelit dengan birokrasi kampus dapat memudahkan mahasiswa untuk melakukan eksplorasi dan diberikan kebebasan memilih pengetahuan yang mereka sukai dan minati. Hal ini yang kemudian, mereka belajar dengan hati karena dapat sesuai dengan passion yang digeluti.

Keunggulan Kampus Merdeka

Setidaknya terdapat beberapa keunggulan yang bisa didapatkan dari kebijakan kampus merdeka. Kurikulum menjadi lebih sederhana dan mendalam. Kurikulum fokus pada materi yang substansi dan esensial pada pengembangan fase peserta didik. Sebab, sudah tidak ada lagi program penjurusan di SMA. Peserta didik dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat, bakat, dan aspirasinya.

Tidak hanya peserta didik yang diuntungkan, tetapi juga pendidik akan lebih merdeka. Guru akan mengajar sesuai dengan tahapan capaian dan perkembangan peserta didik.

Selanjutnya, sekolah memiliki wewenang dalam mengelola dan mengembangkan kurikulum pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.Setelah diimplementasikan, guru dan peserta didik semakin senang dan riang gembira mengikuti proses pembelajaran. Tidak merasa dibebani dengan setumpuk administrasi dan berhubugan dengan birokrasi yang rumit. Semua serba dimudahkan.

Hal ini seperti yang terjadi di SMP Negeri 2 Temanggung, Jawa Tengah. Salah seorang pengajar di sekolah tersebut mengungkapkan bahwa dulu saat mengajar guru terbelenggu dengan kriteria kelulusan minimal (KKM).

Kini, guru merasa dihargai pada setiap proses pencapaian siswa dalam belajar. Guru juga menjadi lebih fleksibel dalam mengajar dan bisa lebih banyak berkreasi serta berinovasi dalam mengajar (Prasetyo, 2022).

Selain itu, keunggulan dari implementasi kurikulum merdeka belajar ini dinilai lebih relevan dan interaktif dimana pembelajaran bisa dilakukan melalui kegiatan yang berbasis project. Implementasi kurikulum merdeka belara dapat memberikan kesempatan yang lebih terbuka dan luas kepada peserta didik.

Secara teknis, merdeka belajar diimplementasikan dengan menganalisis dan mengeksplorasi isu-isu aktual dalam berbagai bidang seperti isu kesehatan, isu lingkungan, isu politik, isu ekonomi budaya, dan lainnya yang dapat mendukung pengembangan kompetensi pelajar pancasila.

Catatan Kampus Merdeka

Tetapi tentu saja, ada beberapa catatan yang kiranya perlu dibenahi dari hasil implementasi di lapangan. Pada kenyataannya, gagasan ini terlihat menemui beberapa kendala dan problem baik itu dalam visi konseptual maupun pelembagaan (Narwaya, 2022).

Kesulitan di lapangan rata-rata adalah tidak semuanya mampu menerjemahkan konsep merdeka belajar secara komperhensif. Bahkan, tidak sedikit yang merasa kebingungan dalam penerapannya.
 
Disamping itu, sekolah atau kampus hanya dapat memahami bahwa kampus merdeka hanya sekedar program pemerintah semata tanpa dijalankan dengan penuh kesadaran sebagai nilai yang fundamental. Problem substansial ini yang pada akhirnya menjadi penghambat dalam proses pembelajaran.

Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa satuan pendidikan dapat memilih tiga opsi dalam menerapkan kurikulum belajar merdeka. Pertama, satuan pendidikan dapat mengimplementasikan beberapa bagian dan prinsip kurikulum merdeka tanpa harus mengganti kurikulum yang sedang diterapkan.

Kedua, menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat yang sudah disediakan. Ketiga, menerapkan kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar.

Dalam hal ini tentu tidak ada paksaan yang dibebankan kepada satuan pendidikan. Sekolah atau kampus dapat memilih opsi mana yang dianggap memudahkan dan memberikan kebermanfaatan baik itu untuk peserta didik ataupun untuk pendidik.

Artinya, selama dua tahun ke depan, program merdeka belajar ini dapat menjadi bagian dari progresifitas pendidikan dengan berbagai pilihan alternatif yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi seperti ini yang juga mendorong satuan pendidikan untuk dapat mandiri, jangan sampai terabaikan. Tanpa kemandirian yang pasti, maka akan sulit untuk dapat merealisasikan segala inovasi dan kreatifitas yang dimiliki.

Gagasan kampus merdeka menjadi gerakan transformasi yang menjadi kebutuhan khalayak secara luas.

Maka dari itu, penerapan keadilan dan perubahan juga menjadi sebuah keniscayaan. Tanpa kedua hal tersebut, rasanya kemajuan pendidikan masih sulit terwujud.

*Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia

ARTIKEL LAINNYA