Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

'Revolusi Air' Habib Keramat Cikini

Jumat, 19 Januari 2018, 19:12 WIB
'Revolusi Air' Habib Keramat Cikini
Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Cikini/net
"DIINTIMIDASI, diteror dan dibunuh. Semua itu adalah warisan salaf (orang terdahulu) kita. Kita tidak bisa lari dari kenyataan itu." Itulah kalimat yang terlontarkan dari lisan Habib Muhammad Amin Al Habsyi, Jumat 19 Januari 2018, yang selalu menyebut dirinya sebagai "Khodimul Maqom" yang artinya pelayan makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Cikini yang wafat pada 1879.

Sengaja memilih kata pelayan dari pada "Sohibul Maqom" yang artinya pemilik makam, karena beliau ingin melayani penuh para peziarah kakeknya, Habib Abdurrahman Al Habsyi. Habib Muhdhor Alatas yang selalu mendampingi Habib Amin, sambil rendah hati, mengatakan, "Kita di sini bukan lah orang yang dituju. Masyarakat dari berbagai lapisan datang untuk Habib Abdurrahman Al Habsyi. Sedangkan kita tidak lebih dari pelayan yang berusaha merawat makam ini semaksimal mungkin  hingga peziarah merasa nyaman serasa di rumah sendiri."

Sohibul Cikini

Kata-kata yang mengawali tulisan ini bukan sekedar nasehat isapan jempol, karena Habib Amin telah buktikan apa yang disampaikannya saat mempertaruhkan jiwanya dalam rangka mempertahankan upaya pemindahan paksa pengembang apartemen Cempaka Wewenang Jaya (CWG)terhadap makam Habib Abdurrahman Al Habsyi yang dikenal dengan sebutan "Sohibul Cikini" yang artinya pemilik wilayah Cikini. Sekarang CWG telah diakuisisi oleh Menteng Park.  Tak dapat dipungkiri bahwa Habib Abdurrahman dan iparnya, Raden Saleh yang juga seorang Habib (keturunan Nabi Saw) dari garis marga Bin Yahya, dikenal sebagai penguasa tanah di kawasan Cikini dan sekitarnya sehingga disebut sebagai Sohibul Cikini atau pemilik kawasan Cikini. Karena itu, nama Raden Saleh diabadikan menjadi nama jalan utama di kawasan Cikini. Rumah Sakit PGI Cikini yang terletak di Jalan Raden Saleh no 40 tercatat dalam cagar budaya sebagai rumah pribadi Raden Saleh yang bergariskan keturunan Arab. Makam di samping Habib Abdurrahman Al Habsyi di makam keramat Cikini bernama Syarifah Ruqoyah bintu Husein Bin Yahya yang berstatus sebagai saudara perempuan Raden Saleh yang juga istri Habib Abdurrahman Al Habsyi. Kedua tokoh bergariskan keturunan Nabi Muhammad Saw sangat disegani oleh kolonial Belanda saat itu. Bahkan Habib Abdurrahman Al Habsyi dikenal sebagai panglima Arab yang selalu melindungi rakyat Indonesia dari penjajahan dan penindasan berkelanjutan kolonial Belanda. Sangat miris sekali pemilik wilayah nyaris tersingkir dari lahannya sendiri setelah ia tak berdaya di dalam kuburan hanya karena kepentingan komersial pihak tertentu. Itulah nasib Habib Abdurrahman Sohibul Cikini yang konon hampir semua wilayah Cikini termasuk Taman Ismail Marzuki adalah tanah miliknya yang dihibahkan untuk negara dan difungsikan sebagai  sarana publik.

Pengertian Sohibul Cikini juga seringkali dipahami sebagai kedudukan spritual dan derajat kewalian Habib Abdurrahman Al Habsyi. Kewalian beliau terwariskan kepada almarhum Habib Ali Al Habsyi Kwitang yang dalam sejarah terbukti sebagai sosok yang berperan mendorong kemerdekaan Indonesia. Sebelum proklamasi, Soekarno selama berminggu-minggu menyembunyikan diri di rumah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Konon, spritual dan pendidikan agama Soekarno didapat dari Habib Ali Kwitang. Habib Ali Kwitang juga melahirkan keturunan yang mumpuni secara keilmuan dan spiritual, almarhum Habib Abdurrahman bin Habib Ali Kwitang bin Habib Abdurrahman Cikini yang haul atau peringatan kematiannya ke 78 akan digelar pada hari Sabtu, tanggal 20 Januari 2018 di Makam Keramat Cikini. Hingga kini, Habib Abdurrahman Al Habsyi  Sohibul Cikini mewarisi generasi-generasi mumpuni yang di antaranya adalah Habib Abdurrahman bin Habib Muhammmad bin Habib Ali Al Habsyi Kwitang yang baru meninggal berapa hari lalu pada tanggal 15 Januari 2018. Ribuan peziarah yang memadati pemakaman Habib Abdurrahman Al Habsyi Kwitang sebagai cicit Habib Abdurrahman Sohibul Cikini membuktikan bahwa kedudukan spritual keluarga besar Habib Abdurrahman Sohibul Cikini dan putranya Habib Ali Kwitang, hingga kini belum pudar. Tidaklah heran bila keluarga besar Habib Abdurrahman Sohibul Cikini diyakini sebagai paku bumi Jakarta, ibukota Indonesia.

Pemindahan Makam Keramat Cikini

Posisi Sohibul Cikini pada Habib Abdurrahman Al Habsyi baik dari sisi wilayah dan keramat, ternyata tidak dipahami oleh pengembang  CWG yang terkait dengan konglomerasi Taipan. Pengembang yang membangun lahan 1,6 hektar di Cikini merasa terganggu dengan keberadaan makam Waliyullah Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi. Karena itu, pengembang berniat memindahkan makam ke bantaran sungai. Pada bulan Juli 2010, pengembang berupaya memindahkan makam dengan memasang plat besi mengelilingi makam  keramat Habib Abdurrahman Al Habsyi dan istrinya Syarifah Ruqoyah Bin Yahya. Pengembang berharap dapat mengangkut makam seperti pohon dengan memasang pot dulu baru memindahkannya. Tapi upaya itu gagal total setelah alat pengangkatnya tak berhasil mengangkut. Dikabarkan pula, sempat diganti alat berat lainnya yang kapasitasnya lebih kuat, tapi lagi-lagi tak berhasil. Padahal kapasitas makam yang sudah dipasang plat hanya seberat 16 ton, sedangkan kapasitas pengangkutnya 80 ton. Menurut logika, makam yang sudah terpasang plat mudah terangkat, tapi faktanya tidak demikian.

Yang lebih menakjubkan lagi, sumber air keluar dari sekitar makam. Menurut Habib Amin,  ada 33 titik sumber air yang tiba-tiba muncul di sekitar area makam. Angka 33 mengingatkan ayat 33 pada surat Al Ahzab yang menegaskan kesucian Ahlul Bait atau keluarga Nabi Saw; "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Akhirnya upaya pemindahan pun ditunda melihat reaksi alam yang tak wajar. Bisa jadi kalau pihak pengembang tetap bersikeras memindahkan makam, kasus lumpur Sidorarjo bisa jadi akan terulang kembali.

Bukan saja reaksi alam saja, tapi juga reaksi ummat pun mulai bergeliat. Habib Amin mengambil kendali sebagai pemimpin perlawanan terhadap konglomerasi Taipan yang merendahkan makam Waliyullah Habib Abdurrahman Al Habsyi. Ummat datang di lokasi dan ambil-alih wilayah makam keramat. Habib Amin ketika menginspeksi makam yang dibongkar pengembang, melihat sebuah jenazah utuh yang sudah diletakkan di peti terbuat kayu triplek tebal. Peti itu tergeletak di sekitar area. Ketika dibuka, peti itu penuh dengan tanah. Ternyata di balik tanah di peti tersebut ada sebuah jenazah yang masih utuh. Ketika melihat mayit utuh, Habib Amin konsultasi dengan Habib Abdul Qodir Al Hawi menanyakan apa yang harus dilakukan atas mayit utuh tersebut.  Habib Abdul Qodir meminta Habib Amin untuk mengubur kembali mayit tersebut tanpa membongkar petinya. Mulai saat itu,  makam mayit tanpa nama termasuk bagian dari makam keramat di Cikini. Posisi makamnya berada di samping makam Habib Abdurrahman Al Habsyi dan Hababah Ruqayah Bin Yahya. Banyak spekulasi terkait siapa mayit yang utuh tersebut. Tapi Habib Amin tak mau berspekulasi tentang siapa mayit tersebut. Karena itu, makamnya dibiarkan tanpa nama.

Dalam tradisi Islam, mayit yang dimakamkan bertahun-tahun tapi masih utuh, memiliki keramat tersendiri. Karena itu, Islam mengharamkan pemindahan makam seorang ulama atau pahlawan yang gugur syahid. Dengan demikian perlawanan Habib Amin yang juga didukung sejumlah habaib, ulama dan elemen masyarakat, punya landasan hukum syariat Islam yang kuat.

Aturan Pemerintah

Adapun menurut Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1987 Tentang Penyediaan dan Penggunaan Tanah Untuk Keperluan Tempat Pemakaman, makam keramat Habib Cikini dikategorikan sebagai tempat pemakaman khusus. Di samping Tempat Pemakaman Umum dan Tempat Pemakaman Bukan Umum  terdapat tempat-tempat pemakaman khusus yang mempunyai nilai sejarah dan budaya seperti pemakaman para wali (makam Wali Songo), raja-raja (Pemakaman Imegiri), tempat pemakaman para pahlawan dan pejuang bangsa (Taman Makam Pahlawan) serta tempat pemakaman perang Belanda di tujuh kota sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 30.

Dalam hal pemindahan lokasi tempat pemakaman yang ditentukan Pemerintah Daerah karena kepentingan aspek perkotaan maupun dengan alasan tidak sesuai lagi dengan Rencana Pembangunan Kota, maka penetapan pemindahan lokasi bagi Tempat Pemakaman Umum harus terlebih dahulu mendapat persetujuan DPRD setempat dan pengesahan dari Menteri Dalam Negeri, sedangkan bagi Tempat Pemakaman Bukan Umum dengan Keputusan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat 11 dan disahkan Menteri Dalam Negeri. Pemanfaatan tanah bekas lokasi tempat pemakaman tersebut ditekankan untuk keperluan sosial dan/atau keagamaan atau kepentingan umum lainnya seperti pembangunan Kantor Pemerintah.

Karena itu sangat miris sekali, makam keramat Habib Abdurrahman Al Habsyi yang harus dijaga dan dirawat oleh negara, malah dihancurkan untuk kepentingan komersial. Secara aturan agama dan negara, pemindahan makam keramat yang dikategorikan pemakaman khusus tidak dibenarkan. Yang lebih menyakitkan lagi, pemindahan makam keramat dilakukan hanya untuk pembangunan sebuah apartemen komersial yang menguntungkan segelintir orang saja. Dengan demikian, pemindahan makam keramat mendapat reaksi keras dari masyarakat luas. Tidak ada jalan lain, makam itu harus dipertahankan. Alhamdulillah, makam keramat Habib Cikini hingga kini masih ada bahkan dibangun tempat ziarah yang megah seperti masjid sehingga para peziarah merasa nyaman berziarah dan berdoa di sisi makam waliyullah.

Habib Muhammad Amin Al Habsyi

Di antara keturunan Habib Abdurrahman Sohibul Cikini adalah Habib Muhammad Amin yang saat ini memposisikan diri sebagai pelayan makam keramat (baca; khodimul maqom). Saat pengembang ingin memindahkan makam Habib Cikini, Habib Amin termasuk pihak yang diintimidasi dan diteror tapi beliau tak bergeming untuk terus pertahankan makam keramat Cikini dari upaya pemindahan sepihak.

Disebut-sebut pula, Habib Amin sempat mau disuap dengan nilai 40 milyar rupiah, rumah di Pondok Indah dan mobil mewah berikut perawatannya, tapi lagi-lagi beliau menolak tawaran tersebut. Bahkan Habib Amin yang berhadap-hadapan langsung dengan AY, negosiator yang ditunjuk langsung oleh pihak pengembang, sempat menantang balik untuk membeli lahan pengembang berikut keuntungannya. Tantangan itu disampaikan Habib Amin kepada KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) saat itu, George Toisutta yang kemudian disambungkan ke pihak pengembang. Tentu tantangan Habib Amin membuat pengembang berpikir dua kali untuk membogkar makam dan memindahkannya ke tempat lain.

Kegigihan Habib Amin didukung penuh kekuatan ummat. Terkait keberanian dan kegigihan Habib Amin, Imam Besar Habib Rizieq Shahab di hadapan para anggota Front Pembela Islam (FPI) memuji perjuangan Habib Amin yang berhadap-hadapan langsung dengan Taipan saat mempertahankan makam keramat Habib Cikini dari upaya pemindahan sepihak. Kegigihan Habib Amin dan para pendukungnya akhirnya membuahkan hasil. Hampir dua tahun tarik-ulur dengan pihak pengembang akhirnya burujung pada kesepakatan bersama.

Sebelum menandatangani kesepakatan, Habib Amin sempat mengucapkan sumpah kematian bila ada kecurangan dan upaya licik dari kesepakatan tersebut. Habib Amin sendiri menyadari bahwa dirinya berpotensi dikelabui pihak-pihak pengembang. Sumpahnya ternyata manjur tidak lama setelah kesepakatan AY, negosiator pemindahan makam, tidak lama kemudian jatuh sakit. Tiga bulan setelah kesepakatan, AY jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia.

Revolusi Air

Yang lebih menakjubkan lagi, setelah kesepakatan ditandatangani, air yang terus mengalir berhenti. Meski demikian, air sumber kini mengairi secara normal yang sudah bisa diakses peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri dan luar negeri. Air sumber makam keramat Habib Cikini terbukti menyembuhkan banyak orang yang sakit. Orang yang buta tiba-tiba bisa lihat. Orang yang lumpuh tiba-tiba bisa jalan. Orang yang lama tak punya anak setelah menikah tapi setelah minum air keramat di makam Habib Cikini akhirnya mengandung. Ribuan kejadian tak wajar terjadi di makam keramat Habib Cikini baik terekspos maupun tidak.

Menariknya juga, bukan hanya muslim yang ziarah ke makam keramat Habib Cikini dan ambil air keramatnya. Bahkan pernah juga seorang non muslim berketurunan Cina mendapat kesembuhan total. Anaknya yang tak bisa jalan tiba-tiba bisa jalan. Habib Amin sendiri mempersilahkan siapapun tanpa melihat latar belakang agama untuk berziarah ke makam keramat Habib Cikini dan menjadi tamu Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi.

Air keramat Habib Cikini  telah menjadi simbol perlawanan terhadap kerakusan konglomerasi Taipan. Tidak berlebihan bila reaksi alam di makam keramat Habib  Cikini disebut sebagai "Revolusi Air". Karena itu, masyarakat tergerak melawan upaya pemindahan makam keramat oleh sekelompok pihak yang lebih mementingkan materi dari sejarah bangsa yang terekam dalam makam. Makam itu rekam jejak sejarah. Penghormatan pada makam sama halnya dengan penghormatan pada sejarah. Bung Karno dalam pernyataannya yang terkenal mengatakan, "Jangan pernah tinggalkan sejarah." Al Quran sendiri menyebut pahlawan dan ulama sejati yang berjuang di jalan Allah tidak pernah mati. Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 169 berfirman, "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki". [***]

Alireza Alatas
Pembela ulama dan NKRI/Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (SILABNA) 
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA