Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

In Memoriam KRI Nanggala-402, Panglima TNI, KSAL Dan Kapolri Juga Manusia

OLEH: MEGA SIMARMATA
  • Senin, 26 April 2021, 22:58 WIB
In Memoriam KRI Nanggala-402, Panglima TNI, KSAL Dan Kapolri Juga Manusia
Dari kiri KSAL Laksamana Yudo Margono, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo/Ist
SETELAH hampir sepekan berada di Bali, hari Senin (26/4) ini Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kembali ke Jakarta.

Itupun karena kedua Jenderal ini dipanggil oleh Presiden Joko Widodo.

Tidak jelas, apakah hari ini KSAL Laksamana Yudo Margono juga ikut kembali ke Jakarta bersama Panglima TNI dan Kapolri.

Tapi tampaknya (dan memang sebaiknya), KSAL masih harus "stay" di Bali memimpin langsung proses evakuasi terhadap 53 Prajurit Hiu Kencana TNI AL yang subsunk atau tenggelam bersama KRI Nanggala-402.

Satu hal yang menarik untuk disimak dari apa yang terjadi di Bali sepanjang ketiga Jenderal ini berada di Bali.

Panglima TNI terutama, KSAL dan Kapolri.

Mengapa baru hari ke 4 setelah pencarian, Panglima TNI mengumumkan bahwa ke 53 Prajurit Hiu Kencana TNI AL gugur dalam peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402?

Panglima TNI mengumumkan ke 53 orang Prajurit Hiu Kencana TNI AL dinyatakan gugur dalam tugas pada hari Minggu sore, 25 April 2021.

Padahal dalam konferensi pers sebelumnya, KSAL sudah menyatakan bahwa stok ketersediaan oksigen didalam KRI Nanggala-402 hanya sampai Sabtu, 24 April 2021 jam 03.00 WITA.

Sebab, sama seperti jutaan rakyat Indonesia, Panglima TNI dan KSAL menyimpan harapan besar bahwa ada keajaiban yang membuat para prajurit itu selamat.

Tapi sebesar harapan dari Panglima TNI dan KSAL, kedua Perwira Tinggi ini dipaksa oleh keadaan untuk menerima kenyataan setelah kapal milik Militer Singapura dilibatkan dalam pencarian KRI Nanggala-402.

Kapal milik Militer Singapura itu bernama MV Swift Rescue.

Kapal inilah yang berhasil mengambil gambar bagian KRI Nanggala-402 yang kondisinya sudah terbelah 3 bagian di kedalaman 838 meter di laut Bali Utara.

Setelah melihat fakta ini, didukung bukti-bukti fisik yang diperoleh TNI berupa serpihan-serpihan KRI Nanggala-402, barulah di hari 4 Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memutuskan untuk mengumumkan ke 53 Prajurit Hiu Kencana TNI AL telah gugur dalam tugas mereka di Laut Bali.

Sehari sebelumnya, dalam konferensi pers di hari Sabtu sore, 24 April 2021, saat mengumumkan bahwa KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam dan resmi dinyatakan on eternal patrol atau patroli selamanya, tanpa pernah kembali ke Pangkalan.

Hadi Tjahjanto menangis ...

Kesedihan yang sama tampak jelas dalam diri KSAL dan Kapolri.

Bintang mereka boleh saja 4 tapi hati mereka tak bisa menutupi betapa berat dan betapa sedihnya kehilangan prajurit-prajurit terbaik seperti ke 53 orang di dalam KRI Nanggala 402.

Hadi Tjahjanto dan KSAL berjuang mati-matian mencari tahu di mana dan bagaimana keberadaan prajurit-prajurit mereka di Laut Bali.

Itu juga sebabnya, di hari pertama pencarian TNI sudah langsung meminta pertolongan Singapura.

Sebab Singapura adalah negara tetangga terdekat dengan Indonesia.

Dan Singapura memiliki MV Swift Rescue.

Baik Panglima TNI maupun KSAL, tampaknya sudah mengukur diri bahwa jika pada satu titik, TNI tak bisa mendeteksi keberadaan KRI Nanggala-402 di dasar laut Bali maka dibutuhkan kapal canggih yang memiliki kemampuan teknologi tinggi sekelas Kapal MV Swift Rescue.

Perjalanan dari perairan Singapura ke Bali, membutuhkan waktu 3 hari.

Sehingga baru di hari ke 4, gugurnya ke 53 Prajurit Hiu Kencana di dalam KRI Nanggala-402 bisa di konformasi.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun menunjukkan kesetiaan yang luar biasa hebat mendampingi Panglima TNI dan KSAL.

Ketika di akhir pekan lalu seorang sahabatnya menghubungi Jenderal Listyo, mengapa ia belum pulang juga ke Jakarta?

Jenderal Listyo menjawab, "Saya harus menemani Pak Panglima. Kasihan. TNI dan Polri harus saling tolong menolong".

Sehingga dalam 4 hari misi pencarian di Bali, Kapolri selalu ada di sisi Panglima TNI dan KSAL.

Tak cuma mendampingi saja, Kapolri pun memerintahkan pendirian 2 posko untuk membantu TNI AL dalam proses evakuasi terhadap seluruh korban.

"Ada dua posko SAR Polri yang didirikan. Pertama di Celukan Bawang Kabupaten Buleleng dan kedua Pelabuhan Banyuwangi," ujar Listyo dalam siaran persnya, Minggu (25/4).

Dikatakan Listyo, sebanyak 331 personel kepolisian dengan rincian 265 jajaran Polda Jawa Timur dan 66 personel dari Polda Bali dikerahkan dalam membantu upaya proses evakuasi.

"Personel tersebut berisi tim DVI (Disaster Victim Identification), Brimob, Polair, Polres, dan tim trauma healing," ungkap Kapolri.

Listyo menyampaikan, dua awak KRI Nanggala masih merupakan keluarga besar Polri yakni, Letkol Laut (P) Heri Octavian yang merupakan putra dari seorang purnawirawan Kompol Imron Haki.

Kemudian, Letda Rhesa Tri Utomo S.Tr (Han) adalah adik sepupu dari AKP Maria SN Manafe yang beralamat di Sidoarjo, Jawa Timur.

"Polri akan memberikan dukungan baik moril atau materil kepada leluarga awak kapal selam Nanggala 402," kata Kapolri.

Jadi, yang bisa disimpulkan di sini, setinggi apapun pangkat, para perwira tinggi sekelas Panglima TNI, KASAL dan Kapolri, mereka tetap manusia biasa.

Yang menangis saat kehilangan prajurit terbaik mereka.

Yang terbenam dalam kesedihan saat tragedi sepilu ini menimpa TNI Angkatan Laut.

Yang tergugah rasa di hatinya untuk bertahan mendampingi mitra kerjanya yang sedang dirundung malang.

Ibarat lagu lama yang dinyanyikan Seurieus, Rocker Juga Manusia, ada sepenggal liriknya yang cocok untuk menggambarkan situasi ini.

Panglima TNI, KSAL dan Kapolri ...
Juga manusia
Punya rasa
Punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati


Selamat Jalan Pahlawan Bangsa, ke-53 Prajurit Hiu Kencana TNI Angkatan Laut.

On eternal patrol ...

Berpatrolilah selamanya KRI Nanggala-402, tanpa kalian harus kembali ke Pangkalan.

Karena kami tahu, ke mana kalian pergi berlayar.

Ke keabadian surga ...

ARTIKEL LAINNYA