Farah.ID
Farah.ID

Kumandang Altruisme Politik Untuk Kemanusiaan

Rabu, 21 Juli 2021, 14:35 WIB
Kumandang Altruisme Politik Untuk Kemanusiaan
Anggota DPD RI, Tamsil Linrung/Net
TEPAT di hari raya Idul Adha kita menyaksikan anasir syahwat kekuasaan dipertontonkan tanpa rasa malu. Vulgar diteken sebagai produk hukum, meski menyalahi nilai etika dan moral yang dianut oleh publik. Aroma kepentingan kroni dan golongan menyengat dari perubahan Statuta UI. Direvisi demi melanggengkan kekuasaan dan jabatan ganda rektor.

Panggung akademik semestinya menjaga api moral agar tidak padam. Tempat dimana seharusnya ajaran tentang altruisme ditempa. Ladang bagi semua nilai dan kebaikan disemai. Termasuk menjadi medium aktualisasi pesan-pesan keagamaan.

Polemik jabatan ganda rektor yang dilegitimasi secara paksa, merupakan contoh paling anyar betapa para elit telah gagal menyajikan inspirasi dan teladan dalam kehidupan kebangsaan kita. Alih-alih berbicara tentang pengorbanan demi kepentingan lebih besar sebagai manifestasi pesan Idul Kurban.

Kemanusiaan


Pesan tauhid dan kemanusiaan merupakan dua nilai yang melekat pada setiap momen perayaan Lebaran Haji. Keduanya memuat falsafah altruisme. Pengorbanan diri. Menanggalkan ego dan mendahulukan kepentingan yang lebih besar.

Dalam dimensi tauhid, ibadah kurban adalah refleksi puncak penghambaan seorang insan kepada Allah SWT. Bertitik tolak dari pengembaraan kolosal Nabiullah Ibrahim AS. Menempuh jalan terjal menemukan kesejatian dirinya sebagai hamba. Pengembaraan ontologis. Membuka semua tabir hakikat fisik maupun metafisik.

Epos kosmostik Ibrahim AS adalah sebuah perjalanan indah. Potret perjuangan seorang mukmin menempuh tur spiritual. Memastikan semua bentuk ketundukan pada mahluk, benda, hingga kooptasi politik penguasa penyembah berhala sebagai jalan buntu. Lalu cahaya jalan menuju tauhid paripurna ditempuh.

Purifikasi tauhid dengan segala dimensinya yang transenden, dicapai melalui upaya progresif. Ditempa sebagai gerakan dan pergerakan. Mufassir Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi mengilustrasikan potongan interaksi Ibrahim AS dengan kaumnya secara sangat indah.

Di dalam tafsir Jalalain, diterangkan bahwa Ibrahim AS telah dibekali dengan ilmu dan kacamata hikmah. Dua kekuatan yang menjadikan Sang Nabi sebagai sosok yang mendapat petunjuk. Bapak para Nabi dan Rasul pengemban agama samawi. Ulul azmi.

Ilmu itu bukan menghampirinya. Tidak datang secara instan. Demikian pula hikmah. Kemampuan membedah yang hak dan batil, juga lahir dari rentetan ikhtiar, pengorbanan dan keteguhan menepis semua keraguan tentang Yang Maha Pencipta.

Level altruisme, pengorbanan mendahulukan persembahan yang dititahkan kepada Ibrahim AS melampaui kooptasi syahwat dan ego. Altruisme Ibrahim AS, menjadi kerja kolektif lingkungan terkecilnya. Disokong penuh oleh anggota keluarga, istri dan anak.

Dalam dimensi kemanusiaan, juga bertebaran ritus yang menekankan pentingnya membangun relasi dengan manusia. Wukuf di Arafah sebagai salah satu rukun haji misalnya. Menyimbolkan kesetaraan. Hanya ada satu identitas tunggal. Hamba di hadapan-Nya. Konglomerat, pejabat, rakyat biasa, berkulit putih, kulit hitam, bermata sipit, rambut cokelat dan berbagai predikat manusiawi lainnya melebur dalam satu simbol pakaian ihram. Tanpa atribusi.

Kesetaraan, kata cendekiawan Mesir Profesor Raghib As Sirjani, adalah puncak keadilan. Tegaknya keadilan mewujudkan kesetaraan di tengah manusia. Menegakkan sumbu kemanusiaan. Rangkaian ibadah haji meletakkan keadilan dan kesetaraan di pusaran nilai pada puncak rukun Islam yang kelima tersebut.

