Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Bos MG

Oleh: Imam Soemarsono alias Ipung*

Rabu, 02 Februari 2022, 20:16 WIB
Bos MG
Imam Soemarsono alias Ipung (kanan) bersama Margiono (tengah) dan Ketua Umum JMSI Teguh Santosa (kiri)/Net
SAYA, adalah satu dari sekian ribu orang yang memanggilnya Bos. Saya juga, adalah satu dari sekian ribu orang yang memanggilnya Senior. Dan, ini yang menurut saya istimewa: saya adalah segelintir orang yang bisa memanggil dua-duanya.

Ya, Bos MG adalah nama panggilan yang digunakan anak buahnya di perusahaan-perusahaan yang dia pimpin. Senior, adalah panggilan dari "adik-adik kelasnya", dimana dia dicatat sebagai salah satu dari alumni yang berprestasi.

Jadi, saya adalah "adik kelasnya" yang juga bekerja di beberapa perusahaan yang dia pimpin, dalam waktu yang cukup lama.

Hari ini, 1 Februari 2022, Senior dan Bos MG mendahului kita. Beliau meninggal dunia. Saya tentu saja, terkejut dan shock. Sulit untuk memikirkan: apa yang sebaiknya saya lakukan, atau apa yang seharusnya saya lakukan untuk menyatakan perasaan saya, bahwa saya begitu berduka.

Pilihan saya sejak mendengar kabar duka tersebut hanya bisa berdoa. Saya berusaha berdoa dengan seikhlas-ikhlas doa, dan sedalam-dalam harap, memohon agar Allah Subhanahu wa' Ta'ala membukakan pintu maghfirah dan rahmat atas amal kebaikan yang telah dilakukan Senior dan Bos MG sepanjang hidupnya.

Saya tulis tulisan ini di sela acara tahlilan hari pertama almarhum Bos MG, yang saya ikuti secara virtual. Ada banyak catatan dalam kenangan saya, begitu juga mereka yang pernah memanggilnya bos atau memanggilnya senior, yang saya yakin ada banyak kebaikan-kebaikan yang tak bisa dilupakan.

Saya yakin, meskipun diantara perjalanan saya, dan banyak orang yang saya kenal pernah bersama-sama bekerja dengan Bos MG, terdapat banyak perbedaan pendapat, tapi saya yakin ada banyak pula kebaikan yang kami kenang. Terutama pelajaran-pelajaran tentang kehidupan. Banyak. Banyak sekali.

Bagi saya, dan sebagian besar mereka yang pernah bekerja bersama Bos MG, dia tidak hanya sekedar atasan. MG adalah bos, guru dan senior. Beliau mengajarkan banyak hal. Bos MG bukan saja mengajarkan bagaimana mencapai sukses.

Tapi lebih dari itu, Bos MG juga mengajarkan suatu pelajaran yang sangat berharga. Kepada saya, Bos MG mengajarkan suatu hal yang begitu berharga, yaitu: bagaimana bangkit setelah jatuh, dan tetap bangkit lagi meskipun gagal berkali-kali. Kegagalan tidak akan sia-sia jika kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Pekerja Sosial

Saya, mengenal Pak MG awal 1996. "Dibawa" oleh Mas Dodot, senior saya yang lain, alumni dari STKS Bandung, yang sekarang jadi Ketua Umum IPSPI.

Pak MG dan Mas Dodot, sahabat lama. Akrab sekali. Banyak cerita tentang masa-masa mereka di kampus, di kos-kosan, dan di aktivitas kemahasiswaan di Bandung. Banyak sekali cerita. Saya sulit mengingatnya satu per satu, karena setiap mereka bercerita ketika ada saya, saya lebih banyak mendengar tertawanya dari pada tahu apa dan siapa yang ada dalam cerita itu. Terpotong-potong, tapi poin yang saya tangkap adalah: penuh perjuangan, kenangan dan keberhasilan!

Bos MG dan Mas Dodot tidak berjumpa dalam waktu yang lama. Ketika bertemu kembali, klop!

Bos MG adalah alumni di kampus kami. Sampai tingkat sarjana muda. Gelarnya Bachelor of Social Work, BSW. Keren. Pernah suatu saat gelar itu dipasang di belakang namanya, saya melihat dia begitu bangga, meskipun tidak mengungkapkan secara terbuka.

Ketika saya "ngenger" Mas Dodot, saya banyak mendengar cerita tentang Bos MG. Intinya, Bos MG adalah alumni yang berhasil merintis dan mengembangkan karier di luar "tradisi kampus" kami, yang biasanya setelah lulus terserap menjadi pegawai pemerintah. Mas Dodot juga merintis karier di luar pemerintahan. Bedanya, Mas Dodot di lembaga internasional, sementara Bos MG sukses sebagai wartawan, dan menjadi salah satu pimpinan tertinggi di perusahaan media papan atas di Indonesia, saat itu.

Sungguh, cerita kesuksesannya mempengaruhi saya dan banyak alumni yang baru lulus saat itu. Bahwa, sebagai mahasiswa yang menekui pendidikan profesi pekerjaan sosial, kami ternyata punya peluang bekerja di bidang lain. Bidang dimana kami juga bisa mengembangkan profesi pekerja sosial.

Bertemu dengan Bos MG di tahun 1996, sungguh mencengangkan. Di kantor Harian Merdeka. Di masa itu, bisa masuk ke kantor koran, apalagi untuk media legendaris seperti Merdeka, bukan hal yang mudah. Pers dan media, adalah komunitas "elit" diantara "elit-elit" lain dalam periode kekuasaaan rezim Orde Baru.

Terus terang, ada rasa bangga: seorang pekerja sosial bisa menjadi tokoh media dan menduduki posisi penting dalam pers Indonesia. Posisi yang jarang sekali diraih oleh "para alumni" dari almamater kami.

Bos MG, begitu anak buahnya waktu itu memanggil, tipikal orang yang tidak reaktif. Tepatnya, cenderung pendiam. Atau, lebih tepat lagi, wajahnya selalu terlihat serius dan jarang berbicara. Tapi, ketika sudah berbicara, terutama dengan orang-orang yang sudah lama dikenalnya, suaranya akan "menggelegar". Penuh semangat. Berapi-api. Tertawanya, terbahak-bahak.

Begitu juga ketika waktu pertama kali berdiskusi soal pekerja sosial, Bos MG begitu bersemangat. Antusias. Optimis bahwa profesi ini akan menjadi profesi yang penting. Sampai kemudian, dari pertemuan pertama itulah saya mulai "ngenger" ke Bos MG. Awalnya sebagai yunior dari satu alumni. Lama-lama, sebagai anak buah di beberapa perusahaan yang dipimpinnya.

Bos MG, dengan gelar BSW-nya, dan para senior kemudian makin aktif dalam kegiatan ikatan alumni. Selanjutnya, bersama dengan para senior dan alumni dari perguruan tinggi lain juga merancang untuk membentuk suatu organisasi profesi. Waktu itu, dirancanglah Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Rapatnya bergantian, kadang di kantor Bos MG, kadang di kantor DK3S --karena ada alumni yang jadi pengurus di situ--, dan yang paling saya suka dari sekian tempat untuk rapat adalah... di restoran!

Ini, di kemudian hari saya ketahui ternyata menjadi salah satu hobi Bos MG: makan enak dan mentraktir orang!

Ya, bagi orang-orang yang kenal Bos MG, sebagai pimpinan, dia dikenal royal. Suka berbagi. Terutama uang. Cash. Cuma yang jadi persoalan, kami yang jadi anak buah ini, selalu kesulitan memprediksi, siapa kira-kira yang akan mendapatkan "rezeki mendadak" dari Bos MG. Siapa saja bisa tiba-tiba dapat "salam tempel" dari Bos MG. Mulai dari satpam, wartawan, staf sampai para manajer. Bisa di rapat. Bisa pas ngobrol. Atau, bisa juga pas berpapasan. Spekulatif.

Kalau kemudian ada yang dapat, maka biasanya kami juga akan main tebak-tebakan, dari kantong mana Bos MG mengambil uangnya tadi: kiri atau kanan? Soal ini, kami sering berspekulasi bahwa kantong yang kiri, mata uangnya lebih tinggi dari kantong yang kanan.

Ini, tentu menjadi cerita yang melekat pada diri saya hingga saat ini, sebagai yunior pada almamater yang sama, dan sebagai anak buah pada perusahaannya. Cerita ini juga turun-temurun ketika saya dan beberapa kawan di perusahaan, mulai naik ke jenjang pimpinan. Cerita ini menjadi semacam "rujukan" untuk menentukan seberapa dekat kami dengan Bos MG.

Namun, sepanjang saya bekerja di perusahaan dimana Bos MG menjadi pimpinan, tak banyak karyawan yang tahu tentang aktivitas Bos MG di organisasi profesi pekerja sosial maupun di almamaternya dulu. Karena, Bos MG jarang sekali membicarakannya di dalam rapat-rapat redaksi atau perusahaan, sepanjang yang pernah saya ikuti.

Yang jelas, Bos MG menjadi salah satu inisiator dan menjadi pengurus inti ketika organisasi profesi ini pertama kali dideklarasikan dan dibentuk melalui kongres pertamanya. Namanya: Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia, disingkat IPSPI.

Bos MG juga aktif beraudiensi dengan para Menteri Sosial saat itu, yang saya yakin juga seperti saya: sulit percaya bahwa Bos MG adalah pekerja sosial.

Ya, Bos MG memang tidak dikenal luas sebagai pekerja sosial. Dia lebih populer sebagai wartawan, yang kemudian menjadi pengusaha media yang sukses.

Tapi, di kalangan alumni dan aktivis pekerja sosial, Bos MG tidak lepas dari posisi "Dewan Pembina", yang fungsi utamanya adalah benar-benar membina. Tepatnya, menyemangati, atau lebih cocoknya memprovokasi agar profesi pekerja sosial semakin strategis dan diperhitungkan di Indonesia.

Bos MG, bersama para alumni di masanya, dan juga masa-masa sesudahnya, begitu intens mendorong semangat ini. Hingga kemudian, lahir undang-undang tentang pekerja sosial. Mungkin, secara teknis Bos MG tidak terlibat pada perumusan, pengusulan hingga penetapan undang-undang ini. Namun, semangat Bos MG banyak dikenang para alumni di masa kuliahnya, atau di masa sesudahnya. Bos MG adalah satu dari sekian cerita yang turun-temurun kami --setidaknya saya-- selalu wariskan pada adik-adik kami, para pekerja sosial muda.

Wartawan


Sebagai wartawan, Bos MG adalah guru terbaik di kantor kami. Setidaknya, menurut saya, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik. Bos MG, nyaris tidak pernah mengajarkan teori jurnalistik. Yang banyak diajarkan adalah: bagaimana menjadi wartawan yang baik, menjadi redaktur yang baik, menjadi pemimpin redaksi yang baik, dan bagaimana membangun manajemen media, yang baik. Konkret!

Ya, dalam setiap rapat --redaksi maupun manajemen-- Bos MG bukan tipikal orang yang bertele-tele. Dia tipikal to the point. Istilah yang sering digunakan adalah "konkret". Jadi, pertanyaan yang sering muncul dari Bos MG dalam rapat adalah: "Apa konkretnya?"

Saya tidak tahu penilaian karyawan lain. Tapi, dalam pandangan saya, Bos MG adalah orang yang realistis dan obyektif. Bos MG tidak suka mendiskusikan soal proses dalam pekerjaan. Sama seperti ketidaksukaan dia mendiskusikan hal-hal yang bersifat pribadi. Dalam sebagian besar ingatan saya, dia hanya berdiskusi tentang apa, bagaimana dan kapan kita bisa melakukannya. Dia tidak suka membahas bagaimana proses mencari berita, bagaimana meliput, bagaimana membuat judul. Dia hanya bertanya dan membahas: apa liputannya, apa beritanya, dan bagaimana judulnya?

Ya. Begitulah Bos MG mengajarkan bagaimana mengelola sebuah media. Dia, setidaknya dalam pandangan saya, lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat prinsip. Soal proses, itu adalah kreativitas. Setiap orang punya kapasitas dan kecerdasannya sendiri-sendiri. Inilah yang kadang membuat saya menjadi faham, mengapa Bos MG bisa tiba-tiba mengangkat seseorang yang latar belakang pendidikannya bukan sarjana, misalnya, bisa saja menduduki jabatan manajer. Atau, sebaliknya.

Karena itu, Bos MG mengajari tentang apa itu totalitas dan loyalitas. Caranya, tidak dengan menyampaikan serangkaian teori atau konsep. Bukan juga melalui rapat berjam-jam. Atau, pelatihan ini-itu. Bos MG, pada saat saya pertama kali bertemu di tahun 1996 adalah pemimpin koran yang oplahnya masih di bawah 10 ribuan, yang kemudian pada tahun 1999 menjadi salah satu market leader dengan olah di atas 200 ribu.

