Farah.ID
Farah.ID

Jangan Ada Yang Dikorbankan Dalam Pandemi Covid-19

Selasa, 20 Juli 2021, 21:57 WIB
Jangan Ada Yang Dikorbankan Dalam Pandemi Covid-19
Kepala Departemen V DPP Partai Demokrat, Qomaruddin/Net
DAHSYATNYA hantaman virus corona varian delta membuat keadaan Indonesia porak poranda, yang tadinya masih bisa mengendalikan pandemi kini dengan hadirnya varian delta membuat pemerintahan keteteran dan tak mampu mengendalikan.

Hantaman Covid-19 gelombang kedua varian delta telah banyak memakan korban jumlah yang terpapar meningkat begitu signifikan dan angka kematian juga merangkak naik terus.

Perdebatan yang tajam tentang langkah pemerintahan dalam mengambil kebijakan antara pengetatan dan pelonggaran pembatasan sosial selalu mengisi ruang publik.

Penentuan langkah kebijakan dalam memprioritaskan antara ekonomi dan penyelamatan nyawa rakyat terus menghadirkan pro dan kontra.

Walaupun pada akhirnya penyelamatan ekonomi yang menjadi pilihan dengan dilonggarkanya pembatasan sosial.

Hal ini mungkin bisa terjadi karena banyaknya tekanan dan masifnya buzzer yang tidak memiliki kualifikasi ikut andil mendengung agar pemerintahan mengambil langkah pelongaran pembatasan sosial.

Di saat negara dilema dalam menentukan sikap dan arah kebijakan, Persiden keenam Bapak Profesor Dr. Susilo Bambang Yudhoyono jauh hari sudah memberikan pandangan dan gagasan yang berlian tentang penanganan Covid-19. Gagasan tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Jangan Ada Yang Dikorbankan”.

Beliau adalah tokoh yang kaya akan ide dan gagasan. Ide genuine dan brilian ini selalu hadir baik di saat kondisi normal maupun dalam kaadaan yang kritis atau emergency condition (urgency).

Sebagai mantan presiden, saya kira tidak berlebihan bila kita mengatakan kalau beliau berhasil dalam memimpin bangsa ini selama 10 tahun. Banyak prestasi yang diperoleh oleh Bapak SBY ketika memimpin. Namun, kita juga tidak mengingkari kalau masih ada kekurangan dalam perjalanan kepemimpinanya.

Beliau adalah tokoh yang tidak berpikir parsial dan sempit. ciri khas dari pemikiran beliau adalah holistik dan universal.

Kalaupun ada perdebatan yang tajam antara dua kutub pro dan kontrak atau dua pilihan yang membuat dilema beliau selalu mencari jalan tengah yang lebih solutif dan minim resiko atau paling sedikit kerugianya.

Sikap ini dalam teori Anthony Giddens disebut jalan tengah (the third way). Kadang kalau berpikirnya tidak smooth langka tersebut dinilai terkesan tidak tegas, tapi sebetulnya di dalam sikap tersebut terdapat energi dan power yang sangat kuat dan solutif.

Terbukti ketika Bapak SBY menangani berbagai masalah besar bangsa ini. Seperti tsunami, gempa Yogyakarta, krisis 2008-2009, perdamaian Aceh dan lainnya.

Di dalam bukunya yang berjudul "Jangan Ada Yang Dikorbankan" untuk merespon pandemi Covid-19, gagasan atau ide yang dieksplor tidaklah bersifat parsial atau sektoral.

Namun, cara dan strategi menganalisis beliau adalah secara holistik dan global Karena beliau sangat memahami bahwa musibah yang terjadi adalah musibah bersekala global.

Tentunya kerangka pemikiran yang dibangun juga secara global walaupun ada pengamatan dan kontribusi pemikiran yang kuat untuk Indonesia sebagai pertangung jawaban sebagai anak bangsa Indonesia.

Beliau mengatakan, penanganan pandemi ini mestinya harus ditangani bersama-sama oleh seluruh pemimpin dunia, membangun kerjasama yang baik dan profesional untuk menekan laju penyebaran Covid-19.

Hal itu diutarakan karena Pak SBY menilai bahwa pada medio maret 2020 beliau memberi kritikan dalam penanganan Covid-19.

Pada waktu itu terjadi penanganan pandemi Covid-19 yang kurangnya kohesi, koordinasi dan kerjasama dalam menanggulangi covid-19, baik ditingkat regional maupun internasional.

Walaupun, dengan seiring berjalannya penanganan pandemi Covid-19 telah dilakukan kerjasama internasional, namun agak telat. Karena pandemi ini sudah menyebar seantero dunia.

Di mana, masifnya penyebaran pandemi juga mengakibatkan benturan antar negara yaitu Amerika dan Tiongkok. Hal tersebut terjadi dipicu tentang cara penanggulangan dan perlunya investigasi asal muasal pandemi Covid-19.

Hasil analisis beliau pada medio Maret 2020 menyangkut kebijakan yang diambil tiap-tiap negara. Dan sebagian negara juga sudah mengarah pada kesimpulan bahwa negara yang cepat dan berhasil menghentikan sebaran Covid-19 adalah pertama negara yang cepat merespon datangnya pandemi.

Kedua,negara yang menjalankan pembatasan sosial secara tegas dan ketat yang berlaku secara nasional. Ketiga, negara yang tidak terlalu cepat melaksanakan pelonggaran karena kondisi belum siap.

Negara yang melakukan hal-hal tersebut di atas pada waktu itu sekarang mengalami keberhasilan dalam menangani Covid 19 di saat ini. Misalnya negara Amerika, Tiongkon dan Eropa.

Pada waktu itu, Maret 2020 Pak SBY menyarankan ambil pilihan yang rasional dan terukur, jangan gamang. Gagasan itu disampaikan Bapak SBY pada dunia dan Indonesia. Pelonggaran pembatasan sosial dan pembukaan kembali ekonomi bisa dilakukan, tetapi dengan sejumlah syarat (precondition).

Syarat-syarat itu antara lain diutamakan bagi daerah atau kota yang kurva kasusnya sudah bener-bener menurun. Pelaksanaannya harus bertahap dan selektif disertai dengan aturan, kontrol dan pengawasan yang ketat.

Yang jauh lebih penting dari opsi-opsi penangan kasus pandemi Covid-19 adalah kejujuran dan transparansi pemerintahan karena hal tersebut berkaitan dengan langkah penanganan dan trust publik pada pemeritahan. Jika akurasi data yg dihasilkan obyektif dan benar maka langkah kebijakan yang diambil dalam merespon pandemi juga akan tepat.

Begitu juga kepercayaan yang dibangun dengan baik akan Menghadirkan impact berupa legitimasi pada pola dan strategi manajemen kepemimpinan pemerintah.

Kebijakan yang terafirmasi dengan legitimasi rakyat akan berjalan secara confident, terukur dan tepat sasaran. Dengan dukungan dan kepatuhan rakyat pada pemerintahan, produk kebijakan pemerintah akan jau lebih profesional dan proposional.

Namun, jangan juga demi mendapat legitimasi publik para petinggi negara selalu mengabarkan berita baik-baik saja tentang kondisi negara padahal faktanya lebih buruk (tidak objektif) atau bersikap semacam “the power of post truth”.

Meskipun beritanya tidak selalu benar, tapi karena didengungkan terus menerus, secara konsisten dan meyakinkan akhirnya dipercaya juga oleh rakyat.

Hal seperti itu, pada titik tertentu akan muncul ketidak sesuaian dan membuat publik bersikap apatis atau krisis legitimasi pada pemerintahan. Ini yang memberi dampak negatif pada pola menejemen pemerintahan.

"Ini bukan pertempuran sesaat, tapi sebuah peperangan jangka panjang. Kita harus kuat dan memiliki persiapan stamina, nutrisi dan vitamin yang lebih, dalam menghadapi pandemi ini. Negara harus mampu mengatur perangkat-perangkatnya dengan baik agar cukup untuk berperang dalam waktu yang relatif lama," kata Bapak SBY dalam bukunya.

Jangan juga ada yang berpikiran bahwa pandemi ini ujian alam sehingga memunculkan sikap pasrah pada seleksi alam dan berkesimpulan yang kuatlah yang tetap bertahan dan yang lemah akan tersisih. Pikiran ini salah dan berbahaya.

Negara tetap wajib hadir dalam melindungi rakyatnya termasuk keselamatanya. Negara harus tetap hadir dengan segala kekuatannya untuk menyelamatkan keduanya, baik itu nyawa rakyat dan ekonomi.

Opsi-opsi yang strategis, rasional dan solutif serta minim resiko harus tetap dicari dan segera ditetapkan, dijalankan dengan aturan, kontrol dan pengawasan yang ketat.

Semoga badai pandemi ini bisa ditangani dengan baik dan Indonesia bisa melewati ujian ini.

Qomaruddin
Kepala Departemen V DPP Partai Demokrat

ARTIKEL LAINNYA