Altruisme

Altruisme yang berdimensi tauhid dan kemanusiaan dari peringatan hari raya Idul Adha menjadi kontekstual dalam kehidupan bangsa yang problematik. Kala tekanan pandemi semakin masif, pesan tentang altruisme semestinya menjadi refleksi Idul Adha kali ini.

Kita merindukan sosok-sosok elit negeri yang memberikan teladan pengorbanan. Mengaktualisasikan tauhid dan kemanusiaan di kancah kekuasaan. Namun fakta yang kita saksikan justru sebaliknya. Pejabat negara dengan hati dingin tega mengorbankan rakyat demi kepentingan golongan dan kroni.

Vulgar kasus rektor UI melabrak aturan, hingga korupsi bantuan sosial yang nilainya triliunan rupiah, merupakan bukti konkret betapa jauh harapan kepedulian yang kita bayangkan.

Padahal, krisis kesehatan telah menjelma menjadi krisis sosial ekonomi yang pelik. Rakyat di daerah berteriak. Fenomena pedagang-pedagang di pasar mengibarkan bendera putih makin meluas. Mereka terjepit karena ekonomi dikunci. Namun rakyat seolah dibiarkan berjibaku sendiri untuk bertahan di antara festivalisasi prohibisi yang mengekang.

Belum lagi, dua kali wacana komersialisasi vaksin Covid-19 muncul. Tahun lalu, ketika belum ada tekanan publik, pemerintah cenderung mendiamkan. Bahkan ada aura bakal memilih opsi vaksin berbayar kalau saja rakyat lengah.

Barulah setelah rakyat berbicara, protes di berbagai forum dan platform, pemerintah terpojok. Lantas memutuskan vaksin gratis. Itupun dengan pengecualian “vaksin gotong royong”. Keputusan yang di hari implementasinya kemudian dianulir. Lagi-lagi karena tekanan publik. Bukan inisiatif dari pemerintah.

Bantuan sosial berupa sembako dan vaksin Covid-19 merupakan dua hak mendasar rakyat di tengah kondisi ekonomi dan pandemi yang sama-sama sangat mencemaskan.

Namun mencuatnya kasus korupsi bansos dan polemik komersialisasi vaksin menyadarkan kita, bila rupanya pemerintah harus belajar lagi tentang pemenuhan hak-hak rakyat. Alih-alih meminta mereka menunjukkan sikap altruisme sementara syahwat self service jauh lebih kuat menelikung.

Bagi rakyat Indonesia yang mengetahui betul kehidupan sesamanya di tingkat akar rumput, altruisme sudah bukan barang baru. Hidup berkorban untuk kepentingan bersama adalah menu santapan harian. Karena itu, kepedulian antar warga jauh lebih memukau dan indah dibanding perhatian negara secara struktural.

Validasi paling otentik terlihat dari maraknya gerakan berbagi yang diinisiasi secara swadaya. Gerakan saling bantu antar rakyat itu bahkan bertransmisi secara digital. Digalang di platform-platform komunikasi dan crowdfunding. Lalu miliaran rupiah donasi yang terkumpul didistribusikan secara transparan.

Potret altruisme dan kedermawanan sosial tersebut bahkan diapresiasi dunia. Berkali-kali Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan sedunia. World Giving Index 2021 yang dilansir oleh Charities Aid Foundation (CAF) menempatkan Indonesia di rangking satu sebagai negara paling dermawan.

Menariknya, kedermawanan itu, menurut laporan CAF, terkait erat dengan keyakinan keagamaan yang dianut penduduk Indonesia. Artinya, secara komunal, masyarakat kita mengimplementasikan nilai-nilai kepedulian, pengorbanan hingga altruisme dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter otentik kepedulian refleksi keyakinan agama itu, bukan lagi sekadar teoritis. Namun telah sublim sebagai karakter umat. Sayangnya, kita tidak menyaksikan hal yang sama di level struktural.

Jika akhirnya ada pejabat negara yang mengimplementasikan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam dunia politik misalnya, pasti dianggap istimewa. Karena memang hal itu masih sangat langka. Namun falsafah politik untuk kemanusiaan harus terus kita gaungkan. Karena inilah jalan politik manifestasi tauhid. Juga mengusung nilai-nilai universal. Kemanusiaan. Persis hikmah yang kita tangkap dari hari raya Idul Adha.

Tamsil Linrung

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI)

ARTIKEL LAINNYA