Farah.ID
Farah.ID

Selamatkan Diri Dari Economic Idiot

Senin, 05 Juli 2021, 11:17 WIB
Selamatkan Diri Dari Economic Idiot
Alamsyah Saragih/Net
SAYA sudah purnatugas dari Ombudsman RI ketika serangan Covid jilid dua ini mulai merebak. Beberapa kali harus menjelaskan hal tersebut kepada rekan-rekan jurnalis yang menghubungi untuk keperluan wawancara dan menanyakan bagaimana sikap Ombudsman RI.

Sejak Malaysia dilanda gelombang kedua yang berasal dari India (varian delta) saya sudah mulai cemas. Apalagi kita negeri kepulauan, kemungkinan hilir mudik penduduk terinfeksi dari negeri tetangga sulit dicegah.

Belum lagi mental korup petugas yang berkombinasi dengan mental bebal masyarakat. Seorang teman yang berstatus survivor menyebutnya sebagai civic idiot.

Ketika Sumatera mulai terjangkit, tak ada upaya untuk menutup pelabuhan internasional. Masyarakat bersiap untuk mudik. Pemerintah, seperti biasa, menyampaikan pesan berstandar ganda: dilarang mudik tapi dianjurkan untuk berwisata. Pascamudik, bahkan Menko Marinvest berencana mengajak kementerian dan lembaga berkantor di Bali.

Teringat akhir Februari tahun lalu, saya dan teman-teman terpaksa mempublikasikan Peringatan Dini Ombudsman RI tentang bahaya Covid-19 dan apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah.

Tindakan tersebut terpaksa diambil karena melihat para pertinggi sibuk mencandai Covid-19 di publik dengan pernyataan-pernyataan 'tak waras' sementara korban di Wuhan sudah berjatuhan.

Hari-Hari Pedih


Alvin Lie adalah kolega yang dulu membidangi sektor perhubungan di Ombudsman. Meski ia orang yang cukup disiplin dan rewel, akhirnya terkena serangan di gelombang kedua ini.

Ia tak tahan melihat pembiaran oleh Pemerintah dan berteriak di media mengapa pelabuhan internasional masih dibiarkan terbuka. Kementerian perhubungan meresponsnya dengan jawaban buang badan: perlu persetujuan Kemenlu dan Kemenkes.

Di group mantan pimpinan Ombudsman, kami menerima kabar istri Laode Ida, ibu Yuniar Budyanti, juga terjangkit dan kondisinya memburuk. Saya mencoba menghubungi teman kuliah yang sekarang Wakil Kepala RSPAD, dr Lukman Ma'ruf. Dengan suara seperti orang letih ia menyatakan sedang Isoman, dan kondisi RSPAD sudah kewalahan.

Saya berusaha menghubungi Wisma Atlet, akan tetapi mereka tak menerima pasien dengan kondisi sudah berat. Rumah Sakit penuh dan oksigen mulai langka.

Adrianus Meliala berhasil menghubungi RS Polri dan akhirnya mendapatkan tempat sementara di IGD. Ambulans mengantarkan Bu Yuniar dengan saturasi sudah begitu rendah.

Saya cukup sering mengirimi update perkembangan dan 'pesan pengingat' kepada beberapa teman yang saya pandang berisiko terjangkit karena pekerjaan mereka. Tiba-tiba sebuah pesan masuk mengabari salah satu sahabat yang masih muda, Veri Junaidi, telah berpulang akibat Covid.

Ada perasaan menyesal karena saya lupa mengiriminya pengingat agar membatalkan agenda berpergian dan pertemuan langsung. Saya menerima informasi ia baru saja pulang beberapa hari lalu dari Bojonegoro untuk undangan dari Bawaslu Jawa Timur.

Sabtu pagi saya bangun agak siang karena cukup lelah semalaman mengkoordinasikan beberapa teman yang tumbang oleh Covid dan mencoba mencari stok Ivermectin yang langka. Membuka pesan di gadget dan membaca berita duka: bu Yuniar telah berpulang. Lama saya baru beranjak dari tempat tidur.

Ada perasaan pedih yamg amat sangat. Teringat ribuan ucapan terima kasih dari warga yang terbantu selama kami masih di Ombudsman. Tapi hari ini kami sama sekali tak bisa menyelamatkan salah satu anggota keluarga.

Saya betul-betul merasa terpukul. Minggu pagi kita lakukan takziah daring. Salah satu kolega, Alvin Lie, masih menggunakan selang oksigen.

Jaga Kewarasan


Berita-berita efek positif Ivermectin, yang dikenal sebagai obat cacing, di beberapa negara menjadi populer. Dua minggu lalu, saya menerima satu terusan pesan dari istri. Pesan berisi eksperimen Profesor Thomas Borody, seorang Gastroenterologist, tentang Ivermectin. Pesan saya teruskan ke beberapa teman sambil mengingatkan agar tetap gunakan resep dokter.

Di media, Menteri Erick Thohir mengumumkan akan memproduksi lebih banyak Ivermectin, kontroversi merebak di medsos. Sebagian meragukan efektivitas dan sebagian lain mempercayai. Beberapa kabar dari teman yang menggunakan menunjukkan indikasi positif. Saya tak paham bagaimana cara bekerjanya.

BPOM mengumumkan bahwa Ivermectin tak dijual bebas. Harus dengan resep dokter. Penny Lukito, Kepala BPOM, menyatakan BPOM sedang melakukan uji klinis Ivermectin. Harga melonjak gila-gilaan di pasaran dan barang segera langka. Menteri Kesehatan kemudian menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk mencegah spekulan.

Sebuah media memuat berita peringatan dari salah satu dokter pengurus IDI bahwa konsumsi Ivermectin berbahaya karena bisa merusak saraf pusat. Saya agak tertegun, namun akal sehat terganggu. Jika berita itu benar, bagaimana dengan mereka yang pernah mengkonsumsi Ivermectin untuk mengatasi cacingan? Apakah mereka mengalami kerusakan saraf pusat?

Pertanyaan saya teruskan ke group percakapan yang berisi teman-teman lama satu angkatan ketika sempat kuliah di kedokteran dulu. Salah satu teman menjelaskan bahwa aman untuk satu kali masa penggunaan dalam 6-12 bulan. Penjelasan singkat yang sangat masuk akal.

Saya membaca berita bahwa di Sragen ada relawan yang membagi-bagi Ivermectin kepada warga yang positif. Saya kaget, apakah boleh dibagi-bagi gratis tanpa penjelasan cara penggunaan dan resep dokter? Belum selesai membaca, seorang teman mengirimkan berita ada warga yang menerima pembagian gratis dan langsung meminum lima tablet. Sinting!

Sampai pagi ini beberapa berita positif masuk dari teman-teman yang mengkonsumsi sesuai ketentuan. Saya tetap berpendirian perlu dilakukan uji klinis terhadap Ivermectin untuk memgetahui apakah betul membantu penanganan Covid. Bagi mereka yang mengkonsumsi tetap harus dengan resep dokter, apalagi obat ini juga digunakan untuk hewan.

Di medsos masih beredar pesan-pesan yang menyesatkan dan menentang kenyataan bahwa Covid memang ada. Menghadapi varian delta ini kita sudah pada batas maksimum, cukuplah dengan menahan diri dan menjaga kewarasan. Bagi anda yang keras kepala, terserah. Namun jika masih punya hati dan otak jangan membunuh orang lain dengan perilaku tak waras anda.

Beberapa group WA masih memuat percakapan yang berisi pertengkaran tentang ilusi konspirasi Covid dan menyarankan agar pencatatan kasus baru diabaikan.

Sebagian netizen sibuk melakukan pembelaan terhadap kebijakan berstandar ganda yang ngotot ingin menyelamatkan ekonomi. Sebuah link berita memuat kedatangan Tenaga Kerja Asing ke Sulawesi. Saya hanya bisa menggelengkan kepala.

Mari jaga kewarasan dan selamatkan diri kita dari Economic Idiot.

Alamsyah Saragih

Mantan Komisioner Ombudsman RI
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA