Farah.ID
Farah.ID

Duka Beruntun Dari Orang-orang Dekat Korban Covid-19

Catatan Ilham Bintang

OLEH: ILHAM BINTANG
  • Senin, 21 Juni 2021, 13:41 WIB
MENGAWALI pagi, Senin 21 Juni 2021, dapat berita duka beruntun dari orang dekat: Mohammad Ridwan (50) dan Harry Kaligis (55). Keduanya wafat karena terpapar Covid-19.

Kemungkinan besar virus yang menulari dua almarhum varian baru. Ganas. Begitu menjangkiti hanya dalam hitungan hari umumnya korban tak tertolong jiwanya.

Ridwan dan Harry meninggal di hari yang sama. Sama-sama setelah tiga hari hasil swab PCR-nya positif. Ridwan malah sudah menjalani vaksin dua kali.

Kabar pertama, datang dari keluarga Mohammad Ridwan. Mendiang guru di sekolah Al Falah, Cibubur, sekolah yang dikelola keluarga kami. Semua cucu kami bersekolah di sana. Ridwan bahkan tinggal satu komplek dengan guru dan sebagian keluarga kami di Griya Suralaya, Cipayung Jakarta Timur.

Otomatis, semua yang tinggal di komplek kini harus jalani swab PCR untuk memastikan kondisi kesehatan mereka aman, tidak tertular. Termasuk sebagian murid Al Falah yang sempat masuk sekolah fase uji coba belajar  secara tatap muka dalam kelas.

Berita duka kedua dari Harry Kaligis. Almarhum seorang pengusaha, Ketua Umum Kappija21 -Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Abad 21.

Menggerakkan Potensi Alumni

Harry Kaligis terpilih sebagai Ketum Kappija dalam Munas Kappija yang dibuka oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan dihadiri oleh Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo, 14 Desember 2019

Menjelang Munas, saya beberapa kali bertemu dengan Harry. Ia bersama sejumlah alumni Jepang menemui saya di kantor Tabloid C&R, di kawasan Meruya, Jakarta Barat. Harry menceritakan problem Kappija21 mutakhir yang amat memperihatinkan.

Jumlah alumni program kunjungan belajar di negeri Sakura atas biaya pemerintah Jepang itu lebih 4.000 orang di Indonesia. Bersebaran di seluruh provinsi. Jumlah itu akan makin terus bertambah mengingat program yang digagas Nakasone waktu menjabat PM Jepang masih berlangsung sampai sekarang.

"Sepuluh tahun terakhir hampir tak ada aktivitas Kappija21 yang menggerakkan alumni untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa," kata Harry.

Padahal, sambung Harry, para alumni itu aset bangsa, rata-rata berprestasi di bidangnya. Sebab itu salah satu syarat mereka mendapat undangan belajar ke Jepang dengan seleksi yang dilakukan Kemenpora dan Sekretariat Negara.

Seperti misalnya Tjahjo Kumolo (Angkatan I/1984), Airlangga Hartarto (1985), diplomat mantan Dubes RI Hongaria, Wening Esthyprobo (1985), Ruhut Sitompol, dan anggota DPR-RI Darul Sisca (1984). Saya sendiri tercatat sebagai alumni 1985, seangkatan Gaga, panggilan akrab Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Pertemuan berikutnya, Harry mengundang alumni dalam jumlah yang lebih banyak. Dia buat presentasi dalam pertemuan itu. Sampai tiga kali. Saya akhirnya mendukung penyelenggaran Kongres Kappija21 dan menyokong Harry untuk memimpin Kappija21.

Program Harry bagus. Itu yang membuatnya tidak sulit untuk dia mendapat dukungan anggota terutama dari daerah. Maka itu saya membantu mengontak Pak Airlangga, Pak Tjahjo Kumolo, dan Mas Bambang Soesatyo untuk mendukungnya.

Terbukti dalam Munas Kappija21 Harry terpilih secara aklamasi.

Sayang, setahun terakhir beberapa programnya memang terbentur karena diaadang pandemi Covid-19.

Harry Kaligis meninggal dunia Senin pagi (21/6). Ayah dua anak itu meninggal di RSUD Banten, tiga hari setelah dirawat di sana.
Banten?

"Iya, Bang. Semua RS penuh di Jakarta, makanya tiga hari lalu kami larikan ke RSUD Banten," kata Ade, istri almarhum.

Harry memang punya komorbid. Dia menderita kanker getah bening. Seminggu sebelumnya ia menjalani kemo kedua. Dua hari setelah itu badannya panas diiringi batuk keras. Hasil Tes Swab PCR-nya positif. Bukan hanya Harry, tetapi juga istri dan kedua putranya juga positif.

"Tetapi kondisi Mas Harry sampai kemarin pagi masih baik. Kami sempat video call, dan banyak bercanda," cerita Ade.

Sore harinya, Ade mendapat info dari RS kondisi Harry mulai drop. Malam  kritis. Dan, tadi pagi dapat pemberitahuan telah meninggal dunia.

"Kami terkejut, cepat sekali perginya," kata Ade melalui percakapan telepon dalam perjalanan untuk mengurus pemakaman almarhum yang dijadwalkan RS pukul 11.00 WIB.

Serupa proses kematian yang dialami Mohammad Ridwan. Ini saya tahu persis karena kebetulan saya intens mencarikan RS buat almarhum. Ridwan mendapatkan hasil Swab PCR positif pada 18 Juni.

Minggu (20/6), atas permintaan keluarganya, saya mencoba cari RS. Karena tak berhasil saya kontak Pak Anies. Pak Gubernur cepat merespons. Beliau carikan RS, tapi kenyataannya bukan hanya seluruh RS penuh, tetapi juga antrean ambulans sudah mengular di pelataran semua RS yang membawa pasien.

Pak Anies akhirnya berinisiatif mengirim dokter ke rumah pasien. Sekalian membawa oksigen. Karena sudah sangat parah semalam keluarganya membawa Ridwan ke RS. Kebetulan dapat tempat di ICU.

Subuh tadi, Ridwan wafat. Meninggalkan seorang isteri, Tjutju Herawati, dan empat anak. Memang sudah pasti itu karena ketentuan Allah SWT.

Baik Ridwan maupun Harry merupakan orang baik. Berdedikasi tinggi di bidang masing-masing, serta relasi sosial yang amanah. Semoga Allah SWT memberikan tempat lapang, nyaman, dan indah di sisiNya.

Secara khusus saya juga ingin sampaikan ucapan terima kasih Pak Gubernur DKI Anies Baswedan⁩. Di tengah situasi genting Jakarta dia tetap menunjukkan perhatian pada tiap-tiap warganya.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA