Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Dewasa Berpolitik

Sabtu, 31 Juli 2021, 04:24 WIB
Dewasa Berpolitik
Ilustrasi/Net
POLITIK itu, dunia yang katanya penuh tipu-tipu itu, adalah memang dunia tempat kekuasaan diperebutkan. Jadi jangan heran kalau para politisi itu, omongannya tidak jauh dari pemilu, tidak jauh pilpres atau pilkada.

Memang harus begitu. Jika perebutan kekuasaan adalah aktivitas utama dalam politik, maka ia harus selalu menjadi pembicaraan setiap saat. Dan pemilu, karena ia adalah medan pertarungan bagi perebutan kekuasaan, adalah tema yang akan didiskusikan secara terus menerus.

Perebutan kekuasaan itu bukan aib. Perebutan kekuasaan itu bukan bentuk kerakusan. Perebutan kekuasaan itu, justru perlombaan kebaikan, perlombaan kontribusi.

Jika ada seorang individu yang mencalonkan diri jadi wakil rakyat, atau gubernur/ bupati/ wali kota, atau presiden dan wakil presiden, itu bukan berarti mereka haus kekuasaan. Karena mekanisme nya memang begitu, harus mencalonkan diri.

Awalnya sangat mungkin dicalonkan oleh pendukungnya, oleh kelompoknya, oleh partainya, tapi ujungnya nanti mencalonkan diri juga. Ada pernyataan yang harus ia setujui, ada dokumen yang harus ia tandatangani.

Dalam negara demokrasi, perebutan kekuasaan itu, justru adalah perwujudan dari kaidah bahwa kekuasaan itu berasal dari dan oleh rakyat. Dengan kata lain, perebutan kekuasaan itu menjadi sebuah penanda bahwa demokrasi telah berjalan.

Tapi, perebutan kekuasaan itu, yang dilakukan melalui mekanisme pemilu itu, semuanya harus dilakukan dalam rangka untuk kebaikan bagi suatu bangsa dan negara. Karena kekuasaan itu adalah dari dan oleh rakyat, maka ia harus digunakan untuk keadilan dan kemakmuran rakyatnya.

Jadi, siapa pun yang menang dalam perebutan kekuasaan tersebut seharusnya tidak jadi persoalan, karena tujuan akhirnya tetap sama, yaitu untuk keadilan dan kemakmuran suatu bangsa. Kekalahan dalam kontestasi politik, harus disikapi dengan wajar, objektif dan rasional.

Mindset seperti ini yang harus dimiliki oleh seorang politisi. Atau oleh siapa pun yang melakukan aktivitas politik, baik sebagai elit maupun sebagai massa. Yaitu kedewasaan dalam berpolitik, mampu menyikapi kekalahan dengan arif.

Kekalahan dalam perebutan kekuasaan tidak boleh diiringi dengan sikap dan tindakan yang melawan hukum. Kekalahan dalam perebutan kekuasaan, juga tidak boleh diikuti oleh sikap dan tindakan yang tidak objektif dan melawan akal sehat.

Tentu menjadi oposisi itu tidak termasuk dalam kategori sikap dan tindakan yang melanggar hukum. Tidak masuk juga dalam kategori sikap dan tindakan yang tidak rasional dan melawan akal sehat.

Oposisi justru merupakan sebuah sikap dan tindakan objektif dan rasional. Oposisi, dalam negara demokrasi, merupakan sebuah pilihan yang konstitusional. Mereka yang kalah dalam perebutan kekuasaan, sebaiknya justru menjadi oposisi, ia bertugas untuk memastikan bahwa kekuasaan yang digunakan, akan berjalan secara baik dan benar.

Dalam berpolitik, tidak boleh merasa baik sendiri. Dalam berpolitik, jangan terburu-buru memberi stigma jahat kepada kompetitor politik.

Dalam berpolitik, tidak boleh menjadikan kemenangan sebagai indikator bahwa kontestasi politik berjalan dengan fair atau tidak. Sehingga kalau dirinya kalah, atau kelompok, atau partainya kalah, langsung menghakimi bahwa pemilu berlangsung tidak dengan proses yang benar.

Kedewasaan dalam berpolitik betul-betul sangat dibutuhkan, ia jadi modal berharga dalam membangun kolaborasi. Kedewasaan dalam berpolitik, membuatnya mudah merangkul banyak pihak.

Berkolaborasi, merangkul banyak pihak, rasanya sikap dan tindakan wajib dalam membangun bangsa. Suatu bangsa, suatu negara, tidak bisa dibangun sendirian. Suatu bangsa, suatu negara, harus dibangun bersama-sama. Melibatkan banyak orang, banyak kelompok, banyak partai.

Kedewasaan dalam berpolitik membuat dirinya tidak merasa jadi orang baik sendiri. Kedewasaan dalam berpolitik, membuatnya tidak menganggap semua orang yang berada di luar diri dan kelompoknya sebagai orang jahat.

Kedewasaan dalam berpolitik membuatnya berfikir bahwa semua orang yang terlibat dalam politik, punya motivasi mulia, untuk membangun bangsa. Hanya caranya saja yang berbeda. Wajar, karena masing-masing kelompok punya landasan berfikir yang berbeda-beda.

Kedewasaan berpolitik membuatnya tetap menjadi anggota masyarakat yang taat hukum. Kekalahan tidak disikapi dengan sikap dan tindakan yang berlebihan, sampai harus melawan hukum, hingga meresahkan masyarakat.

Kedewasaan juga membuatnya objektif dalam berfikir. Tidak mengedepankan kebencian, karena kebencian itu melukai akal sehat. Kebencian itu membuatnya susah untuk menilai mana yang baik atau buruk, benar atau salah.

Rasa kebencian itu mematikan akal sehat, membuatnya tidak bisa berfikir objektif dan rasional. Rasa kebencian itu, membuatnya selalu menganggap penguasa dalam posisi salah. Kebencian itu, membuatnya menganggap apa yang berbeda dengan penguasa adalah kebenaran.

Salah dan benar di mata dirinya, indikatornya hanya satu, yaitu penguasa. Jika yang berpendapat itu penguasa atau pendukung penguasa, dianggap salah. Atau bukan orang penguasa, tapi pendapatnya senada dengan penguasa, maka akan dianggap salah juga.

Begitulah

Itu lah kenapa kedewasaan dalam berpolitik menjadi penting sekali. Maka hilangkan eksklusifitas itu. Siapa saja yang mau berpolitik, baik sebagai elit atau sebagai massa, hilangkan eksklusifitas itu.

Jangan pernah merasa hanya baik sendiri di politik, sedangkan yang lain salah, jangan. Berpolitik lah dengan akal sehat, jangan dengan emosi. Jika emosional, segala sesuatunya jadi dimasukin ke hati.

Bagi sebagian orang, berpolitik itu hanya soal perebutan kekuasaan, tidak masalah. Bagi sebagian yang lain, berpolitik itu adalah soal berkontribusi, ini bagus. Bagi sebagian yang lain lagi, berpolitik itu adalah ibadah, ini mulia.

Niat yang baik harus diiringi dengan kedewasaan dalam bersikap. Niat yang baik, harus diiringi dengan kemampuan merangkul. Dalam politik, memang ada proses saling mengalahkan. Tapi apa pun hasilnya, semua menjadi pemimpin.

Yang menang akan berkuasa, tentu dia yang akan memimpin. Yang kalah, jadi oposisi, tapi dia pemimpin juga. Karena kata Maxwell, pemimpin itu bersifat 360 derajat. Ia tidak hanya di depan, tapi bisa ada di tengah dan belakang. Ia tidak hanya di atas, tapi bisa berada di tengah dan di bawah.

Sebagai politisi, baik sebagai elite maupun massa, anda pemimpin. Sebagai politisi, anda adalah pemimpin, baik ketika anda berkuasa, atau menjadi oposisi.

Aang Kunaifi

Pemerhati Politik dan Isu Strategis

EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA