Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Medsos Dan Kampanye Gemarikan Di Masa Pandemi

Selasa, 08 Juni 2021, 02:48 WIB
Medsos Dan Kampanye Gemarikan Di Masa Pandemi
Ilustrasi Gemarikan/Ist
SENIN 2 Maret 2020 menjadi momen penting bagi Indonesia. Penting karena pada hari tersebut, Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan, MayjenTerawan Agus Pratikno mengumumkan 2 pasien pertama Covid-19 di Indonesia.  

Sejak diumumkan, pasien covid-19 di Indonesia pun kian bertambah dan semakin meluas. Hingga pemerintah melakukan sejumlah kebijakan mulai dari pembatasan sosial skala besar (PSBB) yang memperketat akses masuk ke Ibu Kota sejak akhir Maret hingga akhir April.

Selain itu kebijakan pelarangan mudik 2020 dan 2021 hingga pembatasan sosial skala mikro (PPKM) yang masih diberlakukan sampai saat ini.

Hampir 1,5 tahun berlalu, penderita covid-19 pun mencapai 1.843.612 per tanggal 4 Juni 2021. Dari jumlah ini, 1.697.543 dinyatakan sembuh dan 51.246 di antaranya meninggal dunia.

Tak hanya berdampak dari sisi medis, Covid-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO), juga berdampak pada ekonomi sekaligus mempengaruhi interaksi sekaligus mobilitas masyarakat.

Hal ini cukup beralasan karena masyarakat pun diimbau untuk melakukan kerja dari rumah, belajar dari rumah dan membatasi segala akses ke luar rumah demi meminimalisir risiko penularan dan penyebaran virus covid-19.

Alhasil, pola interaksi pun berubah. Dari yang terjadi secara langsung, kini beralih ke ranah virtual. Mulai dari seminar, workshop hingga resepsi pernikahan pun dilakukan secara daring. Dari aspek ini, terlihat bahwa pandemi mempercepat akselerasi digital.

Merujuk penelitian yang dilakukan oleh McKinsey & Company, secara global akselerasi digital bahkan meningkat 58 persen per Juli 2020. Jauh lebih tinggi dibanding pada Desember 2019 sebesar 36 persen dan Mei 2018 yang hanya 20 persen.

Sementara di Asia-Pasifik, akselerasi digital di masa pandemi meningkat 53 persen per Juli 2020, melonjak dibanding Desember 2019 sebesar 32 persen dan  Mei 2018 sebesar 19 persen.

Pandemi pun mendorong percepatan transformasi digital di Indonesia. Sebagai contoh, sekitar 45 juta siswa di Indonesia yang mewakili hampir 3 persen populasi siswa secara global terkena dampak dan mengubah proses pembelajaran online dan meniru pengalaman kelas melalui konferensi video.

Dampaknya, perlaihan ini memberikan peluang bagi teknologi pendidikan (EdTech) untuk memainkan peran penting.  

Telkomsel, salah satu provider telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia, mencatatkan peningkatan trafik broadband sebesar 16 persen selama pandemik. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan pengguna aplikasi pembelajaran online seperti Ruangguru, situs e-learning kampus, dan Google Classroom.

Sementara penyedia aplikasi seperti Ruangguru, meraup untung dan tumbuh secara siginifikan. Bahkan, kunjungan ke situs webnya melonjak dari yang tadinya 7,5 juta menjadi lebih dari 11 juta per bulan.

Sepintas tentang Gemarikan

Pemerintah menargetkan angka konsumsi ikan (AKI) sebesar 62,50 kg/kapita/tahun pada 2024 mendatang. Sementara pada 2020 lalu, AKI secara nasional baru mencapai 56,39/kg/kapita/tahun.

Angka ini pun masih jauh di bawah negara tetangga. Sebagai contoh, AKI Malaysia sudah mencapai 70 kg/ kapita per tahun, Singapura 80 kg/kapita per tahun, dan Jepang mendekati 100 kg/kapita per tahun.

Ironis, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi perikanan yang jauh melebihi negara-negara di atas. Adapun yang menjadi pemicu rendahnya AKI di antaranya, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang infomasi kandungan gizi dan manfaat ikan sehingga ikan tidak menjadi pangan utama.

Faktor lain ialah adanya persepsi yang salah seperti makan ikan bisa menyebabkan anak cacingan, air susu ibu amis, alergi dan lain lain. Belum lagi beberapa jenis ikan juga masih dipersepsikan sebagai bahan pangan yang mahal.

Selain itu, kondisi geografis kota yang jauh dari laut, serta lingkungan sosial, seringkali membuat olahan ikan terpinggirkan oleh makanan  kekinian yang didominasi oleh junkfood dan yang mengandung MSG.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara tetangga yang mengedepankan budaya makan ikan yang baik hingga menjadikan menu seafood sebagai makanan khas nan membanggakan.
 
Merujuk pada fakta tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan  (KKP) meluncurkan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).  Kampanye yang dimulai sejak tahun 2014 ini perlahan mampu meningkatkan AKI secara nasional.

Dimulai hanya 38,14 kg/kapita pada tahun2014, naik menjadi 41,11% di tahun 2015 lalu 43,94 kg/kapita di tahun 2016. Angka ini pun kemudian naik menjadi 47,34 kg/kapita di tahun 2017 dan 50,69 kg/kapita di tahun 2018. Selanjutnya 54,5 kg/kapita di tahun 2019 dan 56,39 kg/kapita di tahun 2020.