Pada proses perjalanan itulah Bos MG mengajarkan totalitas dan loyalitas sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas dan kreativitas. Bos MG, mengajarkan bagaimana komitmen seorang jurnalis dengan nyaris tidak pernah menganggap remeh informasi. Setiap ada informasi penting, selalu dibahas. Dikroscek. Dikejar. Dikonfirmasi. Dibahas. Disimulasikan, lalu diputuskan: headline atau bukan?

Bos MG, juga mengajarkan kepada kami cara belajar paling cepat untuk meningkatkan kualitas pekerjaan: tidur di kantor!

Istilah ini, berasal dari bahasa Jawa. Suatu saat ketika ditanya kiat sukses jadi wartawan, Bos MG pernah menjawab: "nuroni koran". Artinya: meniduri koran. Semula, kami menganggapnya lelucon atau gaya-gayaan sebagai istilah yang merujuk pada kebiasaan tidur di kantor. Tapi, pada akhirnya saya memahami adanya proses pembentukan totalitas, loyalitas dan tentu saja, tanggung jawab dalam kebiasaan "nuroni di kantor".

Di kemudian hari, tradisi "nuroni kantor" ini menjadi diskusi yang berpolemik terutama untuk memutuskan apakah tidur di kantor itu bersifat fisik atau psikologis? Ditambah lagi, teknologi saat ini telah menyediakan infrastruktur untuk kita bisa bekerja dimana saja. Yang jelas, pada masa saya bekerja di perusahaan Bos MG, dia adalah orang yang "nyaris" selalu datang "paling pagi" dan pulang "paling pagi" juga. Termasuk, pada hari libur.

Metode belajar model Bos MG yang sulit dilupakan adalah contoh konkretnya. Kami, anak buahnya, sudah biasa melihat Bos MG tertidur di kursi. Atau, kadang juga di atas meja. Kami juga terbiasa melihat Bos MG tiba-tiba meminjam jas atau sepatu anak buahnya, jika tiba-tiba ada acara resmi. Ini, karena Bos MG memang lebih banyak menggunakan sandal.

Yang juga sulit dilupakan dari Bos MG adalah gayanya yang unpredictable: dia bisa begitu berapi-api, atau bisa tiba-tiba diam. Bisa juga tiba-tiba sudah tidur terlelap, lalu bangun dan tiba-tiba memberi tips. Atau, tiba-tiba masuk ruangan sambil bersiul mengikuti alunan lagu dangdut. Hanya saja, satu yang sulit dicari dari kebiasaannya adalah memuji orang secara berlebihan.

Inilah yang membuat di kantor, siapa saja bisa tiba-tiba menjadi istimewa. Ada wartawan kriminal yang tiba-tiba dapat hadiah cash karena beritanya luar biasa. Atau, wartawan hiburan yang mendapatkan cerita seleberitis paling eksklusif. Semua orang punya peluang yang sama di depan Bos MG. Syaratnya cuma satu: Beritanya konkret!

Bos MG, bagi banyak karyawannya, seperti cerita yang berjalan. Setiap orang punya kesannya. Semua orang-orang yang pernah mengenalnya, punya kenangan yang sulit dilupakan. Dan, dari sekian banyak cerita itu, saya yakin selalu ada happy ending. Meskipun, mungkin dulu terasa menyakitkan atau menjengkelkan.

Sejak 2004, saya sudah jarang berkomunikasi dengan Bos MG, karena pindah ke anak perusahaan di luar kota. Sampai 2010, saya kemudian non-aktif dari perusahaan-perusahaan yang dipimpin Bos MG dan semakin jarang berkomunikasi. Sesekali ke rumahnya. Atau, bertemu saat ada acara. Meski sebentar, bertemu dengan Bos MG selalu "meledak-meletup" dan happy ending. Dia selalu mengingatkan satu hal yang sama ketika saya menceritakan kegiatan-kegiatan terbaru saya. Nasehatnya selalu jelas: "Terus berkarya. Apa saja, tapi... harus konkret!

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik dan hidayah-Nya. Semoga, kesaksian ini menjadi catatan kecil untuk menambah kebaikan catatan amal-ibadah almarhum bos saya, guru saya, dan senior saya.

Amin Allahumma Amin.

*Penulis adalah mantan Wartawan Rakyat Merdeka

EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA