Farah.ID
Farah.ID

Al-Qur'an Dan Pancasila Di Mata Mohammad Natsir (Perdana Menteri Indonesia Kelima Tahun 1950-an)

Sabtu, 05 Juni 2021, 20:39 WIB
Al-Qur'an Dan Pancasila Di Mata Mohammad Natsir (Perdana Menteri Indonesia Kelima Tahun 1950-an)
Garuda Pancasila dan bendera Merah putih/Net
Mohammad Natsir pernah membuat tulisan /ceramah berjudul: Apakah Pancasila bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an? Dia mengatakan bahwa
Al-Qur'an itu adalah dasar hidup (bagi orang Islam).

Ia adalah induk dari serba sila (Pancasila) yang memberi nilai-nilai hidup yang menghidupkan. Oleh karena itu kata Natsir, Pancasila tidak boleh dipertentangkan dengan Al-Qur'an, karena Al-Qur'an kata Natsir membawakan tauhid, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dan tauhid tersebut, kata beliau, akan menumbuhkan dalam tiap-tiap jiwa orang yang beriman akan kesadaran harga diri mereka sebagai hamba Allah di samping hamba-hamba Allah yang lain. Dan Al-Qur'an itu kata Natsir, jelas datang bukan untuk menghapus bangsa dan kebangsaan.

Karena hal itu menurut Natsir, sudah merupakan sunnatullah dimana kita di dalam Al-Qur'an disuruh untuk saling kenal mengenal dan saling harga menghargai. Jadi Islam dan atau Al-Qur'an itu datang untuk meletakkan dasar-dasar yang sehat untuk hidup suburnya suatu bangsa di dalam pergaulan  kekeluargaan bangsa-bangsa.

Selanjutnya, Natsir dalam tulisannya tersebut juga menyinggung tentang sejarah,  dimana beliau menyatakan  bahwa perumusan Pancasila itu adalah hasil musyawarah antara para pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan  memuncak di tahun 1945.

Saya percaya kata Natsir, bahwa di dalam keadaan yang demikian  para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besarnya adalah beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka adalah nyata-nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam.

Oleh karena itu dalam kesimpulannya, beliau dengan tegas menyatakan :

1. Bagaimana mungkin Al-Qur'an yang memancarkan tauhid akan terdapat apriori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?

2. Bagaimana mungkin Al-Qur'an yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan al-adalah al- ijtima'iyah bisa apriori bertentangan dengan keadilan sosial ?

3. Bagaimana mungkin Al-Qur'an yang justru memberantas sistim feodal dan pemerintahan istibdad atau sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan, dapat apriori bertentangan dengan apa yang dinamakan kedaulatan rakyat?

4. Bagaimana mungkin Al-Qur'an yang menegakkan istilah al- ishlahu bainannas sebagai dasar-dasar yang pokok yang harus ditegakkan oleh umat Islam, dapat apriori bertentangan dengan apa yang disebut perikemanusiaan?

5. Bagaimana mungkin Al-Qur'an yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan apriori dapat dikatakan bertentangan dengan kebangsaan?

Jadi dalam kesimpulan Natsir, bagaimana mungkin Al-Qur'an akan bertentangan dengan Pancasila terutama sila pertamanya, Ketuhanan Yang Maha Esa, kalau yang dituju oleh sila pertama tersebut adalah  menegaskan kepada segala warga negara dan penduduk negara serta dunia luar, bahwa sesungguhnya seorang manusia tak akan dapat memulai kehidupannya menuju kebajikan dan keutamaan, kalau ia belum dapat menyadarkan dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi kata Natsir, di mata seorang muslim Pancasila bukanlah barang asing yang berlawanan dengan ajaran Al-Qur'an. Dalam pandangan beliau Pancasila itu mengandung tujuan-tujuan Islam  tetapi Pancasila itu bukanlah berarti islam.

Dan beliau sangat yakin bahwa di dalam iklim Islam-lah Pancasila itu akan hidup subur. Sebab kata beliau, iman atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu tidak dapat ditumbuhkan dengan semata-mata hanya mencantumkan kata-kata dan istilah Ketuhanan Yang Maha Esa itu saja di dalam perumusan Pancasila.

Oleh karena itu kata Nasir, apabila sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu hanya sekedar buah bibir saja, maka itu berarti urat tunggal bagi sila berikutnya sudah tumbang.

Dan akibatnya tentu saja seluruh sila-sila yang lainnya akan hampa dan tidak mempunyai bentuk yang jelas, sehingga yang tinggal adalah hanya kerangka dari Pancasila tersebut, sehingga mudah sekali dipergunakan untuk penutup tiap-tiap langkah perbuatan yang tanpa sila dan tidak berkesusilaan sama sekali.

Untuk itu, Natsir mengharapkan  supaya Pancasila tidaklah diisi dengan ajaran yang menentang-nentang kepada Al-Qur'an yang sudah semenjak berabad-abad  telah menjadi darah daging bagi sebagian terbesar dari bangsa kita ini.

Dan di samping itu, janganlah pula ia dipergunakan untuk menentang  terlaksananya kaidah-kaidah dan ajaran yang termaktub dalam Al-Qur'an itu. Karena Al-Qur'an itu, bagi orang Islam, adalah induk dari semua sila yang ada dalam Pancasila tersebut. Dan dia merupakan pedoman hidup bagi umat islam yang isinya ingin mereka sumbangkan kepada pembinaan bangsa dan negara.

Penulis merupakan pengamat sosial ekonomi dan keagamaan  yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI
Anwar Abbas
EDITOR: AHMAD SATRYO

ARTIKEL LAINNYA