Gemarikan merupakan kampanye secara masif di berbagai daerah di Indonesia yang melibatkan para pemangku kepentingan seperti DPR RI, Pemda hingga UMKM pengolah hasil perikanan.  

Gerakan ini bertujuan untuk membangun kesadaran gizi masyarakat agar gemar mengonsumsi ikan. Selain itu bertujuan juga untuk meningkatkan permintaan masyarakat atas produk perikanan dan meningkatkan asupan gizi yang berasal dari ikan, sehingga berimplikasi pada peningkatan konsumsi ikan nasional.

Efektivitas Gemarikan juga ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dika Febrina (2017). Dalam skripsinya yang berjudul “Dampak Pelaksanaan Program Gemarikan terhadap Peningkatkan Konsumsi Ikan Rumah Tangga di Kota Malang”.

Dalam riset tersebut, mahasiswa Universitas Brawijaya ini menemukan terjadi peningkatan  konsumsi ikan kepada para responden setelah diyakinkan manfaat dari mengkonsumsi ikan.

Selain itu, terdapat pula perubahan konsumsi ikan responden sebelum dan sesudah program.

Kampanye Gemarikan juga memperhatikan demografis penduduk Indonesia.  Dari hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), secara demografis  penduduk Indonesia tahun di tahun 2020 mencapai 270,20 juta jiwa.

Sangat tepat bahwa sasaran yang dituju pada kampanye Gemarikan ikan utamanya adalah kelompok usia dini sampai kelompok usia subur atau dari generasi post Gen Z sampai  generasi milenial yang jumlahnya mendominasi penduduk Indonesia.

Bahkan program Gemarikan saat ini dipertajam lagi untuk mendukung penanggulangan kasus stunting di Indonesia.  

Berdasarkan hasil survei Status Gizi Balita pada 2019, prevalensi stunting Indonesia tercatat sebesar 27,67 persen. Angka itu masih di atas standar yang ditetapkan oleh WHO bahwa prevalensi stunting di suatu negara tak boleh melebihi 20 persen.

Untuk itu dalam setiap kampanye Gemarikan diantaranya mengingatkan pada masyarakat bahwa protein yang terkandung pada ikan mampu menurunkan angka stunting apabila dimulai dikonsumsi oleh ibu hamil. Sehingga manfaatnya dirasakan oleh ibu dan janinnya.

Gemarikan di Tengah Pandemi

Selama ini, program Gemarikan hanya dilaksanakan melalui kegiatan kampanye secara langsung dan melibatkan masyarakat dari satu daerah ke daerah lainnya. Pelaksanaan kegiatan seperti ini sangat terbatas dan memerlukan biaya dan tenaga yang tinggi.

Belum lagi ketika pandemi Covid 19, kegiatan kampanye Gemarikan terkendala dengan beragam pembatasan dan pemberlakukan protokol kesehatan yang melarang kegiatan berkerumun dalam jumlah besar.

Namun, sebagaimana dijelaskan di atas, pandemi covid-19 yang mempercepat akselerasi digital, turut memberikan peluang bagi kampanye Gemarikan untuk dilakukan secara daring.

Terlebih per Januari 2021, berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Hoot Suite bahwa pengguna aktif sosial media di Indonesia mencapai 170 juta. Jumlah ini meningkat 6,3 persen atau setara 10 juta pengguna dibanding Januari 2020.

Dari jumlah tersebut, 168,5 juta di antaranya mengakses sosial media dari perangkat mobile atau telefon pintar. Waktu yang dihabiskan rata-rata pengguna sosial media pun mencapai 3 jam 14 menit per harinya.

Adapun sosial media yang paling banyak digunakan oleh netizen Indonesia di antaranya; Facebook 140 juta, Youtube 107 juta, Instagram 85 juta, LinkedIn 17 juta dan Twitter 14,05 juta.

Merujuk pada fakta ini, sosial media menjadi kanal penting untuk sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya makan ikan. Terlebih jika dipadukan dengan demografi hasil sensus penduduk 2020, generasi z dengan kisaran umur 8-39 tahun yang jumlahnya mencapai 53,81 persen bisa dijadikan sasaran kampanye Gemarikan.

Karenanya, pendekatan digital dalam kampanye Gemarikan penting dilakukan mengingat urgensi sesuai situasi dan kondisi saat ini.

Baik pemerintah pusat hingga ke dinas, perlu memiliki media komunikasi visual atau media sosial sekaligus sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola secara rutin dan sistematis informasi yang berkaitan dengan kampanye Gemarikan.

Dengan mengenal target audience mereka, diharapkan kampanye Gemarikan bisa membuat konten konten yang menarik sesuai dengan karakteristik platform dan pengguna media sosial.

Bila ini bisa dilakukan maka kampanye Gemarikan  bisa semakin efektif sekaligus mendorong kesadaran pentingnya konsumsi ikan yang akan berdampak pada peningkatan AKI secara nasional.

Samsi Haryono
Penulis adalah Pranata Humas Pertama pada Ditjen PDSPKP�"KKP

ARTIKEL LAINNYA