Farah.ID
Farah.ID

Felicia Ethics, Tanggapan Untuk Dahlan Iskan

OLEH: YELAS KAPARINO
  • Minggu, 30 Mei 2021, 14:49 WIB
Felicia Ethics, Tanggapan Untuk Dahlan Iskan
Felicia Tissue dan Kaesang Pangarep/Net
DAHLAN Iskan (DI) baru saja membahas isu terkait hubungan retak Felicia Tissue dan Kaesang Pangarep dalam judul "Batin Felicia". DI menyoroti: 1) isu ini adalah ranah komunikasi, 2) ada gap budaya antara Felicia yang terbuka versus Kaesang yang tertutup, 3) DI menganggap ini adalah urusan pribadi,, untuk apa melibatkan Jokowi. 4) Untuk apa Felicia mengaitkan dengan Filosofi Negara Pancasila. 5) Perlu penyelesaian dari Kaesang agat batin Felicia tenang.

Jika DI sudah membahas isu ini, maka ini bukan lagi sekedar isu biasa. Memang sesungguhnya ini bukan soal biasa. Sebuah media yang memposting wawancara Felicia di YouTube, mendapatkan view sebanyak 2 juta, dengan 38 ribu like dan 20 ribu komentar yang mendoakan Felicia.

Ada juga media online terkemuka dengan komentar sekitar 600 an, semuanya menghujat Felicia. Semakin tak biasa karena isu telah berkembang dari sekedar  melodrama para selebritis yang kebanyakan sensasional menjadi isu etika (Ethics).

Ketika etika dikaitkan dengan konsep "perjuangan keluarga", rasisme  dan lalu Pancasila, maka pembahasan ini mungkin sudah berkembang menjadi kajian etika (moral philosophy).

Felicia sendiri memang menekankan persoalannya adalah persoalan etika. DI boleh melihatnya sebagai persoalan komunikasi. Dua hal ini tentu berbeda. Komunikasi adalah persoalan penyampaian informasi, meski ada peran etika di dalamnya.

Masalah etika adalah masalah benar dan salah maupun baik dan buruk. Masalah etika dalam kajian filosofis menyangkut 3 dataran, yakni metaethics, normative dan applied Ethics. Meta artinya pada kajian filosofis, seperti yang dilakukan Plato dan David Hume. Sesungguhnya ini terlalu mengawang-awang pada persoalan hubungan retak Felicia dan Kaesang.

Seharusnya pembahasan etik hanya berada pada dataran normatif, seperti kaitan apakah kelakuan Kaesang meninggalkan Felicia tanpa pesan optimal, sesuatu yang buruk? Sayangnya Felicia membawa Pancasila sebagai referensi moral. Sayangnya Felicia membawa standar moral presiden dan keluarganya. Begitu juga ketika dia mengaitkan Gus Dur sebagai referensi.

DI menyinggung soal budaya. Ketika terkait budaya maka pembicaraan mengenai norma bukan lagi persoalan individual, melaikan sosial. Bukan soal antara Felicia yang terbuka versus Kaesang yang tertutup.

Felicia memang menunjukkan pertarungan atau pertahanan dirinya adalah masalah keluarga. Dia mengatakan bahwa ibunya, abangnya, dan bahkan neneknya merupakan front besar dalam perlindungan dirinya. Konsep keluarga bukan saja milik orang Tionghoa, melainkan umumnya Asia. Felicia cantik dan terdidik, berkelas dunia. Dia menunjukkan diri sebagai "a family oriented girl". Bukan perempuan liar dan murahan. Dari sisi ini dia ingin juga menunjukkan tingkat kesuciannya.

Apakah hubungan mereka sebatas pribadi? DI menyebutkan dirinya sendiri sebagai manusia gagap medsos. Padahal di era medsos istilah pribadi bisa bergeser menjadi domain publik ketika hubungan antara personal sudah "over expose". Ditambah lagi selama beberapa tahun foto-foto yang dipublikasikan sudah melibatkan dua keluarga, yakni foto Felicia di lingkungan keluarga Jokowi maupun foto Kaesang di keluarga Felicia.

Dengan begitu, adalah hak Felicia melibatkan keluarga dalam mempersoalkan etika penyelesaian hubungan mereka. DI menyetir budaya "datang tampak depan, pergi tampak belakang". Apa yang disitir DI ini disebut dalam wilayah "normative Ethics". Orang barat dulu menyebutnya "gentleman", laki-laki berkarakter baik. Asal kata itu kabarnya dari Prancis. Tapi faktanya Napoleon Bonaparte sering melakukan pre-emptive strike, menyerang sepihak, ke Inggris dan Rusia, alias tidak berkarakter baik.

Felicia telah menuduh Kaesang dan orang tuanya tidak beretika. Keterlaluan menurut DI, tapi sesungguhnya sah menurut konsep keluarga, baik bagi orang Tionghoa maupun Indonesia. Lalu bagaimana dengan filosofi negara kita Pancasila?

DI tidak setuju Pancasila dikaitkan. Namun, Felicia yang besar di Singapura, mungkin melihat atau mengetahui Kaesang  dan keluarganya adalah representasi bangsa, baik dalam budaya maupun etik. Tentu karena menyangkut orang nomer satu di Indonesia. Jokowi sendiri, diberitakan, beberapa waktu lalu memerintahkan Menteri PUPR ke Solo untuk membangun Pusat Kebudayaan Jawa. Tentu etika keluarga Jokowi terkait dengan moralitas Pancasila.

Felicia mempersoalkan etika seperti ingkar janji, tidak menjawab surat, pergi tanpa pesan tidak sesuai dengan Pancasila. Pancasila menurutnya haruslah mengajarkan moral yang baik.

Dengan mengaitkan Pancasila, Felicia tentu membenturkan ajaran filosofi Bangsa dengan kelakuan netizen yang menyerangnya dengan rasisme. Masyarakat kita memang perlu refleksi diri. Beberapa waktu lalu antara kita sendiri ada yang suka mengolok-olok orang suku tertentu mirip Gorilla. Jadi memang batas-batas (Boundaries) moralitas masyarakat kita perlu refleksi, secara umum, bukan personal.

Terakhir DI menyetujui agar Kaesang menyelesaikan urusan ini dengan Felicia. Niatnya agar Felicia tenang. Tapi, karena front persoalan sudah meluas, mungkin urusan ini harus diselesaikan Kaesang dan juga orang tuanya.

Pertama, untuk menunjukkan konsep "family" memang diakui sebagai landasan moral bangsa kita. Kedua, perlu meluruskan bahwa Pancasila itu mempunyai konsep moral Ethics, agar tetangga kita di Singapura faham tentang moralitas kita. Ketiga tentu sesuai bayangan DI, agar hati seorang wanita Felicia tenang.

Artikel di atas adalah pandangan pribadi, tidak mewakili organisasi.

ARTIKEL LAINNYA